22.05.2010 09:42:18 WIB
Oleh ELLEN MASSEY
WASHINGTON (IPS) – SEBAGAI peringatan ke-43 “penyatuan kembali” Yerusalem, yang dirayakan minggu lalu di Israel, dan menandakan aneksasi Israel atas bagian timut kota itu, sebuah inisiatif baru berdengung di Washington.
Diajukan oleh sekelompok akademisi, mantan dutabesar Kanada, dan para pejabat pemerintah, Jerusalem Old City Initiative menyerukan sebuah solusi praktis dan berkelanjutan bagi pemerintahan di Yerusalem.
Yerusalem, dan statusnya dalam perjanjian damai terakhir, adalah salah satu isu penting di tengah kerasnya konflik antara Israel dan Palestina, dan menjadi perdebatan dalam tahun-tahun terakhir.
Sadar sentralitas dan emosionalitas terkait tantangan dalam isu Yerusalem itu, proposal ini adalah hasil riset serius selama tujuh tahun, bekerja sama dan berdiskusi dengan banyak pihak yang terlibat dalam proses perdamaian.
Proposal itu memulai debutnya di Washington dua minggu lalu dalam sebuah acara yang diadakan Middle East Institute, sebuah lembaga think-tank di Washington.
Old City Initiative unik karena ia dengan teliti menunjukkan dan menggariskan bukan hanya solusi teoritis mengenai pemerintahan Yerusalem, tapi juga implementasi aktual dan keberlanjutan rencana yang diusulkan itu.
Dengan mengakui bahwa tujuan mereka hanya satu bagian, tapi menyeluruh, dalam konflik yang kompleks itu, para penggagas itu juga membayangkan bagaimana ia sesuai bagi proses perdamaian yang lebih luas.
Seperti pengacara Israel Daniel Seideman katakan pada acara di Washington, inisiatif ini tak akan memecahkan konflik antara Israel dan Palestina yang sudah berjalan selama beberapa dekade. Tapi ia bisa “mengubah secara radikal konflik itu.”
Seideman tinggal di Jerusalem, pendiri sekaligus direktur Terrestrial Jerusalem, sebuah LSM Israel.
Inti proposal itu adalah sebuah "rezim khusus" yang akan memiliki kekuasaan otonom dari Yerusalem, yang mencakup beberapa situs agama yang paling dihormati di dunia.
Tak seperti proposal-proposal sebelumnya, seperti Clinton Parameters tahun 2000 atau Geneva Accord tahun 2003 yang digembar-gemborkan, yang memberikan formula kompleks untuk membagi Yerusalem, proposal ini menawarkan sebuah mekanisme untuk menjaga inti dari kesatuan kota itu, dan diatur terpisah dari lingkungan yang mempengaruhinya dan biasanya dibatasi sebagai orang Israel atau Palestina.
"Karena klaim yang tumpang-tindih, ketidakpercayaan sistemik, keterlibatan banyak pihak, perbedaan agama yang dalam, dan tak mungkin memisahkan secara fisik, kami yakin opsi membagi pemerintahan Kota Tua akan problematik," tulis laporan itu.
Mekanisme untuk menyatukan pemerintahan yang diusulkan punya dua tingkatan. Seorang kepala pemerintahan akan memimpin operasional Kota Tua sehari-hari dan akan menjadi "orang berpengalaman dan dihormati secara internasional yang bukan orang Israel atau Palestina".
Tingkatan kedua dari rezim khusus itu jadi dewan pemerintahan, yang akan mengangkat kepala pemerintah dan kepadanya pemerintah akan bertanggungjawab.
Dewan Kota Tua akan terdiri dari perwakilan senior dari pemerintah Israel dan Palestina, serta perwakilan negara-negara lain yang dipilih oleh kedua pihak.
Inisiatif itu, sebagian besar didanai oleh pemerintah Kanada, mulai bekerja pelan-pelan di pinggir perdebatan tentang rencana perdamaian Timur Tengah selama hampir satu dekade.
Sayangnya, proposal itu, dan acara di Washington dua minggu lalu, tak datang tepat waktu atau berpusat pada masalah konflik terbaru.
Proposal itu muncul pada minggu yang sama dengan sebuah pembicaraan antara pemerintah Israel dan Palestina, dengan AS menjadi perantara tak langsung.
Pembicaraan itu akan mengakhiri kebuntuan negosiasi selama 18 bulan antara kedua pihak. Mereka, seperti dikatakan Wendy Chamberlian, ketua Middle East Institute, kepada audiense dua minggu lalu, "bukanlah pembicaraan langsung seperti yang kita harapkan." Dia mengatakan, mereka memang mengalami kemajuan signifikan, karena, "Utusan khusus Mitchell akan berhubungan dengan pihak-pihak yang masih berseberangan."
Salah satu sinyal penting dari jurang yang memisahkan kedua pihak, yang kini menggunakan Utusan Khusus George Mitchel sebagai sebuah penghubung antara Yerusalem dan Ramallah, adalah kondisi di Yerusalem.
Situasi "di Yerusalem di luar kendali," ujar mantan dutabesar Amerika untuk Israel Daniel Kurtzer pada acara di Washington dua pekan lalu.
"Bukan kebetulan bahwa setiap perselisihan antara pemerintah [Barack] Obama dan Netanyahu melampaui isu Yerusalem," kata Kurtzer kepada audiense di sebuah ballroom hotel mewah. "Konflik itu berkurang inti ledakannya, ini adalah arena pilihan para perampas."
Minggu lalu para perampas menutup sedemikian rupa jalan untuk kembali ke perdebatan itu. 13 Mei lalu, Menteri Dalam Negeri Israel Eli Yishai mengumumkan tak akan menghentikan pembangunan di Yerusalem Timur, bagian kota yang diharapkan oleh warga Palestina sebagai pusat negara mereka di masa depan.
Pembangunan perumahan khusus Israel di Yerusalem Timur memicu friksi lanjutan antara pemerintah Obama dan Netanyahu, dan menunda pembicaraan tak langsung selama beberapa bulan.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas menuntut penghentian total pembangunan perumahan di Tepi Barat sebelum dia kembali ke meja perundingan.
Karena Israel mengumumkan tak akan menghentikan pembangunan, Abbas mundur dari tuntutannya, sebagian karena jaminan dari pemerintah AS bahwa isu status final seperti Yerusalem akan jadi bagian dari negosiasi. Selain itu, tak akan ada pembangunan baru di Yerusalem Timur karena kunjungan Wakil Presiden Joseph Biden ke kota itu Maret lalu.
Proposal yang ditawarkan Jerusalem Old City Initiative tak secara langsung mengangkat isu seperti pembangunan perumahan Israel di timur pinggiran kota. Ia hanya fokus pada pusat Yerusalem, mengabaikan isu keras lainnya yang berada di pusat sengketa, seperti Jalur Gaza, peran Hamas, dan perampasan tanah.
Fokus itu mungkin jadi kekuatan proposal ini. Dengan ide mengenai sebuah "rezim khusus," para penggagas Inisiatif itu mengizinkan bahwa kesepakatan tentang kedaulatan Yerusalem bukanlah seperti masa depan yang dapat diketahui dari sekarang. Tapi solusi berkelanjutan atas pemerintahan Kora Tua adalah bagian integral dari perdamaian antara Israel dan Palestina.
Ibarat sebuah blok bangunan dalam proses perdamaian, sekali lagi ia berusaha membangun sebuah fondasi.*
Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
Foto: Matanews.com
