13.01.2012 16:52:39 WIB
Oleh Edgardo Ayala
SAN SALVADOR (IPS) – INI kali pertama seorang hakim El Salvador menggelar sidang untuk memutuskan apakah kasus Roque Dalton, penyair yang dibunuh 36 tahun lalu, mesti diproses ke pengadilan. Namun harapan dari keluarga sang penyair pupus.
Hakim pengadilan nomor 9 di San Salvador memutuskan pada 9 Januari untuk tak melanjutkan kasus mantan pemimpin gerilya Jorge Meléndez dan Joaquín Villalobos, yang diduga keluarga Dalton bertanggungjawab atas pembunuhan Mei 1975. Hakim Romeo Giammattei akhirnya menyatakan kasus tersebut ditutup.
Kejaksaan Agung (FGR) menyatakan aturan pembatasan 15 tahun atas penuntutan pidana umum sudah tak berlaku lagi.
Namun kedua putra sang penyair, Jorge dan Juan José Dalton, berpendapat pembunuhan ayah mereka seharusnya diperlakukan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan, yang tak mengenal aturan pembatasan, berbeda dari pembunuhan biasa.
“Kami telah menuntut keadilan selama 36 tahun, dan keputusan hari ini adalah kalahnya keadilan yang memalukan,” kata wartawan Juan José Dalton kepada setelah sidang.
“Untuk kali pertama, kami duduk bersama hakim dalam sidang ayah saya. Ini kesempatan bersejarah tapi hanya berlangsung tiga jam dan kemudian kasus itu ditutup,” ujarnya.
FGR berpendapat, pembunuhan penyair ini sebagai kejahatan biasa, dan selama El Salvador belum menandatangani Statuta Roma, yang jadi landasan berdirinya Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC) yang punya kekuasaan hukum atas kejahatan terhadap kemanusiaan, kasus Dalton tak dapat diadili di El Salvador.
Alih-alih melakukan penyelidikan dan mengajukan tuntutan, FGR malah minta hakim membatalkan kasus itu untuk sekali dan selamanya.
“Ini mempertontonkan tingkat impunitas (kebal hukum), menunjukkan sistem peradilan El Salvador yang korup dan cacat, dan memihak penjahat ketimbang berpihak korban,” ujar sutradara Jorge Dalton, mengeluh.
Keluarga penyair paling terkenal dalam sejarah El Salvador menyatakan bahwa Villalobos dan Meléndez, yang pada Mei 1975 termasuk pemimpin Tentara Revolusioner Rakyat (ERP) sayap kiri, memerintahkan eksekusi Roque Dalton.
Sang penyair juga anggota ERP. Dia kemudian bergabung dengan empat kelompok sayap kiri lain untuk mendirikan Farabundo Martí National Liberation Front (FMLN), yang melancarkan perang gerilya melawan pasukan pemerintah dari 1980 hingga 1992, dan menjadi partai politik setelah perjanjian damai yang mengakhiri perang sipil.
Dalton dituduh rekan-rekannya di ERP sebagai pengkhianat dan mata-mata untuk Badan Intelijen AS (CIA). Dia dinyatakan bersalah dalam “pengadilan revolusioner” di mana Villalobos dan Meléndez diduga ambil bagian. Dia tewas dalam keadaan berselubung misteri.
Villalobos kini penasihat antinarkotika untuk pemerintahan konservatif Presiden Meksiko, Felipe Calderón, sementara Meléndez jadi kepala Sekretariat Urusan Umum dalam pemerintahan Salvador, Presiden Mauricio Funes dari FMLN, yang memerintah pada Juli 2009.
Hanya Meléndez yang hadir dalam sidang tersebut. Sementara Villalobos diwakili pengacaranya, Rigoberto Ortiz.
“Begitu banyak kebohongan dan kepalsuan yang telah dikatakan … Ini bisa jadi bagian dari agenda politik,” kata Meléndez kepada pers saat memasuki ruang sidang.
Lahir pada 1953, Dalton menjadi bagian dari generasi pengarang dan penyair Amerika Latin terkemuka. Di dalamnya termasuk Mario Benedetti dan Eduardo Galeano dari Uruguay, Juan Gelman dan Julio Cortázar dari Argentina, Mario Vargas Llosa dari Peru, dan Gabriel García Márquez dari Kolombia.
Karyanya yang paling penting meliputi “La ventana en el rostro” (Jendela di Wajahku, 1961), “Taberna y otros lugares” (Kedai dan Tempat Lainnya) yang meraih Casa de las Américas Prize pada 1969, “Miguel Mármol” (1972), “Pobrecito poeta que era yo...” (Akulah Si Penyair Kecil yang Malang, 1975), “Poemas clandestinos” (Puisi-puisi Klandestin, 1975) dan “Historias prohibidas del pulgarcito” (Kisah Terlarang Tom Thumb, 1975).
Jasad Dalton tak pernah ditemukan. Namun, dalam berkas gugatan anak-anaknya menyebut dua kemungkinan: sebuah rumah di daerah sekitar Santa Anita di sebelah timur San Salvador, dan kawah batu vulkanik yang disebut El Playón di tenggara provinsi La Libertad, lokasi yang dipakai regu sayap kanan untuk membuang mayat kaum kiri yang mereka bunuh selama perang sipil.
Pada Mei 2010, keluarga Dalton meminta FGR menyelidiki kasus ini, tapi tak dilakukan. Mereka juga menyerukan agar President Funes memecat Meléndez, yang saat itu menjadi direktur Perlindungan Sipil.
Funes tak memecat Meléndez, justru mengangkatnya sebagai Sekretaris Urusan Umum.
Pada Agustus 2011, keluarga Dalton sekali lagi menanyakan kepada FGR apakah mereka akan menyelidiki kasus ini. Namun tak ada jawaban.
Akhirnya pada November tahun lalu, keluarga Dalton membawa kasus ini ke Komisi HAM Inter-Amerika (IACHR) yang berbasis di Washington.
Menurut para pengamat, penutupan kasus ini oleh sistem peradilan El Salvador dapat menjadi dasar bagi kasus yang diterima Pengadilan HAM Inter-Amerika, yang berkedudukan di Kosta Rika.
“Di negara ini hukum tak berpihak pada kebenaran, melainkan impunitas,” ucap Juan José Dalton.*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
