Internasional

Setrika Payudara, Lindungi Putrimu

coba

08.10.2011 19:45:31 WIB

Oleh Eva Fernández Ortiz * - IPS/Street News Service


INGGRIS (IPS) – “YA Tuhan, buatlah payudara saya hilang.” Joyce Forghab berdoa setiap malam dengan untaian kata yang sama selama sebulan dia menderita karena payudaranya disetrika. Praktik mengejutkan ini, dilakukan seperempat ibu-ibu di Kamerun, bertujuan membalikkan perkembangan seksual perempuan.

Joyce baru berusia 8 tahun ketika drama itu dimulai. Ibunya mengambil batu datar dan memanaskannya di atas api selama beberapa menit hingga membara. “Dia melindungi tangannya karena dia tahu itu sangatlah panas. Dia mengambil dan menekan batu panas itu ke payudara saya lantas memijat dengan sangat baik,” ujar Joyce mengenang, kini berumur 25 tahun. “Itu sangat, sangat menyakitkan. Saya lari dari rumah. Benar-benar mengerikan.”

Pengalaman Joyce bukanlah satu-satunya di Kamerun. Diperkirakan satu dari empat gadis mengalami praktik tersebut di masa kecil. Menyetrika payudara adalah ritual tradisional. Dengan menggunakan benda-benda datar dan panas, payudara gadis yang mulai tumbuh ditekan demi meratakan dan membalikkan pertumbuhannya. Tindakan ini biasanya dilakukan ibu atau bibi mereka.

Untuk menyetrika payudara, kebanyakan pakai alu kayu atau batu. Alat lainnya: tempurung kelapa, batu gerinda, sendok, centongan, dan palu. Semuanya secara hati-hati dipanaskan di atas bara api.

“Menyetrika payudara setua umur Kamerun,” kata Sinou Tchana, ginekolog dan wakil presiden Cameroonian Association of Female Doctors. Pada awal 1990-an, saat institusinya memulai keliling 10 daerah di Kamerun untuk cari tahu apakah praktik itu mempengaruhi seksualitas perempuan, mereka terkejut oleh lazimnya setrika payudara terjadi di sebagian wilayah negeri itu.

“Kami menjelaskan bahwa praktik itu buruk, tapi para ibu dan bibi bilang kepada kami bahwa hal itu normal bagi mereka, bahwa ketika payudara mulai mekar mereka harus menyetrika untuk menekan pertumbuhan. Mereka tidak mengerti bahaya dari apa yang mereka lakukan,” kata Dr. Tchanan, menjelaskan.



Meluas

Renata, sebuah asosiasi perempuan di Kamerun, melaporkan pada 2006 bahwa praktik menyetrika payudara sering terjadi di dua wilayah: daerah Pantai dengan tingkat 53 persen dan daerah Baratlaut 31 persen. Studi Renata juga menunjukkan praktik itu biasa dilakukan kalangan Kristen dan penganut Animisme di Selatan (30-50 persen) daripada Muslim di Utara (10 persen).

Meski menyetrika payudara merupakan praktik dengan sebaran luas di Kamerun, ia juga terjadi di Guinea-Bissau, Afrika Barat dan Tengah, termasuk Chad, Togo, Benin, dan Guinea-Conakry.

Dokter Tchana seringkali menemui korban dan pelaku praktik tersebut di kliniknya. Acapkali ibu-ibu itu tak sadar atas apa yang mereka lakukan terhadap putrinya. Dia mengenang seorang ibu datang setahun lalu dan meminta maaf:

“Maafkan saya, dokter. Saya tak menakar betapa sakitnya. Tapi saat tangan saya terbakar, saya menyadari seperti apa penderitaan putri saya menahan rasa sakit,” kata ibu itu menangis. Dia menyetrika payudara putrinya dan lengannya terbakar. Itulah mengapa dia datang ke dokter.

“Saat mereka mengambil batu dari tungku api, lalu mereka menyetrika satu payudara lebih dulu. Dalam kasus ini, si gadis benar-benar hancur. Satu payudaranya memang tak disetrika. Tapi hasilnya tetap sama. Kini salah satu payudara lebih kecil dari satunya,” kata Dr Tchana.

Praktik itu menyebabkan dua efek yang berlawanan terhadap payudara perempuan. Satu sisi, itu akan mengecilkan ukuran payudara secara dramatis, menyebabkan gadis-gadis itu berdada rata. Atau, menimbulkan reaksi sebaliknya: dengan menghancurkan jaringan payudara, payudara hanya menjadi kantong lemak tanpa otot atau bentuk. Inilah yang terjadi pada Joyce Forghab.

“Payudara saya kempis karena disetrika. Tak ada hubungannya dengan kelahiran, karena sebelum punya anak, saya sudah punya masalah. Saya tak bisa tanpa bra; saya membutuhkannya setiap saat, bahkan saat saya tidur atau menyusui bayi,” katanya.

Dr Tchana menjelaskan: “Payudara sangat kecil biasanya karena keluarga memakai ‘teknik yang benar’. Artinya batu tak terlalu panas dan kedua payudara disetrika secara merata. Sebaliknya, jika ‘teknik yang buruk’ dipakai –batu sangat panas dan menyetrika secara cepat– ukuran payudara menjadi sangat besar dan terbakar adalah konsekuensinya. Dalam banyak kasus, Anda punya masalah untuk mengembalikan bentuk payudara dan biayanya sangat mahal sehingga tak seorang pun sanggup membayarnya.”

Selain sangat menyakitkan dan meninggalkan trauma psikologis, menyetrika payudara mengakibatkan perempuan menghadapi beragam masalah kesehatan. Aneka laporan medis menyebutkan, praktik itu dapat menyebabkan bisul bernanah, gatal, ketidakmampuan menyusui bayi, infeksi, kelainan atau kehilangan payudara, kista, kerusakan jaringan, dan bahkan kanker.

“Saya punya seorang gadis yang meninggal karena kanker payudara pada umur 24 tahun. Anda bisa terkena kanker payudara, dalam kasus ini, karena menyetrika payudara kuat-kuat sehingga merusak seluruh jaringan payudara,” kata Dr. Tchana.



Mengapa?

Dengan semua bukti medis, mengapa seperempat ibu di Kamerun tetap melakukan praktik tersebut? Ze Jeanne, ibu 57 tahun dan 8 anak, mengatakan alasannya: “Saat payudara seorang gadis mulai mekar, para pria bisa mendatanginya dan mencoba untuk berhubungan seks dengannya. Demi membantu gadis-gadis itu tetap sekolah, kami harus menyetrika payudara.”

Ze duduk dengan tenang di kursi di rumahnya, 20 menit dari pusat kota Yaoundé. Putrinya, Clarisse, tiduran di sebuah sofa di sampingnya. Ze menceritakan bahwa dia menyetrika payudara semua putrinya yang tumbuh terlalu dini.

“Dalam kasusnya,” Ze menunjuk Clarisse, “payudaranya mulai mekar di usia 9 tahun, jadi saya harus menyetrikanya untuk menghentikan pertumbuhan. Saya tak menghancurkan payudaranya, tapi membantunya,” dia bersikeras.

Menyetrika payudara dibenarkan para perempuan Kamerun dengan banyak alasan. Selain alasan sejarah yang berakar dalam budaya mereka, praktik itu dilakukan untuk menghindari kontak seksual antara remaja putri dan lelaki. Dengan mencegah tubuh perempuan dari isyarat seksualitas, ibu-ibu berusaha memastikan putri mereka tetap perawan, murni, dan mencegah mereka menjadi perempuan yang kelihatan subur –dan ibu potensial.

Para ibu sepenuhnya didorong oleh ketakutan mereka. Hubungan seksual dini dapat menggiring para gadis remaja ini pada kehamilan tak diinginkan, aborsi tak aman, kemungkinan pemerkosaan, atau penularan penyakit seksual. Menyetrika payudara bagi banyak ibu di Kamerun dinilai pilihan lebih baik daripada menghadapi risiko di atas. Bagi mereka, ini menunjukkan cinta dan kepedulian mereka terhadap anak gadis. Tapi apakah itu berhasil?

Kebanyakan korban setrika payudara berujar praktik itu sangatlah menyakitkan. Dan mereka bersikeras itu tak mencegah ketertarikan seksual.

“Ini bukan jalan terbaik untuk menghindari kehamilan karena setelah disetrika, orang seperti saya tetap saja hamil. Saya punya anak sebelum menikah. Jadi alasan itu tak membantu. Bagi saya (kesadaran seksual) menjadi ukuran. Ketika Anda makin dewasa, Anda berpikir dua kali akan risiko yang Anda ambil,” ujar Joyce Forghab.

Ibu Zee melihat masalah ini dengan cara berbeda. Dia percaya menyetrika payudara menyelamatkan dia dan anaknya dari kehamilan tak diinginkan, dengan menghindari mereka terlihat seperti perempuan matang terlalu dini. “Putri saya menerimanya sebagai bagian dari tradisi. Saat mereka masih muda, terlalu berisiko untuk membiarkan payudaranya mekar. Itu mengancam masa depannya. Bila dia mengalami kehamilan tak diinginkan pada usia muda, ini akan menyulitkannya di masa depan.”

Jika Ze meyakini putrinya, Clarisse, menerima praktik itu, reaksi gadis ini justru sebaliknya. Saat ditanya apakah akan melakukan hal serupa terhadap anak perempuannya kelak, misalnya, Clarisse berujar dengan tegas: “Saya takkan melakukannya.”

Tabu seksualitas menjadi perkara besar dan mengakar di Kamerun. Banyak gadis yang payudaranya disetrika tak tahu alasan ibu mereka melakukannya. “Saat umur 9 tahun, seorang gadis tak tahu apa-apa tentang seks, sehingga saya tak menjelaskannya. Tapi ketika mereka berumur 11 tahun dan mulai bertanya: ‘Mengapa kamu melakukannya saat saya berumur 9 tahun?’ Saya memberinya penjelasan,” kata Ze.

Joyce, di sisi lain, meminta penjelasan ketika dia disetrika dengan batu panas. “Ibu saya berkata saya terlalu muda memiliki payudara dan jika saya membiarkan mekar, itu akan mengundang para pria mendekati saya. Dia juga berkata bahwa saya tak bisa tumbuh tinggi,” ujar Joyce, mengenang.



Pria tak punya penjelasan

Joseph Ngondi, pria berusia 29 tahun, tahu praktik menyetrika payudara saat usia 26 tahun. Dia berada di ruang hotel dengan kekasihnya yang baru. Itu malam pertama bagi mereka. Ketika si gadis membuka pakaian, Joseph melihat dua bercak gelap pada payudaranya yang rata. Joseph terkejut.

“Saya bertanya-tanya apa yang terjadi pada gadis itu. Bahkan saya takut, memikirkan penyakit yang dapat mempengaruhinya,” kata Joseph, “Dia melihat tatapan saya yang aneh saat melihat payudaranya dan kemudian menutupinya. Dia merasa malu.”

Joseph bertanya kepada kekasihnya apa yang terjadi. “Kemudian dia mulai cerita bahwa ibunya menyetrika payudaranya saat berumur 11 tahun. Tak mudah bagi dia untuk menceritakan kisah itu.”

Khususnya di kota-kota, di mana menyetrika payudara dilakukan sebagai metode kotrasepsi daripada tradisi semata, banyak pria tak menyadarinya. Joseph juga tak mengetahuinya: “Itulah kali pertama saya sadar tentang menyetrika payudara. Sebelumnya, saya hanya mendengar tapi tanpa penjelasan apapun.”

Banyak ibu di Kamerun, yang melakukan ritual itu sebagai tindakan kontrasepsi, tak membicarakannya dengan anggota keluarga. Georgette Taku, sekretaris jenderal Renata, menjelaskan, ”Mereka menyembunyikannya karena terkadang dalam keluarga tak ada diskusi tentang pendidikan seksual. Plus, perempuanlah yang harus mengurus anak dan, akhirnya, jika anak gadis mengandung, si ibu pula yang disalahkan.”

Menurut Taku, di sebagian besar keluarga di Kamerun, ketika seorang gadis hamil, sang ayah dapat memaksa ibu dan putrinya meninggalkan rumah.

Di sisi lain, di wilayah pedesaan tempat praktik menyetrika payudara lebih dianggap sebagai tradisi ketimbang metode kontrasepsi, laki-laki sepenuhnya menyadari. “Tak ada yang disembunyikan. Itu bukanlah tindakan buruk menurut tradisi dan setiap orang dalam keluarga harus hadir,” kata Ze.

Joyce, korban setrika payudara, sependapat dengan hal itu. Dia berkata banyak pria di desa-desa bahkan melakukan praktik itu. “Setiap pria tahu tentang praktik ini dan jika istrinya telah meninggal, kaum pria sendiri yang melakukannya.”



“Nenek ingin membakar saya”

“Mama, mama. Cepat kemari! Nenek ingin membakar saya!” Ini panggilan menyedihkan yang diterima Dr Tchana dari putrinya, Kat, pada 1997.

”Dia berusia 11 tahun dan menghabiskan liburan di Bangangté, kampung kelahiran saya. Ibu mertua saya seorang bidan yang sangat teruji dan ingin menyetrika payudara Kat. Saya takkan pernah lupa panggilan putri saya. Dia begitu ketakutan. Saya bilang kepada Kat: ‘Jangan takut, saya datang, bilang kepada Nenek bahwa kamu ingin Mama berada di situ saat payudaramu disetrika’.”

Saat itu hari Jumat, pukul 7 malam, dan Dr Tchana segera mengambil mobil lalu pergi ke desanya. “Ibu mertua saya sangat marah karena putri saya menelepon. Saya bilang kepadanya jangan lakukan itu, ‘Saya dokter, saya tahu apa yang terbaik buat putri saya’. Ibu mertua saya bilang bahwa dia bidan dan dia juga tahu apa yang dia lakukan. Akhirnya, rencana menyetrika payudara Kat tak dilakukan. Saya takkan pernah mengizinkannya.”



Asal-mula

Muasal praktik setrika payudara tidaklah jelas. Sementara sebagian penduduk Kamerun mengklaim itu adalah tradisi dari daerah pedesaan, sumber lain seperti German Technical Cooperation Agency (GTZ) melaporkan pada 2007 bahwa praktik itu lebih sering terjadi di perkotaan daripada di pedesaan.

Ini hampir seabad sejak Kamerun mengembangkan kota-kota seperti Yaoundé, ibukota politik, berdiri pada 1888; atau Douala, ibukota ekonomi dan kota terbesar di Kamerun. Ini mungkin memperkuat hipotesis “berawal dari pedesaan’. Plus, fakta bahwa menyetrika payudara dikritik secara terbuka di perkotaan mungkin membawa persepsi bahwa praktik tersebut lebih tinggi terjadi di pedesaan.

Namun, pendapat ‘berawal dari kota’ juga tak kalah sengit. Karena rata-rata perempuan Kamerun bersekolah di kota daripada di desa, banyak ibu yang mungkin lebih sering melakukan setrika payudara dengan tujuan anaknya tetap sekolah tanpa terbebani oleh kehamilan tak diinginkan.

Dr Tchana berkata praktik ini terjadi di kota maupun desa, tapi risikonya lebih tinggi di perkotaan. “Karena perasaan sakit akibat setrika payudara, banyak gadis kabur dari rumah. Sementara di desa, mereka akan pergi ke bibi, kepala desa, atau tetangga mereka; kota lebih berbahaya bagi orang luar.”

Ironisnya, praktik ini justru menimbulkan lebih banyak kehamilan tak diinginkan. Dr Tchana menjelaskan: “Banyak gadis (yang kabur dari rumah) tak punya apa-apa dan tinggal di rumah pacarnya. Jika diminta berhubungan seks, dia tak bisa menolak… Apa yang bisa dilakukan?”



Setrika Perut

Malangnya, payudara bukanlah satu-satunya target “praktik setrika” di Kamerun. Menyetrika perut, juga dikenal sebagai pemijatan pascamelahirkan (postpartum massaging), merupakan praktik tradisional berbahaya yang terjadi di negara ini. Menurut Renata, praktik ini lebih meluas daripada menyetrika payudara, karena sangat sakit dan meninggalkan luka fisik dan psikis yang menyakitkan.

Dalam menyetrika perut, sebuah sapu tradisional direndam dalam air mendidih lalu dipakai untuk mencambuk perut perempuan yang baru saja melahirkan. Kemudian, sebuah handuk yang dicelupkan dalam air mendidih dipakai untuk memijat bagian-bagian tubuh. Si perempuan disuruh duduk di ember berisi air panas hingga uapnya menembus vagina dan rahim.

Sekalipun hal ini dapat menyebabkan luka bakar, infeksi vagina, kerusakan leher rahim atau bekas lukas, perempuan di Kamerun menerimanya karena tradisi menyebutkan bahwa ini sangat penting untuk membersihkan sisa-sisa darah setelah melahirkan bayi.

“Nyatanya, mustahil tak diketahui bahwa pijatan di daerah sekitar menyebabkan teriakan kesakitan dari korban yang membangunkan tetangga di pagi buta,” tulis Renata dalam buku panduan kesehatan seksual.

Hal biasa jika berjalan di sekitar lingkungan Yaoundé dan mendengar jeritan putus-asa seorang gadis dari sebuah rumah. Kecemasan terbersit di kepala orang luar yang mendengarkannya: “Apa yang terjadi di sana?” “Apa yang menimpa gadis malang itu?” Ini merupakan situasi kontras yang menggambarkan begitu seringnya penduduk Kamerun mengabaikannya, dan terus melanjutkan kehidupan mereka tanpa peduli dengan teriakan-teriakan itu.



Tanda kematangan seksual

Praktik tradisional yang berbahaya bagi kaum perempun begitu beragam dalam sejarah manusia. Ini termasuk penyiksaan seperti mengikat kaki perempuan Cina, meluruskan tulang rusuk dengan korset yang sangat ketat, menyunat alat kelamin perempuan, dan sabuk kesucian dari Abad Pertengahan. Semua ini punya tujuan serupa: menguntungkan kaum laki-laki, dengan memastikan ketaatan perempuan atau menambah kecantikan sesuai selera kontemporer.

Menyetrika payudara jelas berbeda. Alih-alih menguntungkan kaum pria, ini adalah salah satu dari sedikit praktik yang menyiksa perempuan untuk “kebaikan” mereka sendiri dan dilakukan perempuan terhadap perempuan. Alasannya, melindungi mereka dari laki-laki dengan membuat mereka menjadi kurang menarik.

Dalam pemahaman masyarakat Kamerun, pentingnya payudara dan nilai simbolisnya harus diperhitungkan. “Seorang gadis dapat menikah begitu dia memiliki payudara,” ujar Georgette Taku, jurubicara Renata. “Payudara menunjukkan bahwa seorang gadis siap berhubungan seksual.”

Selama hari-hari sekolah, Joyce Forghab dikenal sebagai “Nona Lolo” karena payudaranya mekar lebih dini. “Saya merasa sangat malu. Saya berpikir, ‘Jika orangtua saya menyetrika payudara di usia itu, ini berarti saya belum waktunya memiliki.’ Memiliki payudara seperti hal tabu, sesuatu yang buruk. Jadi saya berjalan dengan meletakkan tangan saya di atas payudara agar orang-orang tak melihatnya. Saya tak merasa bebas.”

Ze Jeanne melakukan pada anaknya. Dia melakukannya pada putri-putrinya. Suatu saat dia juga tak akan ragu melakukan hal sama pada cucu-cucu perempuannya. Dia tak merasa perlu menjelaskan: “Kebanyakan dari kami, orang-orang Bantu, melakukannya demi tradisi, tanpa banyak penjelasan khusus. Anda hanya tinggal menerimanya.” Sebagian besar gadis Kamerun pun diharapkan melakukan praktik semacam ini. Terima itu dan, sebagaimana Joyce lakukan, meminta kepada Tuhan agar menghilangkan payudaranya.*

*Diterbitkan dengan persetujuan Street News Service.



Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Komentar


Berita Terkait