31.05.2011 00:18:55 WIB
Oleh Gail Jennings
CAPE TOWN, AFRIKA SELATAN (IPS) – “PARA politisi mungkin berkata kepada kami bahwa sepeda merupakan pertanda kami tidak maju,” kata Patrick Kayemba, direktur pelaksana First African Bicycle Information Organisation di Uganda. “Tapi kami sendiri melihat bersepeda adalah kegiatan sosial-ekonomis. Ia bekerja –kami tak perlu menunggu seseorang menolong kami dengan transportasi publik yang lebih baik, lebih baik ini, atau lebih baik itu…”
“Sebuah sepeda di Afrika berarti akses,” ujar Kayemba di depan peserta konferensi internasional kerangka bersepeda di Sevilla, Spanyol, Maret 2011. “Anda memiliki sepeda, berarti Anda memiliki akses pada pendapatan, air bersih, pelayanan sosial, tempat kerja; sebuah sarana untuk membawa barang,” ujarnya. “Ini bukan untuk kesenangan, bukan juga untuk mengurangi berat badan –di sini, sebuah sepeda adalah hidup itu sendiri.”
Namun sepeda di Uganda merupakan komoditas mahal. Ini mendorong organisasi tempat Kayemba bekerja menjalankan skema mikro-kredit sepeda, juga skema sepeda boda boda. (Boda boda merujuk pada ojek –tapi orang Uganda juga memakai sepeda roda dua bertenaga pedal, dengan sebuah bantal di jok belakang untuk kenyamanan penumpang.)
“Biasanya boda boda tidak dimiliki pengendara itu sendiri, “ kata Kayemba. “Mereka harus menyetor seperempat penghasilan kepada pemilik boda boda. Ini berarti sebuah perjuangan dengan jam kerja panjang untuk mencari nafkah –tapi skema tabungan kami membantu mengurangi ketergantungan pengendara kepada pemilik boda boda.”
Seperti warga Uganda, kebanyakan pegendara sepeda di Namibia juga mengandalkan sepeda pemberian serta sepeda bekas pakai, yang disumbangkan badan-badan internasional dan disalurkan melalui organisasi-organisasi lokal.
Jaringan Pemberdayaan Sepeda Namibia (BENN), yang memfasilitasi impor sepeda di negara tersebut, telah membuka 25 gerai distributor lokal di seluruh negeri, yang dikenal sebagai Pusat Pemberdayaan Sepeda (BECs). Sejak diprakarsai Michael Linke dan Clarisse Cunha-Linke, BENN telah mengimpor sekira 20.000 sepeda dan memetik kisah sukses bagaimana sepeda mengubah hidup para penggunanya menjadi lebih baik.
Sebelum ada jaringan BEC (dimulai sejak 2006), hanya ada dua toko sepeda yang bagus dan lengkap di Namibia, ujar Michael Linke. Tentu saja ini membuat bersepeda, dan keuntungan yang mengikutinya, tak bisa diakses.
Bersepeda mengubah hidup
Linke menceritakan kisah Isabella Thipungu, yang tinggal di kampung keluarganya, delapan kilometer dari kota Divundu, di daerah Kavango, Namibia. Karena jarak, dia harus tinggal di asrama sekolah di Divundu, dan hanya bertemu dengan keluarga setiap akhir pekan. Sejak membeli sepeda di toko Makveto Bicycle, salah satu jaringan BEC di dekat rumahnya, dia kini pulang-pergi dari rumah ke sekolah setiap hari dan lebih menghemat waktu ketimbang jalan kaki. Sebelum Makveto beroperasi, toko sepeda terdekat berjarak 250 kilometer, ujar Linke.
Tak diragukan lagi bagi kebanyakan pesepeda di Afrika (orang yang menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi), bersepeda bukanlah langkah mundur tapi langkah maju. Dan sebagaimana ditekankan Gil Penalosa, konsultan kota ramah internasional, Copenhagen dan Amsterdam termasuk di antara kota-kota terkaya di dunia, dan kedua kota ini memiliki angka pesepeda urban tertinggi. Di kedua kota tersebut, transportasi sepeda tak memiliki status “pecundang” maupun “elit”; ia hanya cara termurah dan paling nyaman untuk berkeliling.
Seperti dijelaskan Edward Zozi, komuter Cape Town, dia bersepeda karena, “saya bisa menghemat uang. Lima ratus rand per bulan (sekira Rp 640.000). Sebelumnya, saya menggunakan minibus… setiap hari. Kini saya bisa menghemat.”
Komuter William Jim, berusia 50 tahunan, sudah bersepeda selama “lima tahun. Sebelumnya saya memakai taksi. Namun taksi sangat mahal…”
Kisah serupa tentang keuntungan bersepeda dapat dijumpai di Malawi, Zambia, Ghana, Kenya, Tanzania, Botsawana, dan Zimbabwe; bahwa sepeda menghemat biaya, meningkatkan kualitas hidup, dan berdampak mengurangi kemiskinan bagi mereka yang mengendarainya.
Meningkatkan akses
Ada juga tantangan: bahaya jalan raya di mana pemerintah tak memperhitungkan kebutuhan komuter sepeda dan harga sepeda baru terlalu mahal di luar jangkauan mereka yang membutuhkannya.
“Banyak orang ingin bersepeda. Namun tanpa lebih banyak sepeda, dan sepeda yang tepat, hal itu sulit,” ujar Kayemba kepada para delegasi Velo-Kota Sevilla, Maret lalu. “Kita membutuhkan sepeda dengan teknologi baru, tahan lama, dan tahan mengangkut barang-barang berat. Dan kita juga membutuhkan sepeda modis di Afrika yang membuat orang-orang yang tadinya menolak menjadi tertarik.”
Pidato Kayemba menarik perhatian –di antaranya perusahaan raksasa komponen sepeda Shimano, yang hadir dalam konferensi tersebut guna mencari pasar baru di Afrika. Dan pada Maret 2011 itu juga diluncurkan African Agenda for Bicyles, sebuah satuan tugas yang terdiri dari organisasi masyarakat sipil dan individu dari lebih 15 negara sub-Sahara, serta Shimano, dengan satu tujuan: menurunkan harga sepeda baru di Afrika. Mereka berencana mendorong pemotongan bea impor dan pajak untuk suku cadang sepeda serta mendirikan pabrik perakitan sepeda lokal.
“Ini akan menciptakan sebuah pasar sepeda yang sehat di Afrika yang akan memberikan sejumlah manfaat bagi penduduk, pengusaha, dan pemerintah.”
“Saya tak tahu mengapa butuh waktu lama,” ujar Kayemba. Tinggal bagaimana pemerintah memandang transportasi sepeda bukan hanya ‘sembari kita menunggu cukup uang untuk membeli mobil atau menumpang bus’. “Sepeda sekarang juga. Untuk kebaikan.”*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik
