Pendidikan

Ibadah Umat Muslim Sumsel

25.11.2010 12:47:37 WIB

PADA kebudayaan apa pun, termasuk pada ajaran agamanya, pendidikan merupakan persoalan yang sangat penting. Pada ajaran Islam yang dianut dan dijalankan kaum muslim, pendidikan merupakan salah satu hal yang utama. Sebab melalui pendidikan manusia akan mengenal Allah bersama ciptaanNya, kasih-sayangNya, dan semua kekuasaanNya. Maka, Islam pun dimulai dengan iqra atau “bacalah” saat Allah memutuskan Muhammad sebagai Rasulullah. Selain itu, Allah menyebutkan dirinya sebagai “rabb” yang berarti pemelihara dan pendidik.

Umat muslim juga pantas bangga sebab apa yang diajarkan Islam itu saat ini menjadi hak-hak dasar dari hak-hak asasi manusia (HAM), yang telah menjadi pijakan hukum atau bernegara banyak bangsa di dunia.

Sebagai pengikut ajaran nabi Muhammad, program pendidikan gratis yang diusung pemerintahan Alex Noerdin dan Eddy Yusuf di Sumatra Selatan, merupakan program yang tidak hanya dilihat berdasarkan pada kepentingan atas kebutuhan sumber daya manusia, tapi dapat berarti bagian dari kesadaran spiritual sebagai pribadi maupun pemimpin umat.

Artinya, sabda Rasulullah agar manusia mencari ilmu sampai jasadnya tertinggal di dunia, atau burulah ilmu hingga ke negeri yang jauh seperti Cina, ingin dipermudah oleh Alex Noerdin dan Eddy Yusuf melalui program pendidikan gratis tersebut.

Mengapa dipermudah? Sebab dengan perubahan zaman yang terjadi saat ini, pendidikan bukan lagi barang murah. Pendidikan membutuhkan biaya yang cukup besar. Hampir semua penunjang pendidikan harus menggunakan biaya, nyaris tidak ada yang gratis. Mungkin biaya pendidikan tersebut setara dengan kebutuhan pokok seperti pangan dan sandang.

“Program ini merupakan ibadah kami,” kata Alex Noerdin, dalam sebuah kesempatan. Sebelumnya Alex Noerdin sukses menjalankan program pendidikan gratis saat memimpin kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan.

Dasarnya, jelas Alex, di tengah kian mahalnya biaya pendidikan, tidak semua masyarakat hidup dalam kemakmuran atau berkecukupan, sehingga setiap tahun bahkan setiap bulan dan hari, banyak orangtua mengalami kesulitan membiaya pendidikan anak-anaknya.

Melihat kondisi tersebut, Alex Noerdin dan Eddy Yusuf, seperti yang disampaikannya saat kampanye pemilihan kepala daerah tahun 2008 lalu, menilai sebenarnya ada dana yang dijalankan pemerintahan di Sumatra Selatan dapat dihematkan atau diefektipkan, sehingga dana tersebut dapat menunjang dunia pendidikan, seperti membiayai operasional lembaga pendidikan.

Harapannya, bila program tersebut dijalankan, setiap masyarakat miskin di Sumatra Selatan dapat menikmati pendidikan dasar, sehingga mereka berkesempatan meniti pendidikan yang lebih tinggi setelah adanya perubahan ekonomi keluarganya, dan pada akhirnya mereka tidak digilas zaman yang membutuhkan atau mengutamakan manusia berpendidikan atau memiliki ilmu pengetahuan yang luas.

Kini, saat program tersebut dijalankan pemerintahan Alex Noerdin dan Eddy Yusuf, secara signifikan program tersebut telah memberikan dampak positif pada dunia pendidikan di Sumatra Selatan. Meskipun agar lebih optimal program tersebut masih membutuhkan dukungan dari semua pihak, baik pemerintah kabupaten dan kota, juga masyarakat Sumatra Selatan secara luas.

Ibadah Umat Muslim
Ada satu pertanyaan penting. Apakah program ini akan terus berjalan, seandainya Alex Noerdin dan Eddy Yusuf tidak lagi memimpin Sumatra Selatan, sebab aturan hukumnya mereka maksimal memimpin Sumatra Selatan selama 10 tahun?

“Kami harapkan program ini terus menjadi pijakan para pemimpin Sumatra Selatan ke depan,” kata Abubakar, seorang warga di kawasan Kertapati Palembang. “Tapi saya tidak tahu, apakah pemimpin mendatang masih memandang program ini sangat penting,” lanjutnya.

Bila dimengerti sebagai ibadah, lanjut pengurus sebuah langgar ini, program pendidikan gratis tidak akan berhenti di mata umat muslim. Sebab dapat dikatakan program pendidikan gratis yang diusung Alex Noerdin dan Eddy Yusuf merupakan penggalian yang cerdas mengenai pendidikan di mata ajaran Islam.

Sebagaimana diketahui, Islam menyebut pendidikan dengan istilah tarbiyah. Kata ini berasal dari kata rabba, yurabbi yang berarti memelihara, mengatur, mendidik, seperti yang terdapat dalam surat al-Isra’. Rabb itu sendiri merupakan salah satu sifat Allah yang berarti pemelihara dan pendidik.

Sebagai ciptaan Allah, manusia berkewajiban memuji rabb baik dalam kondisi senang, susah, bahagia, atau saat menerima nikmat maupun musibah. Sebab tidak ada satupun yang datang dari rabb dalam bentuk keburukan. Semuanya bertujuan untuk kebaikan manusia, karena Allah adalah pendidik. Sebab pada dasarnya manusia dilahirkan tanpa mengetahui apa pun, seperti firmanNya dalam surat Al Nahl ayat 78 yang artinya:

”Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa dan Dia memperlengkapi kamu dengan pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.”

Rasulullah dapat disebut sebagai seorang pendidik yang baik. Dia mampu memerankan dirinya sebagai guru terhadap bangsa Arab yang saat itu tidak beradab, agar mau memperlajari dan menjalankan perintah Allah melalui firman-firmannya. Sampai saat ini pun, meskipun secara fisik Rasulullah tidak ada lagi, tapi sosoknya tetap menjadi guru bagi umat muslim guna mengenal Allah dengan segala “mahaNya”.

Menurut cendekiawan muslim Dr. Baihaqi AK, dalam sebuah artikel ilmiah yang ditulisnya semasa hidup, sebelum Islam hadir di tanah Arab, anak-anak tidak mendapat perlakuan yang baik, termasuk pendidikan. Pada sebagian suku bangsa Arab malah ada tradisi atau kebiasaan membunuh anak perempuan dengan cara menguburnya dalam keadaan hidup tanpa sedikitpun merasa belas kasihan.

Kemudian Islam membentuk kondisi atau suasana baru bagi nasib anak-anak Arab. Islam telah mengharamkan pembunuhan anak melalui firman-firman Allah. Pembunuhan terhadap anak-anak itu dikatakan Allah sebagai tindakan bodoh atau tidak memiliki pengetahuan atau perilaku orang yang tidak berpendidikan. Misalnya pada surat Al An’am ayat 140, yang artinya: “Sesungguhnya telah rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan, tanpa pengetahuan.”

Menurut Baihaqi, Rasulullah telah memberikan isyarat mengenai dunia pendidikan. Ada empat belahan mengenai pendidikan tersebut. Yang pertama pendidikan keagamaan, kemudian pendidikan akal dan ilmu pengetahuan, lalu pendidikan akhlak mulia dan terakhir pendidikan jasmani dan kesehatan.

Rasulullah sendiri telah melalui keempat belahan tersebut sejak awal. Madrasah pertama, jika dapat dikatakan madrasah, yang dipilihnya sebagai tempat pendidikan secara formal adalah rumah AL Arqam bin Abi Al Arqam. Di situ Rasulullah mengajarkan pokok-pokok ajaran Islam, menyampaikan wahyu-wahyu yang diterimanya dari Allah kepada sahabat-sahabatnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan dan memberi contoh-teladan. Sedangkan secara informal dia mengajarkan agama Islam di rumahnya, di lapangan terbuka, dan di mana saja, yang tentunya di tempat yang suci.

Dalam menjalankan pendidikan ini, Rasulullah dibantu para sahabatnya yang berperan menjadi “guru” seperti Umar Ibnu Al Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Salam, Salman Al Farisi.

Sedangkan metode pengajaran di zaman Rasulullah yakni berpidato, menerangkan, tanya jawab, diskusi, teladan dan peragaan. Metode yang tersebut terakhir terlihat saat Rasulullah memperagakan salat kepada pengikut-pengikutnya, memperagakan akhlak Islami dan berbagai tindakan atau perbuatannya. Dengan metode- metode itu Rasulullah menyeru umat muslim ke arah meng-Esa-kan dan menyembah Allah, membina akhlak mulia dalam kalangan pengikutnya, seperti persaudaraan, persamaan, saling sayang dan hormat, menjaga hak dan kewajiban.

Dari apa yang dilakukan Rasulullah itu jelas sekali pendidikan merupakan ibadah menuju kebaikan dalam mengenal dan mencintai Allah. Tak heran Rasulullah bersabda, muslim yang soleh, yang diterima Allah di sisi terbaikNya, setelah meninggal dunia, salah satunya meninggalkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

Sebagai tanggungjawab atau ibadah umat muslim, maka program pendidikan gratis menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi bagi masyarakat Sumatra Selatan di masa mendatang, selama masih ada sebagian saudaranya hidup miskin atau tidak mampu.

Mungkin lebih tepatnya tidak ada dalil yang pantas menghapuskannya. Termasuk dalil di luar ajaran Islam, sebab jaminan pendidikan sudah menjadi bagian dari hak-hak dasar dari hak asasi manusia (HAM).

Dukungan Masjid
Guna mendukung dan memperkuat program pendidikan gratis yang dijalankan pemerintah Sumatra Selatan, masjid sebagai rumah ibadah umat muslim dapat mengambil peranan yang sangat penting.

Sebagaimana diketahui, masjid selain berfungsi sebagai tempat salat atau membaca Alquran, juga sebagai ruang diskusi dan pertemuan umat muslim dalam membicarakan atau mengatasi berbagai persoalan yang ada di sekitarnya.

Guna menjalankan fungsi tersebut, tak heran dengan sukarela dan ikhlas umat muslim melakukan sedekah atau infaq di kas masjid, terutama pada hari Jumat. Harapan mereka dana yang terkumpul itu dapat menjadikan masjid sebagai media pemakmur bagi umat muslim di lingkungan masjid. Salah satunya membantu biaya berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat tidak mampu atau miskin.

“Dulu saya pernah dibantu pengurus masjid buat membayar iuran sekolah saya yang tertunggak tiga bulan. Orangtua saya tidak punya uang buat mengatasinya. Dana itu diambil dari simpanan masjid. Tapi entah sekarang, apa masih banyak masjid yang suka membantu biaya sekolah,” kata Mahmud, warga Kalidoni, Palembang.

Keraguan Mahmud itu cukup beralasan, sebab di tengah berdirinya banyak masjid di Sumatra Selatan, persoalan biaya pendidikan bagi masyarakat miskin terus berlangsung. Memang program pendidikan gratis yang dijalankan pemerintah sudah dapat menutupi sejumlah kekurangan yang dirasakan masyarakat, tapi masih ada cela yang menyebabkan seorang pelajar mengalami kesulitan buat belajar, seperti tidak mampu membeli buku tulis dan alat tulis, atau pakaian sekolah.

Harapan Mahmud tersebut sebenarnya tidak akan mengganggu pengeluaran masjid secara setiap bulannya. Sebab secara rasional, di luar biaya air bersih, listrik, transportasi penceramah, atau pembangunan, masih ada sisa uang yang selama ini dijadikan simpanan.

Jika dihitung secara kasar, misalnya sebuah masjid yang dapat mengumpulkan dana infaq setiap minggu sekitar Rp350 ribu, atau sekitar Rp1,4 juta per bulan, dapat menyalurkan dana buat biaya pendidikan sekitar Rp200 ribu. Biaya ini didapat setelah dikurangi biaya listrik dan air yang berkisar Rp500 ribu per bulan, biaya transportasi penceramah sekitar Rp500 ribu per bulan, dan biaya perawatan masjid sekitar Rp200 ribu per bulan, maka dana yang tersisa sekitar Rp200 ribu.

Jika dana Rp200 ribu ini dijadikan biaya pendidikan, minimal ada 20 anak dari keluarga miskin di lingkungan masjid yang dapat dibantu. Dana sebesar Rp20 ribu sudah cukup buat seorang anak membeli buku tulis dan alat tulis setiap bulan.

Bayangkan, sebagai contoh, bila masjid di Palembang ada sekitar 500 buah, maka setiap bulan sekitar 10 ribu anak dari keluarga miskin yang dapat dibantu biaya pendidikannya, atau sekitar Rp100 juta dana umat muslim di Palembang yang tersalurkan buat dunia pendidikan.

Memang dengan adanya bantuan pendidikan ini, masjid kemungkinan besar tidak memiliki dana simpanan. Tapi, bukankah fungsi masjid buat memakmurkan masyarakat di sekitarnya bukan sebaliknya?

Selain itu, investasi pendidikan pada manusia jauh lebih bermanfaat dibandingkan bangunan yang jelas akan menua atau rusak dimakan usia. Sementara bila ada ribuan anak yang berpendidikan, kemungkinan besar akan banyak muslim yang hidupnya sukses, baik secara sosial maupun ekonomi. Sehingga ke depan mereka akan menghidupi masjid. Selain itu, pahala yang didapatkan kaum muslim yang berinfaq maupun yang mengurusnya akan berlimpah, sebab memfasilitasi ilmu yang bermanfaat.

Sebenarnya bukan hanya masjid dapat memerankan diri sebagai pendukung program pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin di Sumatra Selatan. Kaum muslim yang kaya juga pantas menyisihkan sebagian hartanya buat pendidikan. Bahkan para perokok berat yang tidak mengenal status miskin atau kaya juga dapat berperan. Bila seorang perokok dalam satu hari dapat menghabiskan satu bungkus rokok, biayanya berkisar Rp10 ribu, dia dapat berhemat satu batang per hari atau seharga Rp800. Jika di Sumatra Selatan ini terdapat satu juta perokok berat, maka dana yang terkumpul adalah Rp800 juta per hari! Sebuah dana yang lebih dari cukup buat membiayai semua anak dari keluarga kurang mampu atau miskin di Sumatra Selatan.

Tiga contoh di atas, tentunya bukan sebagai pihak yang bersalah atas persoalan biaya pendidikan di masyarakat. Sebab segala sesuatu, termasuk yang sederhana, tetap membutuhkan sebuah sistem yang bekerja secara baik, termasuk sistem yang akan mengelola infaq kaum muslim terhadap dunia pendidikan. Dan semoga sistem itu akan lahir dari kesadaran umat muslim, yang melihat pendidikan merupakan ibadah, bukan semata tanggungjawab pemerintah. Setidaknya program pendidikan gratis yang dijalankan pemerintah Sumatra Selatan menjadi spirit umat muslim buat meningkatkan ibadahnya. (acw)

Foto (Ilustrasi): http://kumpulan-artikel-menarik.blogspot.com

Komentar


Berita Terkait