09.11.2010 18:44:16 WIB
Meski dengan persiapan “kejar tayang” Teater Tubun SMA Negeri 15 Palembang menyatakan sedang menyiapkan naskah drama panggung “Pulau Terakhir” karya Tunggal Pamungkas.
“Alhamdulillah, sampai hari ini Teater Tubun lebih banyak mengangkat naskah-naskah dari penulis Palembang. Ini sengaja kami lakukan untuk mennujkkan kalau sebenarnya kita juga mampu berbiat yang terbaik, tidak selalu mengandalkan naskah dari luar Kota Palembang. Bahkan sekali-kali kita juga mengangkat naskah yang ditulis oleh anak-anak Teater Tubun. Ini potensi yang mesti kita kembangkan di Teater Tubun. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melakukan kaderisasi?” kata Yondi Aoudyto, Ketua Teater Tubun SMA Negeri 15 Palembang.
Yondi yang sekaligus sekaligus sutradara drama ini menyatakan, persiapan timnya sampai hari ini masih dalam tahap pematangan karakter pemain dan bloking panggung. Menurut Yondi dua hal ini nantinya sangat penting untuk dinamisasi dalam permainan, sehingga diharapkan dapat tampil dengan baik. Tetapi dalam pementasan ini, Yondi menyebutkan Teater Tubun mengedepankan setting panggung yang sederhana. Dalam penggemblengan naskah ini, Yondi mengaku dibina oleh Imron Supriyadi, salah Direktur Program Lembaga Kebudayaan Venesia dari Timur, satu pelaku seni sastra dan teater di Palembang. Selain itu, Yodni menyebutkan, aalam pementasan ini kami membuat setting panggung dengan desain minimalis. Intinya, setting yang akan kami usung keatas panggung paling tidak mewakili warna sebuah pulau, yang merupakan pos pasukan Indonesia yang sedang mempertahankan negeri ini,” tegas Yondi.
Lebih lanjut, Yondi menegaskan, pementasan ini dipersiapkan untuk mengikuti Festival Teater di Graha Jaka Baring Palembang 13-14 November 2010, yang diselenggarakan Teater Lawas Universitas PGRI Palembang. Yondi mengharapkan, keseriusan kawan-kawan Teater Tubun bisa meraih hasil maksimal, meski latihannya juga harus menyita banyak waktu, apalagi sejumlah pemain harus membagi waktu latihan dan sekolah. “Jadi, bagi yang sekolah, kami buat dispensasi supaya latihannya juga tenang dan tidak merasa meninggalkan kelas tanpa izin,” tegasnya.
Bertutur tentang muatan cerita, Yondi menyebutkan, naskah “Pulau Terakhir” ini menitikberatkan pada pesan nasionalisme. Kisahnya, pasukan Indonesia sedang dalam keadaan terdesak. Dan satu-satunya pertahanan yang dimiliki hanya sebuah pulau. Disitulah terjadi tarik ulur dua kepentingan antara bebas dari cengkeraman penjajah, atau bebas dan melepas pulau dengan catatan tunduk pada penjajah. Tokoh Ardani dan Dewi sebagai sosok militan pasukan Indonesia berkeras mempertahankan pulau untuk tidak melepas pulau kepada penjajah. Sementara Hardi, sebagai tokoh antagonis mencoba mempengaruhi kedua temannya agar menuruti melepas pulau. Sebagai kekasih Dewi, Hardi kemudian merayu Dewi agar bisa mempengaruhi Ardani untuk melepas pulau dan bebas dari tekanan asing. Tetapi niat Hardi berbalik menjadi bumerang bagi dirinya. Dewi justeru menyalahkan sikap Hardi. Kecurigaan Ardani dan Dewi terhadap Hardi terbukti, setelah Hardi menunjukkan kalau dirinya sudah mendapat uang dari pihak asing. Hardi telah berhianat.
Melihat itu, Ardani dan Dewi semakin kuat mempertahankan pulau. Sementara Hardi akan mengambil jalan lain dengan memanfaatkan perahu untuk menyeberang pulau dan lepas dari tekanan asing. Tetapi Ardani tidak kurang akal. Ardani memerintahkan Dewi dan Bondan, komandan lapangan untuk segera membakar perahu yang menjadi satu-satunya harta berharga untuk penyelamatan pasukan. “Tentang bagaimana akhir cerita ini, silakan nonton saja pada pementasan nanti. Kalau diceritakan sekarang tidak surprise, ini rahasia perusahaan,” katanya sambil tertawa.
