Internasional

Pajak Tinggi bagi Rokok

16.08.2010 20:04:50 WIB

Oleh Marwaan Macan-Markar

BANGKOK (IPS) – PERUSAHAAN rokok multinasional Philip Morris punya alasan bagus untuk mengirimkan sinyal kemenangan saat Benigno Aquino III terpilih sebagai presiden Mei silam. Perkaranya, Aquino perokok aktif yang mengatakan takkan menghentikan kebiasaan itu.

Filipina, yang berpenduduk 94 juta jiwa, salah satu negara dengan pasar paling menguntungkan. Tapi lobi kuat industri tembakau di Filipina mendapat peringatan tajam Agustus ini bahwa kegemaran Aquino mengisap rokok “sewaktu dalam tekanan” tak akan menjauhkan Filipina untuk mengikuti tren global dalam mengurangi kebiasaan merokok.

Menteri Kesehatan Enrique Ona, yang baru saja diangkat, meyakinkan kelompok antitembakau setempat bahwa Departemen Kesehatan akan mendorong pajak tembakau lebih tinggi dan meningkatkan harapan bagi kebijakan lebih ketat. Selama ini Filipina menerapkan pajak dan harga eceran terendah bagi produk tembakau di kawasan Asia Tenggara.

Pernyataan Ona merupakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pejabat pemerintah, yang seringkali memakai istilah “pajak dosa” –untuk pajak tembakau dan minuman keras– yang menjadi kewenangan Departemen Keuangan, ujar para ahli kesehatan publik.

”Kami menyimpan proposal Menteri Ona tentang kenaikan pajak rokok (0,10 sen AS) per batang atau setara 4,50 peso Filipina per batang,” kata Maricar Limpin, direktur eksekutif Framework Convention on Tobacco Control Alliance (FCTCA) chapter Filipina, sebuah jaringan global aktivis antitembakau.

”Kenaikan pajak tembakau akan menaikkan harga rokok dan akan membantu mengurangi kebiasaan merokok di antara anak muda dan kaum miskin,” ujar Limpin dalam suatu pernyataan sesudah pertemuan kelompoknya dengan Ona.

Pajak untuk produk tembakau di Filipina hanyalah 14 persen, dibandingkan 69 persen negara-kota Singapura yang makmur dan 70 persen di Thailand –tertinggi di Asia Tenggara.

Maka, jika sebungkus Marlboro, produk dari Philip Morris Internasional (PMI), dijual 8,70 dolar AS di Singapura dan 2,50 dolar di Thailand, sebungkus rokok yang sama dijual cuma 0,70 sen AS di Filipina.

Ini lebih murah ketimbang Indonesia; sebungkus rokok yang sama berisi 20 batang itu dijual satu dolar, atau Laos seharga 1,73 dolar.

Harga rokok murah sudah lama menempatkan Filipina dalam daftar 15 negara konsumsi rokok tertinggi di dunia. Sebuah laporan memperkirakan 84 milyar batang rokok terhisap setiap hari di Filipina.

Vietnam dan Indonesia adalah dua negara Asia Tenggara lainnya yang berada dalam daftar itu. Indonesia memiliki jumlah perokok tertinggi sekitar 63 juta orang –atau 40 persen dari 125 juta perokok di Asia Tenggara.

Sekira 28,3 persen perokok Filipina berusia di atas 15 tahun –lebih dari 24,6 juta orang–, ujar taksiran kelompok nonpemerintah macam Health Justice. Survei Global Youth Tobacco pada 2007 memperkirakan anak-anak berusia 13 tahun adalah perokok di negara itu, menyumbang 4 juta remaja antara usia 13 dan 15 tahun yang kecanduan rokok.

”Kecenderungan merokok di (negara) kami sangat tinggi dan berkontribusi pada tingginya angka kematian akibat rokok,” ujar Deborah Sy, direktur eksekutif Health Justice, dalam wawancara via telepon dari Manila. ”Kami memperkirakan 10 orang Filipina meninggal setiap jam karena penyakit akibat tembakau.”

Kematian ini termasuk di antara 5 juta penduduk di seluruh dunia yang mati setiap tahun akibat penyakit terkait tembakau, seperti kanker paru-paru, serangan jantung, stroke, dan penyakit paru-paru kronis, ujar Organisasi Kesehatan Dunia.

Tapi rincian suram semacam itu tak berarti menjadi jalan mudah bagi Kongres Filipina untuk mengesahkan UU “pajak dosa” yang baru. ”Pernyataan ini bermaksud memacu Kongres untuk bertindak, mengingat UU tahun 2004 untuk kenaikan pajak berakhir pada 2011,” ujar Sy. ”Tapi ia masih lama sebelum menjadi kebijakan yang benar.”

Industri tembakau melakukan kampanye agresif untuk meraup keuntungan di pasar yang relatif lebih bebas, dengan menganjurkan merokok, merupakan tantangan tersendiri bagi aktivis di Filipina. Ini tak seperti di Thailand, Singapura dan Malaysia.

”Industri tembakau mulai membidik perokok perempuan di Filipina dan remaja guna meningkatkan angka penjualan,” ujar Joy Alampay, jurubicara Aliansi Pengendalian Tembakau Asia Tenggara, sebuah lobi antirokok regional. ”Mereka mengenalkan rasa baru untuk menggaet perokok muda.”

Misalnya “sentuhan feminin,” sebagaimana Alampay gambarkan, termasuk bungkus rokok yang menawarkan rasa coklat dan mint, dengan warna pastel atau pola bunga.

Contoh lain, industri tembakau selalu menekankan bahwa mereka telah membantu perekonomian Filipina dengan menyediakan lapangan kerja untuk ribuan petani di utara negara tersebut, tempat penanaman tembakau.

Dan ketika dipersoalkan, Philip Morris Internasional melalui tangan pemerintah pada Februari menggandeng rekanan lokal, Fortune Tobacco Corp, untuk mendirikan perusahaan baru yang diharapkan menguasai 90 persen pasar rokok. Ia menunjukkan betapa besar pengaruh perusahaan rokok dalam hierarki politik negara itu.

Tak kurang dari mantan Presiden Gloria Macapagal Arroyo meresmikan pabrik PMI senilai 1,6 milyar peso (atau 35,6 juta dolar) di provinsi Batangas pada 2003, ujar situs ABS-CBN News yang berkantor di Manila. ”Dia memujinya sebagai bukti kepercayaan investor terhadap pemerintahannya.”*


Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Komentar


Berita Terkait