Batanghari

Dua Kantong Modal Sosial

coba

21.01.2012 20:26:55 WIB

Oleh Arpan Rachman

Sudahlah.

Saya ternyata memahami ilmu sosial dari buang air kecil. Mendiang orang tua mengajarkan, kalau punya hajat kita harus berdoa. Lalu, membuka celana, berjongkok, dan mengucurkan kencing. Cuur…, begitu saja.

Setelah lahir dan menetap, saya tidak pergi ke mana-mana. Kota tempat tinggal saya (dulu) indah, melankolik, penuh sejarah. Setiap akan bepergian, di hati ini selalu tersenandung lagu: “Walaupun banyak negeri kujalani, yang mashyur permai dikata orang, tetapi kampung dan rumahku di sanalah aku merasa senang…, lalala.”

Kenyataannya, langkah kecil ini pernah menapak di Prabumulih, Kayuagung, Sekayu, dusun Kayu Ara, Pagaralam, desa Parit, Indralaya, Pedamaran, Pangkalan Balai, Lahat, Tanjungpandan, Jambi, Bandarlampung, Pulau Condong, Jakarta, Tangerang, Purwakarta, Bandung. Lalu, kembali pulang ke pangkuan ibu. Dan ibu agak bercanda mengatakan bahwa langkah saya tak panjang.

Jadinya, saya tetap anak manis yang manja. Yang senang mengenyam legit pempek, makanan khas Palembang, yang dulu dijual mendiang orang tua saya di kolong Jembatan Ampera. Tentang orang tua itu, tak pernah saya membayangkan seorang juru peta bisa menjual pempek keliling. Dia orang pertama yang mengajari saya bagaimana kencing bukan dalam celana. Saya selalu tercekat kecut tiap ingat keringatnya….

Kota Pempek telah dibangun sebagai metropolitan baru di selatan Pulau Perca. Konsekuensinya, lumrah saja bila terjadi penggusuran Pasar 16 Ilir, pembabatan hutan mangrove Tanjung Api-Api, perluasan Mesjid Agung mengusir penduduk pribumi di Kampung Guru-Guru, pembakaran Lorong Ayam di Kelurahan 9/10 Ulu, dan sebagainya. Setelah penggusuran, pembabatan, perluasan, dan pembakaran ke mana para penduduk buang air?

Dulu, kedua tiang Jembatan Ampera merupakan toilet empuk bagi pembuang kencing yang melintas di sana, hingga muncul pertanyaan tentang mengapa kedua tiang itu tak dapat lagi diangkat naik-turun secara hidrolik sampai kini. Orang-orang punya jawab setengah berseloroh, “Karena tiangnya sudah berkarat akibat dikucuri air kencing orang Palembang.”

Sepanjang Sungai Musi pernah terkenal sebutan WC (water-closet) terpanjang di dunia. Apa pasalnya? Toilet tradisional orang di kawasan seberang ulu ternyata tidak lain bangunan kotak papan sebatas dada yang tanpa atap. Lantainya beberapa bilah kayu. Di antara bilah-bilah kayu itu, ada bagian yang renggang untuk berjongkok.

Tapi saya tak pernah nyaman duduk di WC tepian Sungai Musi. Ketika pandangan mata melayang bebas mengarungi sungai, rasa mulas di perut malah tertahan dan tak keluar-keluar juga ke belakang. Kondisi itu amat pribadi. Rasanya malu bila dilihat orang. Lagi pula saya tak mau diintip atau terlihat menyeringai selagi ngeden. Menyaksikan hal itu, seorang sepupu jauh bernama Solihin, meramalkan suatu hari saya akan merasa terasing dengan kota ini.

Katanya, "Kau berenang pun dak pacak."

Sungai Musi telah menolak saya. Cinta ini bertepuk sebelah tangan. Meski saya telah berjuang setengah mati sampai berdarah-darah supaya Sungai Musi merindukan saya juga.

Beruntungnya, ramalan Solihin sedikit keliru. Palembang mulai agak ramai. Apalagi ada mulai banyak hotel. Hotel-hotel itu mengerek peradaban kami naik jadi tinggi. Orang tak harus buang hajat lagi di pinggir sungai. Kami cukup berdiri santai, boleh sambil berpose bahkan. Aih, nikmatnya jadi orang beradab.

Cerita ini tak berakhir di toilet. Tapi baru mulai...

Saya pernah bersebelahan dalam toilet dengan dua sosiolog terkenal di negeri ini. Kami sama-sama mengucurkan air kecil yang tidak besar. Pertama kali, dengan Ignas Kleden. Tempatnya, di Hotel Sandjaja Palembang.

Iseng, saya melontarkan kelakar: "Anda sebelum jadi ilmuwan, dulu pernah ikut lomba karya ilmiah remaja (LKIR) di LIPI ya, Pak?"

Dia menggeleng tegas, lalu menjawab, "Tidak pernah!"

Sungguh, saat itu saya lupa mengindentifikasi bahwa Ignas Kleden bukan Yohanes Surya. Nama terakhir ini saja yang sempat ikut LKIR-LIPI era 80-an.

Kedua, saya pernah kencing bareng Denny JA, ahli sosial keluaran Amerika, yang mempopulerkan metode riset berupa survey di Indonesia. Kali itu, hajat kami di Hotel Horison.

Dalam posisi itu, saya merasa jadi orang besar yang boleh "duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi”. Begitu yakin, ketika melihat ke bawah, sebenarnya saya juga mempunyai sesuatu yang jauh lebih “besar” dan “tinggi” ketimbang Ignas dan Denny.

Saya menunduk dan berpikir: Itulah dua kantong modal sosial yang paling berharga dari laki-laki. Rasputin konon menjadikannya senjata revolusi.

Palembang yang sekarang nun jauh di sana itu pasti terus abadi dalam kenangan di benak ini. Mungkin besok saya pergi mendaftar kursus di lembaga bahasa. Suatu hari kelak berharap akan berhasil mengantungi sertifikat bahasa internasional. Lembar berharga itu bersama sekotak laptop dan seransel bekal akan jadi modal berharga demi menggamit secarik mimpi terakhir. Mungkin saya mau habiskan masa tua di tepi Sungai Irawady atau ke Negeri Satu Kaki.

Sebab cukuplah mendiang orang tua saya saja, si penjual pempek, yang jasadnya kini telah terbujur santai di Kemboja, dekat lapangan sepakbola. Cukup namanya seorang saja yang abadi terukir di batu nisan sebuah kuburan di Palembang.

***

Komentar


Berita Terkait