Pendidikan

Cita-Cita Kaum Muslim Palembang Kini Dibangun Kembali

coba

04.11.2010 17:57:03 WIB

Oleh ABDURACHMAN CW

SETELAH menjadi pusat pendidikan agama Budha, sekitar abad ke-7-13, tepatnya di masa kerajaan Sriwijaya, Palembang akan dibangun sebagai pusat pendidikan agama Islam pada abad ke-18 di masa Kesultanan Palembang Darussalam. Namun, proyek tersebut terhenti sebab Belanda keburu menguasai Palembang setelah perlawanan Sultan Mahmud Badaruddin II terhadap perusahaan VOC yang ingin memonopoli ekonomi, gagal. Bukti dari proyek tersebut yakni masjid Agung atau juga dikenal sebagai masjid Sulton.

Proyek tersebut bukan hanya keinginan sultan, para ulama di Palembang, juga para ulama di belahan dunia lainnya, guna melanjutkan kesuksesan pusat pendidikan Islam di Asia Timur dan Asia Barat. Tepatnya ingin membangun pusat pendidikan Islam di belahan Asia Selatan dan Tenggara. Pada saat itu, ribuan ulama dari berbagai belahan dunia, khususnya dari Hadramaut Yaman, sudah berkumpul di Palembang. Tak heran, Palembang pun dikenal sebagai “Hadramaut II” lantaran begitu banyaknya
ulama dari kota itu berada di Palembang.

Pada saat itu muncul ulama yang telah memberikan pengaruh yang besar bagi pendidikan agama Islam di Palembang, yang pengaruhnya cukup luas di Nusantara dan dunia, yakni Abdul Shomad Al-Valimbani.

Kini, empat abad kemudian, tampaknya keinginan Palembang sebagai pusat pendidikan agama Islam kembali dijalankan. Bedanya, bila dahulu proyek tersebut akan dijalankan di kawasan Palembang Ilir, sekarang berada di kawasan Palembang Ulu, tepatnya di kawasan Jakabaring. Jakabaring, yang 20 tahun lalu, menjadi kawasan rawa dengan sedikit penduduknya, kini berubah menjadi kawasan yang selalu dikunjungi banyak orang. Baik masyarakat Sumatra Selatan, Indonesia, serta international. Sebab berbagai event olahraga, khususnya sepakbola, terus berlangsung di kawasan ini.

Selain terdapat berbagai fasilitas olahraga, di Jakabaring juga terdapat kantor pemerintahan dan fasilitas ekonomi seperti Pasar Induk Jakabaring.

Guna mewujudkan Jakabaring sebagai pusat pendidikan agama Islam terbesar di Indonesia maupun Asia, dan mungkin di dunia, berbagai fasilitas pendidikan agama Islam dibangun di kawasan tersebut.
Setelah berdiri Masjid Cheng-Ho, di Jakabaring akan dibangun Masjid Raya Sriwijaya, yang merupakan masjid terbesar di Indonesia. Dan selanjutnya akan dibangun kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah, serta dibangun pula sarana Islamic Center.

Guna mewujudkan keinginan tersebut, tentunya dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Maka guna mengatasinya, pembangunan Masjid Raya Sriwijaya, kampus UIN Raden Fatah, serta Islamic Center, menjadi pembangunan yang terpadu. Artinya sumber dananya selain dari pemerintah pusat, juga dari donasi tokoh dan masyarakat Sumatra Selatan yang berada di Jakarta maupun daerah lainnya.
Hal ini seperti disampaikan Gubernur Sumatra Selatan H. Alex Noerdin ketika bertemu dengan sejumlah pimpinan dan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Selatan, serta sejumlah ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) Sumatra Selatan, beberapa waktu
lalu.

Menurut Alex Noerdin, kendala pembangunan terletak pada Islamic Center, yang membutuhkan biaya lebih kurang sebesar Rp400 miliar. Artinya pembangunan tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu 1-2 tahun dengan menggunakan APBD Sumsel. Sebab saat ini anggaran pembangunan nonfisik telah terfokus pada program pendidikan gratis, pengobatan gratis, serta bantuan hukum gratis. Oleh karena itu, jika pembangunan Islamic Center ingin dipercepat dapat dijalankan atau terpadu dengan pembangunan Masjid Raya Sriwijaya dan kampus UIN Raden Fatah.

Strategi ini mendapat dukungan dari MUI dan FUI Sumsel. Bahkan menurut K.H. Sodikun, ketua Umum MUI Sumsel, dengan pembangunan terpadu tersebut, menjamin Islamic Center akan ramai dikunjungi masyarakat, khususnya para mahasiswa dari UIN Raden Fatah.

"Jangan dibangun terpisah-pisah, nanti Islamic Center kosong. Mahasiswa usai kuliah di kampus, bisa langsung ke Islamic center menambah khazanah keilmuan bersama masyarakat sekaligus di masjid raya untuk shalat dan ibadah," katanya.

Dukungan MUI Sumsel bukan sebatas mensport strategi pembangunan yang dijalankan pemerintah Sumatra Selatan, mereka juga melakukan gerakan Rp1.000 guna mengumpulkan biaya buat pembangunan Masjid Raya Sriwijaya.

“Pembangunan masjid raya itu tidak menggunakan anggaran pemerintah. Murni hasil donasi para tokoh dan masyarakat Sumsel. Nah, gerakan Rp1.000 ini merupakan langkah merangkul semua partisipasi masyarakat terhadap pembangunan Masjid Raya Sriwijaya,” katanya.

Potensi Pusat Pendidikan Islam
KEINGINAN menjadikan kawasan Jakabaring sebagai pusat pendidikan Islam, bukan hanya didukung oleh faktor sejarah seperti disinggung sedikit di atas, banyak hal yang mendukungnya,

Masjid yang berada di Sumatra Selatan jumlahnya mencapai ribuan buah. Baik masjid yang berusia ratusan tahun, hingga masjid yang baru dibangun. Masjid-masjid ini bukan hanya sebagai tempat salat dan berdoa, juga sebagai ruang belajar atau sebagai tempat mencari ilmu pengetahuan Islam bagi umat muslim.

Pada akhirnya, di masjid-masjid itu selain melahirkan para pendidik atau ulama, yang sebagian besar tidak popular, juga begitu banyak anak muda yang berpotensi dalam mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan Islam.

Selain masjid, di Sumatra Selatan juga banyak terdapat pesantren atau lembaga pendidikan berbasis ajaran agama Islam. Sama halnya dengan masjid, lembaga pendidikan Islam ini juga melahirkan banyak anak muda yang berpotensi dan ulama atau pendidik yang mumpuni.

Potensi lainnya, banyak tokoh agama Islam di Sumatra Selatan yang hidup dan berkembang di kampung-kampung. Selama ini mereka hanya “bergaul” di sekitar kampung, sehingga potensinya tidak berkembang secara meluas.

Yang tak kalah pentingnya, para tokoh agama atau lembaga pendidikan Islam tersebut, diyakini juga memiliki sejumlah kitab pemikiran Islam hasil olah pikir dan rasa para tokoh agama atau ulama di masa lalu, tentunya memberikan pengetahuan yang luas dan mendalam mengenai ajaran Islam di masa kekinian, yang selama ini belum dapat disampaikan secara luas dan mendalam, lantaran belum memiliki ruang yang efektif

Dengan potensi-potensi yang ada tersebut, pembangunan Pusat Pendidikan Islam Terpadu di Jakabaring merupakan solusi yang cukup baik, dan perlu dukungan dari semua pihak.
Artinya, semua kekuatan yang muncul dan lahir dari masjid, pesantren, kampung, maupun lainnya, dapat berpadu dan bersinergi di Pusat Pendidikan Islam Terpadu di Jakabaring tersebut, sehingga Islam sebagai ajaran agama maupun sebagai pusat ilmu pengetahuan dapat teroptimalkan, kemudian melahirkan berbagai gagasan dan sumber daya manusia, yang berguna bagi pembangunan Indonesia, khususnya Sumatra Selatan, di masa kekinian dan mendatang.

Sinergi dengan Olahraga dan Tanjung Api-Api
APAKAH pembangunan Pusat Pendidikan Islam Terpadu ini akan bertentangan atau berlawanan dengan penyelenggaraan SEA Games 2011 atau event olahraga lainnya, serta rencana pembangunan pelabuhan dan pusat industry Pelabuhan International Tanjung Api-Api? Jawabnya tentu saja tidak.

Sama halnya seperti di masa kerajaan Sriwijaya atau Kesultanan Palembang Darussalam, dunia pendidikan agama dan aktifitas besar lainnya saling bersinergi. Bila di masa kerajaan Sriwijaya, pusat
pendidikan agama bersinergi dengan kekuatan laskar atau armada lautnya, serta aktifitas ekonomi perdagangan atau pelabuhannya, kemudian di masa Kesultanan Palembang Darussalam, pendidikan agama bersinergi dengan perdagangan dan eksploitasi sumber daya alam seperti timah serta pengembangan wilayah kekuasaan.

Jadi, di masa kekinian pusat pendidikan agama Islam tentunya akan bersinergi dengan berbagai event olahraga, sebagai icon yang dominan pada masyarakat dunia saat ini, serta dengan pembangunan Pelabuhan International Tanjung Api-Api sebagai sentra aktifitas ekonomi.

Jika sinergi ini berjalan secara baik, maka akan tercipta manusia Sumatra Selatan yang agamis, makmur, dan sehat. Tiga karakter ini yang akan mewujudkan manusia unggul dan masyarakat besar, dan bukan tidak mungkin akan melampaui kejayaan di masa kerajaan Sriwijaya, kerajaan Islam Palembang atau Kesultanan Palembang Darussalam.

Komentar


Berita Terkait