Budaya

Madya Indonesia: Bongkar Pagar Seng di Museum Tekstil Sumsel

coba

07.05.2011 15:19:16 WIB

Oleh Putra Kurusetra

MASYARAKAT Advokasi Warisan Budaya (Madya) Indonesia meminta pihak pembangun Palembang Heritage Hotel untuk membongkar pagar seng yang dipasang sekiling pagar Museum Tekstil Sumsel di Jalan Merdeka Palembang. Itu sebagai jaminan bahwa pembangunan itu tidak merusak cagar budaya.

“Mereka menyatakan tidak akan mengubah bangunan utama museum. Tapi saat membangun mereka memasang pagar seng setinggi dua meter. Tapi publik tidak tahu apa yang dilakukan di dalam pagar selama melakukan pembangunan hotel. Sebab banyak kasus, terdapat perbedaan antara yang dilukis di pagar dengan apa yang dilakukan di dalam. Jadi, kalau memang mereka tidak merusak bangunan museum, sebaiknya pagar seng itu dibongkar, agar publik dapat menyaksikannya,” kata Koordinator Madya Indonesa Joe Marbun, melalui telepon, Sabtu (07/05/2011).

Menurut Joe Marbun, setiap cagar budaya di Indonesia, merupakan tanggungjawab semua rakyat Indonesia. Siapa pun pengelola atau pemiliknya, tapi cagar budaya itu dikuasai negara, dan rakyat memiliki hak atas nasib dan kondisi cagar budaya tersebut.

“Jika cagar budaya itu dirusak, rakyat berhak memprotes dan mengadukannya. Setiap pihak yang merusak sebuah cagar budaya akan ada sanksi hukumnya. Ini sesuai dengan UU No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya Gubernur Sumsel Alex Noerdin menjelaskan peralihan Museum Tekstil Sumsel menjadi hotel tidak akan mengubah nilai sejarah bangunan tersebut. Hotel tersebut bernama Palembang Heritage Hotel.

"Bangunan hotel berada di belakang bangunan utama dengan enam lantai. Bangunan lama dipertahankan, dan dijadikan objek wisata Palembang tempo dulu,” kata Alex Noerdin, kepada pers, seusai menghadiri pelantikan pengurus Orwil ICMI Sumsel di Hotel Aryaduta Palembang, Kamis (05/05/2011).

Hotel tersebut akan digunakan selama SEA Games XXVI. Isinya hanya 40 kamar, dan diperuntukkan khusus tamu penting dan kenegaraan.

Sementara Kepala Dinas PU Cipta Karya Sumsel Rizal Abdullah, kepada pers, mengatakan fokus pengembangan hotel bukan di bangunan utama yang kini dijadikan Museum Tekstil, Ruang Pameran. Akan tetapi, membongkar bangunan tambahan dari museum itu, yakni di belakang dan terpisah dengan bangunan utama.

Sebelumnya sejumlah pekerja budaya dan seni di Palembang memprotes soal rencana alih fungsi bangunan Museum Tekstil Sumsel menjadi hotel. Alasan mereka, itu sama saja dengan menghancurkan bukti-bukti sejarah di Palembang. Mereka mendesak agar rencana tersebut dibatalkan.

“Kami bukan menolak pembangunan. Tapi sebuah pembangunan jangan sampai merusak lingkungan dan sejarah,” kata budayawan Palembang Erwan Suryanegara.

Komentar


Berita Terkait