30.12.2010 17:33:27 WIB
Oleh Ranjit Devraj ??
NEW DELHI (IPS) – HUKUMAN seumur hidup terhadap Dr Binayak Sen atas tuduhan membantu pemberontak Maois di India timur menggetarkan orang dan organisasi yang berjuang untuk memperkuat HAM di India, yang membanggakan diri sebagai negara demokrasi terbesar di dunia. ??
"Ini sebuah kemunduran bagi pembela HAM di negeri ini," kata Ramesh Gopalakrishnan dari Amnesti Internasional kepada IPS. "Kami masygul persidangan Sen akan berjalan fair dan memenuhi standar internasional." ??
Sen bilang kepada IPS, dalam pertemuan pada 20 November, bahwa meski ada jaminan, dia meragukan persidangan yang dijalankan pengadilan negeri di Raipur, ibukota negara bagian suku terbesar Chattisgarh dan pusat pemberontakan Maois selama tiga dekade yang mencengkeram India tengah dan timur. ??
"Kasus ini mengerikan... Layak mengajukan banding," kata Maja Daruwalla, direktur Commonwealth Human Rights Initiative, merujuk putusan pada 24 Desember. ??
"Seluruh episode Binayak Sen adalah satu indikasi sempitnya ruang yang tersedia untuk perbedaan pendapat di negara ini," kata Daruwalla kepada IPS. "Meski hukuman terhadap Sen pasti memiliki efek menakutkan, ini akan bikin lebih banyak orang bertekad untuk mempertahankan kebebasan sipil." ??
Suratkabar terkemuka, The Hindu, menulis dalam editorialnya bahwa hukuman itu "terlalu tinggi dan keterlaluan sehingga menimbulkan pertanyaan tentang landasan sistem hukum di India." ??
Gopalakrishnan menyebutnya hukuman "ekstrim dan kejam" itu menjadi hantu akan nasib beberapa aktivis HAM yang kini menghadapi proses hukum atas kerja atau pernyataan mereka. ??
Di antaranya penulis terkenal dan aktivis HAM Arundhati Roy, yang dituntut polisi di ibukota negara, pada 29 November, karena menghasut, sesuai pasal 124 (a) KUHP India, yang menyeret Sen dengan hukuman seumur hidup. ??
Roy juga didakwa bikin "tuduhan dan pernyataan yang merugikan integrasi nasional" serta menyebarkan rumor "dengan maksud menyebabkan pemberontakan atau pelanggaran terhadap perdamaian publik," saat mengisi sebuah seminar pada 21 Oktober, memperjuangkan kemerdekaan negara bagian Kashmir utara. ??
"Kasihan bangsa yang membungkam para penulisnya yang mengungkapkan pikiran mereka. Kasihan bangsa yang merasa perlu memenjarakan orang-orang yang meminta keadilan, sementara para pembunuh komunal, pembunuh massal, perusahaan perampok, penjarah, pemerkosa, dan mereka yang memangsa orang-orang miskin berkeliaran bebas," tulis Roy, peraih Booker-prize dalam sebuah pernyataan, bereaksi atas kehebohan yang dipicu pendiriannya mengenau status Kashmir. ??
Roy terlibat dalam sejumlah kampanye yang menarik perhatian internasional. Salah satunya menuntut pembebasan Sen. ??
Sen ditangkap tahun 2007 di Raipur dengan tudingan memberi informasi ke dan dari pemimpin Maois Narayan Sanyal yang dipenjara saat, sebagai dokter, dia memeriksanya. Sen tetap membantahnya. ??
Sanyal juga dituntut dengan tuduhan menghasut. Begitu juga Piyush Guha, seorang pengusaha, yang dituduh bertukar catatan dengan Sanyal melalui Sen. ??
Harapan Sen meningkat pada 2008 ketika dia mendapat penghargaan Jonathan Man di bidang kesehatan global dan HAM. Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan atas kerjanya, menjalankan klinik kesehatan di desa-desa suku terabaikan, Chattisgarh. ??
Menurut Sen, suku-suku itu terjebak di antara Maois dan Salwa Judum yang dikenal jahat, sebuah milisi yang melawan pemberontak bikinan pemerintah provinsi. ??
Organisasi nasional independen People’s Union for Civil Liberties (PUCL) menuduh Salwa Judum melakukan perkosaan dan pembakaran untuk mengintimidasi suku-suku dan meminta mereka untuk mengosongkan permukiman mereka. ??
Ketika sekira 700 desa di distrik Bijapur dan Dantewada, yang berpenduduk 350.000 orang, dikosongkan-paksa pada 2005-2006, Sen yang mewakili PUCL di Chattisgarh mengkritik secara terbuka pemerintah provinsi, melontarkan kemarahannya. ??
Pada Mei 2010, dua tahun setelah penahanannya, Mahkamah Agung turun-tangan untuk mempertanyakan lamanya penahanan Sen dan memberinya jaminan.
Chattisgarh dijalankan oleh pemerintah sayap kanan yang dipimpin Partai Bharatiya Janata. ??
Gopalakrishnan mengatakan bahwa, selain mengajukan banding atas hukuman Sen di pengadilan yang lebih tinggi, Amnesti Internasional berencana menggerakkan kembali kampanye internasional untuk mengamankan kebebasannya yang menarik dukungan dari 22 pemenang hadiah Nobel. ??
Pemberontak Maois menyatakan perjuangan bersenjata mereka melawan pemerintah, yang merenggut ribuan nyawa, bertujuan mengamankan hak suku-suku dan orang-orang termarjinalkan di wilayah kaya mineral namun dimiskinkan di timur dan tengah India. ??
Perdana Menteri Manmohan Singh menggambarkan pemberontakan Maois yang berumur empat dekade sebagai ancaman terbesar bagi keamanan dalam negeri India. Tapi pemerintahnya mengakui bahwa mereka punya landasan ekonomi dan ada ketidakadilan serius yang musti dijembatani.*
Translated by Imam Shofwan?
Edited by Budi Setiyono?
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
