18.08.2010 16:19:58 WIB
Oleh S. WIDAGDO
Malam ini, gelisahku berkecamuk. Ya, di dalam gubuk ini atau lebih tepatnya aku namakan ini sarangku, yang berdinding beberapa keping kardus, beratap ratusan koyakan plastik dan beberapa keping seng berkarat, dengan karung plastik tergantung sebagai hijab pintu keluar masuk satu-satunya. Dan yang paling membanggakanku, dinding belakang sarangku berupa beton, penyangga jalan bebas hambatan yang melayang di atas sana. Tidak cukup tiga orang berbaring terlentang di sarang ini, dan berdiri sepenuhnya di dalam sarang ini pun tidak bisa.
Aroma tak sedap dalam udara pengap tidak lagi tercium. Indra penciumanku sudah lama mati, semenjak aroma tubuh ini menyerupai bau gundukan sampah yang tak jauh dari sarangku.
Udara dingin yang menyusup masuk melalui sela-sela dinding kardus dan atap potongan plastik yang bolong ini, serta suara yang keluar dari perut lapar, semuanya menjadi keseharianku, mana bisa membuat mata dan otak ini redup seketika. Sungguh, tidak bisa tertidur. Letih dan lapat, dengan mata berkunang setengah sadar.
Tiba-tiba sayup terdengar lembut suara senandung. Sepertinya aku kenal senandung itu. Yaa … senandung itu pernah aku dendangkan saat kecil dulu, suara itu serupa dengan yang diajarkan almarhum Bapak. Aku dulu hafal betul ayat-ayat itu. Begitu indah, lembut menyusup masuk ke dalam telinga.
Lamat-lamat suara raum mobil yang melaju cepat hilang tersibak halus senandung. Nafas yang tesengah dan otakku yang berputar tak karuan mulai redam. Badan ini lunglai, pasrah telentang, tidak berdaya di atas alas kardus. Gelisahku berangsur lenyap dan kelopak mata ini mulai terasa berat. Begitu tenang, senandung itu menghanyutkan.
Baru saja kelopak mata ini tertutup rapat. Rauman suara mobil yang melaju cepat kembali terdengar keras. Sayup senandung ayat itu masih terdengar lembut. Aku tersentak. “Dari mana asalnya senandung itu?” pikiranku mulai berjalan lambat.
Kutegakkan badanku perlahan, lalu merangkak menghampiri lubang keluar yang tertutup karung. Kusibak karung itu. “Haa..!!!” Aku terkejut bukan kepalang. Temaram cahaya purnama yang tertutup awan tipis membantu penglihatanku. Tampak sosok orang berkerudung sedang duduk bersimpuh. Dan suara senandung yang sedari tadi kudengar setengah sadar itu, sepertinya tidak salah lagi, suara seorang perempuan.
Mengetahui kehadiranku, perempuan itu mempercepat senandungnya, namun masih terdengar tenang. Ia menundukan kepala, tidak menatapku barang sekejap.
Aku kebingungan, menoleh kiri kanan, dan memang tidak ada siapa-siapa seperti malam-malam sebelumnya. Dan sekarang terdapat perempuan bersimpuh empat langkah dihadapanku.
“Ibu siapa ? Mau kemana ?” tanyaku masih dalam bingung bukan kepalang sambil menggarukkan kepala, tidak percaya ada perempuan di tempat ini, selarut malam ini pula.
Senandungnya terhenti sejenak dan ia mulai bersuara seperti memanggil seseorang, “Ya Rahman, ya Rahim…”
“Saya Jai, Sujai. Bukan Rahman ?” Aku potong bicaranya.
“Astaqhfirullah…” ucap perempuan itu masih dengan nada yang tenang.
Tanganku yang tadinya menggaruk kepala bergeser mengusap muka. Dalam benak aku tersadar : Ahhh…. Dasar dungu. Semenjak sepuluh tahun silam, ketika bapak dan ibuku meninggal lantaran kecelakaan dan aku diusir dari kontrakan, aku sebatang kara menggelandang. Lalu membuat sarang di tepi gundukan sampah di bawah jalan layan bebas hambatan ini. Sejak itu otakku yang bebal ini bertambah dungu. Ya Rahman, Ya Rahim,.. Aku ingat itu, seperti yang diajarkan almarhum Bapak ketika aku kecil dulu.
Aku mencoba menenangkan diri. Kudekati perempuan itu. Aku tundukkan kepala dan memicingkan mata untuk mencoba melihat wajah perempuan itu. Cahaya Purnama sepenuhnya memberiku petunjuk. Tampak paras manis perempuan muda dihadapanku. Matanya terpejam.
Sampai kepalanya menengadah ke arahku, “Assalammualaikum Bang, saya Alif.” Dan aku pun menduga dan kemudian bisa memastikan, perempuan muda berparas manis dengan kerudung ini, ternyata buta.
Kami pun berbincang. Dari apa yang Alif dengar, ia tuturkan kepadaku : Siang tadi, ia bersama ibundanya berjualan di pasar. Tiba-tiba keributan berkecamuk. Ibunda berteriak-teriak histeris, begitupun pedagang lain. Keributan terjadi. Dan suara ibunda berbaur dengan suara keributan lainnya. Pendengarannya yang sangat terlatih itu pun tidak bisa lagi memisahkan suara ibunda dengan kecamuk suara lain. Sejak itu, Alif tidak tahu lagi dimana ibunda berada. Sampai suara keras dihadapannya mengejutkannya, gerobak daganganya terbanting tumpah. Lalu Alif pun terdorong kesana-kemari. Langkah Alif menjauhi keributan dan sampai di sarangku.
“Ya.. Rahman, Ya.. Rahim,” Kali ini, aku yang tersayat memanggil Sang Maha Pengasih dan Penyayang.
Aku tawarkan sarangku untuk Alif. Aku tuntun ia memasuki sarangku. Kembali Alif mendendangkan senadungnya. Lembut, seakan mendorongku untuk keluar sarang. Dan aku berbaring di luar.
Tiada aroma busuk sampah dan suara raungan mobil yang melaju deras dapat menghalangi keindahan senandung itu masuk ke dalam telinga dan memaksa untuk bersemayam di batinku. Sambil berbaring, aku terhanyut senandung itu.
Malam sudah lewat dari tangahnya, Purnama masih tidak terhalang awan sedikitpun. Aku tak tahu lagi mana yang lebih dahulu, apakah mata ini yang terlelap atau senandung Alif yang berhenti berkumandang.
***
“Aliff …., Alifff….!” Suara itu membangunkan aku dari lelap. Purnama tidak ada lagi. Walau mentari masih tertutup menara-menara beton bertingkat, namun cahyanya sudah menerangi. Sarangku tampak bergoyang-goyang. Aku dapati Alif berusaha keluar di dalam sarang. Suara itu masih terdengar. Aku tuntun Alif keluar.
Kami berdiri di depan sarang mencoba mencari sumber suara itu. Alif memiringkan badannya ke arah gundukan sampah. “Ibuuu….” teriak Alif.
Aku ikuti arah muka Alif, aku dapati seorang ibu berlari tergopoh ke arah kami. Dengan tangis terisak ibu itu mendapati Alif dan dipeluknya erat. Aku hanya diam terpaku berdiri.
“Alif anakku. Maafkan ibu nak. Ibu ditangkap petugas, dibawa ke kantor mereka dan baru dilepas subuh tadi.”
“Gerobak gado-gado kita sudah hancur, Bu.”
Isak tangis ibuda mulai reda dan melepaskan Alif dari pelukannya. Dipandanginya wajah Alif dalam-dalam, dirapikan kerudung dan bajunya. Sambil menatapi anaknya dari ujung kaki sampai kepala. Seperti memeriksa baju obralan sebelum membeli, takut ada yang robek, lepas jahitannya atau kancingnya tidak lengkap. Lalu ibu itu memandangku yang masih saja terpaku.
“Terimakasih Nak, sudah melindungi Alif dalam sesatnya”.
“Alif tidak tersesat Bu. Ia hanya mampir di sarang ini. Mungkin aku yang sudah lama tersesat, dan Alif baru saja menunjukkan jalanku.”
Setelah menyalamiku, mereka pergi meninggalkan aku yang masih terpaku di depan sarangku. Aku rasakan berat hati ini menyaksikan kepergian mereka. Alif, dimataku, kau seperti permata di tengah gundukan sampah. Ahh.. tidak, ia mungkin permata di tengah kejamnya kota ini. Dan kurasakan juga langkah Alif menyimpan sedikit berat meninggalkan aku begitu saja. Bukan hanya ku rasakan, tapi langkah Alif memang tampak ragu, ohh bukan ragu meninggalkan ku, tepi memang Alif meraba dalam langkahnya.
“Alif !” pekikku, “Ibu !” Mereka serentak membalikkan badannya menatap aku yang berlari kecil menghampiri mereka.
“Sakarang aku yang mendapat giliran hari ini, Bu.” Sambil menunjukan telunjuk ku ke arah jalan masuk gundukan sampah dan gubuk-gubung yang berserak di mana tetanggaku tinggal.
“Mereka yang berseragam lengkap sudah berbaris disana, Bu. Ya, hari ini giliran kami yang kena gusur.”
Ibu masih menyimpan raut wajah kecut melihat petugas yang bersiap menggusur gubuk-gubuk di gundukan sampah itu. Sedang Alif, tersenyum begitu damai, mungkin dalam gandengan ibunya ia sudah lupa dengan gerobaknya yang hancur kemarin sore.
“Aku tahu, Bu. Dimana orang-orang membuang sampah kayu dan lainya. Aku tahu dimana tempatnya. Biarkan aku membuat gerobak baru untuk Ibunda dan Alif”.
Ibunda menatap Alif yang masih saja terenyum. Ia pun ikut tersenyum, lalu mengajak aku meninggalkan gundukan sampah itu bersama.
Mentari sudah mulai tampak di atas ketinggian menara beton bertingkat. Menara-menara dan jalan layang bebas hambatan hanya terdiam, seakan menghujamkan tatapan angkuh kepada kami yang baru saja dapat tersenyum kembali.
Palembang, Desember 2008
Foto: (Ilustrasi) setoelkahfi.wordpress.com
