Budaya

Sejarah dan Perkembangan Musik di Ophir

coba

25.01.2012 21:43:52 WIB

Oleh S.N. Al-Sajidi

I
Tangga nada solmisasi (do re mi fa sol la si do) yang diakui secara internasional dan digunakan di seluruh di dunia disebut-sebut oleh banyak referensi Barat diciptakan oleh Guido Arezzo. Siapa gerangan Arezzo? Dia pemusik Italia dalam program British Channel 4. Selain itu ada lagi pendapat menyatakan solmisasi itu merupakan himne Saint John dan Guido Arezzo (995-1050) adalah orang yang kali pertama menggunakannya.

Padahal, fakta sejarah sebenarnya tidaklah demikian. Solmisasi merupakan temuan para ilmuwan muslim. Solmisasi mulanya berupa notasi dalam abjad Arab yang terdiri dari mi fa shad la sin dal ra. Kemudian, notasi ini ditransliterasikan ke dalam bahasa Latin menjadi mi fa sol la ti ut re dan dikenal sebagai himne St. John. Transliterasi ini selanjutnya kali pertama digunakan oleh Guido Arezzo sehingga terkenal menjadi notasi Guido’s Hand.

Kemudian, notasi ini berkembang menjadi notasi musik yang digunakan hingga saat ini, yaitu mi fa sol la si do re. Jadi, dapat disimpulkan notasi Guido’s Hand milik Guido Arezzo merupakan jiplakan dari notasi Arab yang telah ditemukan dan digunakan sejak abad ke-9 oleh para ilmuwan muslim.

Para ilmuwan yang telah menggunakannya, antara lain Yunus Alkatib (765), al-Khalil (791), Al-Ma’mun (wafat 833), Ishaq Al-Mausili (wafat 850), dan Ibn Al-Farabi (872-950).

Ishaq Al-Mausili memperkenalkan solmisasi dalam bukunya Book of Notes and Rhythms dan Great Book of Songs yang begitu populer di Barat. Sedangkan, Ibn Al-Farabi (872-950) memperkenalkannya dalam Kitab Al-Mausiqul Kabir. Al-Farabi juga yang telah menciptakan alat musik yang dia sebut al-kanun,yang di kemudian hari menginspirasi pembuatan piano, organ, dan keyboard. Selain itu, Ziryab (789-857), ahli musik dan ahli botani dari Baghdad turut mengembangkan penggunaan solmisasi tersebut di Spanyol jauh sebelum Guiddo Arezzo muncul dengan notasi Guido’s Hand-nya. Ibn Firnas (wafat 888) pun turut berperan dalam penggunaan solmisasi tersebut di Spanyol. Karena, dia adalah orang yang memperkenalkan masyarakat Spanyol pada musik oriental dan juga merupakan orang yang kali pertama mengajarkannya di sekolah-sekolah Andalusia.

Guido Arezzo dapat mengetahui solmisasi tersebut dengan mempelajari Catalogna, yaitu sejilid buku teori musik berbahasa Latin yang berisi kumpulan penemuan ilmuwan muslim di bidang musik. Solmisasi tersebut ditulis dalam Catalogna yang diterbitkan di Monte Cassino pada abad ke-11. Monte Cassino merupakan daerah di Italia yang pernah dihuni masyarakat muslim dan juga pernah disinggahi oleh Constantine Afrika.

Constantine Afrika adalah ilmuwan muslim dari Tunisia yang masuk ke Italia melalui Salerno. Ia sempat mengajarkan musik kepada orang-orang barbar dan terbelakang di Salerno. Selain itu, ia juga menterjemahkan buku-buku penemuan ilmuwan muslim untuk dijadikan acuan bagi pelajar Eropa. Ia juga memberi kesempatan kepada pelajar Italia untuk mempelajari musik di Spanyol karena pada saat itu Spanyol tengah diramaikan oleh ahli musik, seperti Ziryab dan Ibn Firnas. Dengan sendirinya, banyak pelajar Italia yang mempelajari musik di Spanyol. Salah satu pelajar tersebut adalah Gerbert Aurillac (wafat 1003). Gerbert Aurillac ini kemudian menjadi orang yang meletakkan dasar musik di negara-negara Eropa. Selain itu, ia juga melahirkan banyak pakar musik Barat.

Pada perkembangan selanjutnya, keberadaan musik klasik makin memperoleh tempat spesial di dalam kebaktian terutama dalam acara misa di gereja-gereja. Komponis-komponis andal pun bermunculan dan melegenda, seperti Mozart dan Bethoven. Beraneka jenis musik lahir bak jamur di musim hujan dan melanda hampir semua pelosok benua Eropa dan Amerika, antara lain cha cha, waltz, seriosa, dan country.

Di era 60-an tampil B.B. King mengibarkan jenis musik Blues yang pada awalnya dianggap sebagai musik marginal milik etnis kulit hitam di Amerika Serikat. B.B. King dijuluki sebagai Bapak Blues Dunia. Menyusul Jimmy Hendrix dengan kepiawaiannya memetik gitar berirama Blues di era 70-an. Dengan menyandang gitar Fender Stratocastro, Jimmy Hendrix berhasil menggelindingkan irama Blues ke seluruh dunia. Jimmy Hendrix pula yang kali pertama menemukan sekaligus menerapkan efek elektrik pada gitar. Blues yang semula dianggap sebagai musik perlawanan kaum kulit hitam akhirnya juga digandrungi oleh para pemusik beretnis kulit putih. Istilah white blues muncul dan menjadi wacana tersendiri dalam perkembangan musik, baik di Eropa maupun di Amerika.

Di era 80-an Blues makin meroket dan telah mengilhami kelahiran jenis-jenis musik lainnya, seperti rock, jazz, rock n’roll, funk, dan bosanova. Dari jalur rock n’roll, suara dan gaya khas Elvis Presley menjadi ikon yang juga melegenda. Dalam era sama dan lagi-lagi dari etnis kulit hitam, Bob Marley menggebrak pelataran musik dunia dengan irama reggae-nya. Para penggemarnya di seluruh dunia mendaulat Bob Marley sebagai Pangeran Reggae. Sejak itulah “rambut gimbal” diterima menjadi mode dan trend dalam blantika musik, termasuk di Indonesia.

Sepanjang era 70-an hingga 80-an dari kawasan Britania (United Kingdom dan Irlandia) bermunculan pemusik dan grup musik yang kini menjadi legendaries, antara lain The Beattles, Eric Clapton, The Rolling Stone, Led Zeppelin, ABBA, Deep Purple, The Rainbow, Cat Stevens, Queen, dan The Police.
II
Sejarah dan perkembangan musik di Nusantara dapat dijejaki, antara lain melalui data-data artefaktual dan arkeologis peninggalan zaman kerajaan, terutama pra-Sriwijaya, Sriwijaya, dan pasca-Sriwijaya. Di bumi Melayu (Jambi) misalnya, ditemukan sejenis alat musik petik (mirip gitar/mandolin tetapi dengan jumlah tali lebih sedikit). Masih di Jambi, tepatnya di Candi Muaro Jambi juga ditemukan alat musik pukul berupa gong. Lalu, di Lampung ditemukan alat musik gamelan terbuat dari kayu yang oleh masyarakat Lampung disebut gamolan. Lebih daripada itu, di semua wilayah/daerah di Nusantara, bahkan di Thailand, Srilangka, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Jawa, Sumatra, Kep. Filipina, Sulawesi, dan sebagainya terdapat tradisi bersenandung/berlagu atau bermusik, yang secara umum memiliki karakteristik laras nada yang nyaris sama, yaitu pentatonis. Boleh jadi, laras musik itu dipengaruhi oleh laras musik dari Cina, tetapi tidak dapat dibantah penamaan laras Slendro (yang sampai kini masih dilestarikan di Jawa) sesungguhnya berasal dari nama Sailendra (dinasti yang berabad-abad menjadi penguasa di Sriwijaya dan Mataram Kuno).

Asumsi ilmiah tentang pengaruh musik dari Cina dapat dirujuk pada data arkeologis berupa kronik Cina dari Dinasti Tang, yang di dalamnya memberitakan pada 414 Masehi seorang pendeta Budha asal Tiongkok bernama Fa-Hsien berlayar menggunakan kapal dan tiba di suatu negeri di Swarnadwipa yang bernama Yeh-po-ti. Nia Kurnia Sholihat Irfan mengajukan asumsi ilmiah, tentang penyebutan Yeh-po-ti yang merupakan terjemahan dari Seputih, yaitu daerah di sekitar Way Seputih di pantai timur Provinsi Lampung. Kapal ditumpangi Pendeta Fa-Hsien dalam tahun sama juga diberitakan mendarat di Pulau Jawa. Masyarakat yang Fa-Hsien jumpai menganut Hindu dan mendiami negeri yang bernama Tarumanagara (sebelum menganut Hindu disebut Ho-lo-tan atau Aruteun). Selain sebagai pendeta Budha, Fa-Hsien disebutkan juga memiliki keahlian bermusik. Konon Fa-Hsien mengajarkan keahliannya bermusik itu kepada masyarakat di negeri-negeri yang ia kunjungi.

Temuan alat musik di Provinsi Lampung yang disebut gamolan, yang diduga berasal dari awal abad V Masehi untuk sementara cukup membuktikan tradisi musik di Nusantara sudah ada pada abad V Masehi. Bentuk gamolan yang ditemukan di Provinsi Lampung, menurut peneliti etnomusikologi asal Provinsi Lampung, Hasyimkan Pering sama dengan bentuk gamelan yang dipahatkan di Candi Borobudur.

Selain itu, keberadaan alat musik tiup di daerah Minangkabau yang disebut saluang diduga kuat juga telah ada sejak masa awal sejarah. Begitu pula dengan alat musik yang ada di Tapanuli, Sumatra Utara telah ada sejak ribuan tahun lalu.
Laras nada musik yang berkembang pada masa awal sejarah di Nusantara adalah laras musik yang oleh masyarakat Jawa biasa disebut Slendro dan menggunakan tangga nada pentatonis. Laras musik ini juga dipakai dan berkembang di semua daerah (kedatuan dan perdatuan) yang menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Perbedaan penamaan di daerah-daerah di kedatuan dan perdatuan dalam wilayah Kerajaan Sriwijaya sangat dimungkinkan, sebab kebijakan pemerintahan di Sriwijaya menganut sistem kosmosentris, yaitu sistem yang saat ini boleh disamakan dengan sistem desentralisasi atau otonomi murni atau sangat mirip dengan sistem federal.

Perbedaan tempo (ritme/frekuensi) juga sangat dimungkinkan terjadi, terutama oleh faktor-faktor alam (budaya) di masing-masing daerah. Di Sumatra bagian Selatan (Sumbagsel) misalnya, secara umum tempo musiknya (juga tarinya) cenderung selaras dengan “tempo” aliran arus sungainya. Budayawan Erwan Suryanegara secara umum mengklasifikasikan masyarakat Sumbagsel sebagai masyarakat yang menganut pola budaya ladang atau pola budaya sungai/perairan, yang berbeda karakternya dengan masyarakat yang menganut pola budaya sawah/gunung atau pola budaya tanah/agraris. Anutan budaya suatu masyarakat sangat berpengaruh pada wujud kreativitas seni masyarakatnya, khususnya kreativitas di bidang musik.

Laras musik slendro ini di banyak daerah, termasuk di Sumbagsel juga sangat berpengaruh pada pemberian irama/ritme saat bersastra tutur, seperti guritan (di Besemah), jelihiman (di Ogan Ilir), dan sebagainya. Sebagaimana di Jawa dan Bali, slendro di Sumbagsel juga memiliki suatu pakem (standar baku yang tidak boleh diubah dan jika diubah cenderung dianggap sudah bukan lagi slendro). Pakem slendro ini di Sumbagsel di belakang hari lazim disebut “musik gitar tunggal” atau “musik batanghari sembilan”. Kalau mau bukti, silakan ganti instrumen gitar pada musik gitar tunggal dengan instrument gamelan. Silakan dengar baik-baik karakter bunyi dan iramanya. Silakan juga catat formasi notasi dasarnya. Sekadar contoh, bila dalam konsep Barat dikenal nada dasar C = do, maka formasi nada musik Batanghari Sembilan menurut nada dasar itu tidak akan keluar dari formasi 1-3-6 (kord C), 2-5-1 (kord F), dan 3-6-2 (kord G).

Di sisi lain, ada pula yang keluar dari pakem dan mendapat pengaruh dari luar (kendati masih tetap terasa akar musik slendronya), terutama dari Cina, India, dan Arab. Genre musik yang keluar dari pakem ini di Sumbagsel di belakang hari dikenal sebagai irama Melayu. Seiring dengan perkembangan zaman alat musik yang dipakai juga cenderung mengalami perubahan atau tidak lagi memakai alat musik gamelan. Perubahan alat musik ini secara otomatis berkonsekuensi pada perubahan karakter musiknya. Irama Melayu ini karena mendapat pengaruh musik India di belakang hari berkembang menjadi orkes Melayu dan selanjutnya melahirkan irama dangdut. Apa pula sebutannya ketika instrumen gendang sebagai pengiring dalam music dangdut itu kita ubah dengan instrument lain, misalnya dengan drum atau celempung renteng. Kalau masih mau meneruskan eksprimen, coba saja ubah efek elektrik dan tempo/speed pada lead guitar (gitar melodi) dan juga rhytm guitar (gitar pengiring) dalam musik dangdut. Setidak-tidaknya eksprimen itu telah dilakukan oleh Rhoma Irama bersama Soneta Groupnya.

III

Boleh jadi uraian dalam esai ini sekadar asumsi atau imajinasi liar penulis. Tidak ilmiah. Ya, boleh jadi begitu, tetapi penulis pastikan ada cukup banyak artefak peninggalan sejarah tentang jejak-jejak Wangsa Sailendra, antara lain berupa prasasti, arca, candi, dan kronik (Cina dan Arab) yang sampai hari ini “masih bisa kita baca”. Lebih daripada itu, kita juga bisa “membaca” artefak-artefak peninggalan tradisi megalitik Bukit Barisan bagian selatan Pulau Sumatra, yang oleh van Hekeeren diprediksi sebagai peninggalan zaman prasejarah berasal dari sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Jadi, sejarah dan tradisi bermusik di Nusantara terlalu dini untuk disebut berasal dari Cina. Kalau mau jujur secara ilmiah, apa di negeri Cina ada ditemukan peninggalan tradisi megalitik yang sezaman dengan tradisi megalitik di Sumbagsel. yang memiliki satu saja artefak menggambarkan suatu alat musik.

Penulis ingin mengatakan sekaligus ingin menegaskan, sekiranya kita yang hidup pada zaman ini boleh mengaku kreatif dan pintar, maka secara genetis sesungguhnya kita lahir dari leluhur dan nenek moyang yang juga kreatif dan pintar. Sombong sekali kita? Ada cukup banyak bukti kalau pernyataan kita itu tidak berbau kesombongan. Cukup satu bukti, Candi Borobudur. Leluhur dan nenek moyang kita yang kreatif dan pintar itu telah mewariskan kepada kita Candi Borobudur sebagai saksi sejarah yang mau tak mau membuat manusia seisi dunia berdecak kagum.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), Pasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. (Raja Bani Israel) menerima 420 talenta emas dari Hiram (Raja Tirus) yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaeus menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus bernama Marinus.

Alqur’an dalam Surat Al-Anbiya’ Ayat 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya (al-ardha l-lati barak-Na fiha)”. Banyak ahli sejarah berpendapat, negeri Ophir yang dimaksudkan ayat itu terletak di Sumatra (Nusantara). *

Komentar


Berita Terkait