06.10.2010 21:38:44 WIB
HARAPAN Gubernur Sumsel Alex Noerdin SH agar produksi batubara PT Bukit Asam (PTBA) ditingkatkan dari 12 juta ton per 0tahun menjadi 100 juta ton per tahun, sepertinya bakal terwujud. Eksploitasi produksi 100 juta ton per tahun itu bisa dicapai dengan dua jalur angkutan, pertama melalui Jalur Kereta Api menuju Pelabuhan Tanjung Api-Api dan melalui Lampung.
Dirut PT Bukit Asam Soekrisno, menjelaskannya seusai acara pemancangan tiang pertama pembangunan venue tenis di Jakabaring, Palembang, Rabu (06/10/2010), produksi batubara di tahun 2014 sebanyak 50 juta ton/tahun dari 12 juta ton per tahun yang selama ini berjalan karena terkendala sarana dan fasilitas angkutan.
Terkait pembangunan jalur KA double track dari Tanjungenim ke kawasan Tanjung Api-Api (TAA) sepanjang 270 kilometer yang diprediksi selesai 2014. Secara tehnis baru bisa dilakukan secara bertahap.
Misalnya, untuk tahun pertama angkutan batubara ke TAA baru sebatas 7,5 juta ton/tahun, di tahun kedua angkutan ditingkatkan menjadi 15 juta ton/tahun dan tahun ketiga ditingkatkan menjadi 50 juta ton/tahun.
Selain itu, angkutan batubara untuk di 2014 dari Tanjungenim ke Kertapati menjadi 21,7 juta ton/tahun, dan ke Lampung 25 juta/tahun. Dengan dukungan sarana transportasi itu, maka di 2018 mendatang menjadi target produksi 100 juta ton/tahun menjadi kenyataan. Selain itu, di 2015 ditargetkan PTBA Emas dengan produksi yang maksimal.
"Kalau dahulu, PTBA sebagai BUMN berada di posisi atas perusahaan batubara. Tapi saat ini, PTBA berada diututan ke tujuh. Peringkat satu smapai enam, semuanya swasta," kata Sukrisno.
Kandungan batubara di bumi Tanjungenim mencapai 7,3 milliar ton dengan produksi cadangan dua milliar ton. Potensi terbesar berada di unit pemasaran Tanjung Enim yakni 6,4 milliar ton dengan cadangan mencakup 1,6 milliar ton. Kendala di lapangan, yakni masih ada. Utamanya kondisi angkutan dengan menggunakan kareta api (KA) dan angkutan lainnya.
Sementara Gubernur Sumsel Ir H Alex Noerdin mendukung apa yang dikerjakan PTBA. Seperti program CSR karena diantara BUMN, PTBA yang paling besar menganggarkan dana CSR.
"Bayangkan, jika PTBA bisa prosuksi 100 juta ton pertahun, maka konrtibusi bagi masyarakat akan lebih besar. Produksi 12 juta ton per tahun saja sudah besar," katanya.
Menurut Alex, kenapa ia begitu mendorong percepatan eksploitasi batubara di Sumsel, yang memiliki cadangan terbesar di Indonesia. Bahkan, gara-gara masalah transportasi, Sumsel kalah dengan Kalimantan yang melakukan eksploitasi batubaranya. Dikatakan, dalam kurun waktu 20 tahun kedepan, kemungkinan besar batubara tidak akan memiliki harga lagi karena saat ini sudah ditemukan sumber energi alternatif berupa gas metan yang ada di perut bumi. Di Rantau Dedak, Muaraenim sudah ditemukan cadangan gas metan terbesar kedua dunia.
"Kalau gas ini sudah dieksploitasi, maka batubara tidak memiliki harga lagi," katanya.
Untuk itu, ungkap Alex Noerdin, eksploitasi batubara kapasitas besar harus dilakukan sekarang dan pemerintah Sumsel membangunan sarana transportasi double track menuju TAA. "Sekarang sedang pembangunan dan insya'allah akan selesai tiga tahun kedepan," katanya.
