11.08.2010 19:30:01 WIB
Oleh HANNAH RIBENSTEIN
NEW YORK (IPS) – SEORANG perempuan menunggu di peron kereta bawah tanah; kepalanya tertunduk, pura-pura mengabaikan penghinaan. Duduk di kursi bar, sekelompok teman berbagi lelucon rasis, cekikikan menahan tawa. Dengan berlutut, seorang anak muda veteran perang mengatakan kepada tunangannya tentang keputusannya untuk kembali ke medan perang. Dua orang menunggu dengan cemas giliran wawancara kerja. Seorang pria tua dan seorang seniman graffiti muda duduk bersama di sebuah bangku, membahas kekuatan bahasa.
Semua adegan ini terjalin dengan sebuah benang merah: apa artinya menjadi Muslim di New York, sembilan tahun setelah peristiwa 11 September 2001. ??
Pertunjukan itu, yang telah dipentaskan di gereja, sekolah, dan pusat-pusat komunitas lebih dari selusin kali di seluruh kota, diberi judul "Di Balik Kerudung: Menjadi Muslim (dan Non-Muslim) di Amerika, Pasca-9/11.” Ia adalah karya Proyek TE'A, suatu usaha kolaboratif yang menggabungkan cerita, pementasan teater, dan dialog dalam upaya menciptakan pemahaman bersama dan perubahan sosial.??
TE'A, yang berarti “Theatre, Engagement, dan Action” (teater, waktu, dan aksi) adalah gagasan Radha Kramer, seorang perempuan yang tak kenal lelah, dengan mata bersinar setiap kali bicara tentang filosofi di balik proyek itu: sebuah teori akademik yang disebut “pendekatan pemahaman” (Insight Approach), dirintis oleh seorang filsuf-teolog abad ke-20: Bernard Lonergan. ??
Teori Lonergan, kata Kramer kepada IPS, didasarkan pada sebuah ide penting tentang teknik-teknik resolusi konflik: bahwa dengan memahami pengalaman orang lain, kita belajar untuk berempati dan karenanya menciptakan kesempatan untuk menjalin hubungan satu sama lain yang melampaui batas-batas sosial dan budaya. ??
"Pemahaman adalah di mana percakapan dimulai," ujar Kramer kepada IPS, "karena begitu Anda memahami diri Anda sendiri, atau orang lain, Anda selalu berubah." ??
"Seluruh proses TE'A sendiri merupakan mekanisme yang menghasilkan pemahaman," katanya. Bahkan, pertunjukan seperti "Di Balik Kerudung" adalah puncak dari proses berbulan-bulan yang berawal dan berakhir bukan dalam pikiran seorang sutradara atau pemain drama tapi pada masyarakat sekitar. ??
Proses TE'A dimulai dengan mengumpulkan sekelompok seniman untuk mendiskusikan isu-isu sosial yang paling penting bagi mereka. Ketika sebuah konsensus tentang satu topik diperoleh, kelompok itu kemudian masuk ke komunitas mereka untuk berbicara dengan orang-orang tentang pemikiran mereka dan pengalaman soal isu tersebut. ??
Setelah beberapa bulan serta lusinan wawancara dan diskusi, para seniman berkumpul lagi untuk membuat pementasan teater yang menampilkan suara dari orang-orang yang telah diajak berbincang. Bagian dari adegan itu disampaikan kepada masyarakat, sebagai awal sebuah dialog yang difasilitasi.
Gagasan itu, ujar Kramer, adalah tentang menghadirkan isu-isu sosial yang kompleks dalam sebuah ruang yang terlindungi dan tanpa ancaman.
"Anda mengambil bagian adegan teater yang matang dengan semua isu ini –konflik, hubungan yang rumit– dan Anda mementaskan di atas panggung sehingga penonton bisa menjadi bagian dari dunia itu dan terlibat dalam relasi ini tanpa terancam olehnya," katanya.
Dengan melibatkan penonton lewat cara ini, Kramer menjelaskan, kesempatan untuk memahami tercipta. "Ketika Anda memiliki pemahaman yang cukup, seperti 'Oh, perempuan berjilbab itu mungkin bukan orang yang selama ini saya duga,' itu mendorong rasa ingin tahu: siapa dia?" ??
Produksi unggulan TE'A, "Di Balik Kerudung," mulai dibikin Januari lalu dan kali pertama dipentaskan Mei 2009. Topik menjadi Muslim dalam suasana pasca-9/11 dipilih dengan suara bulat oleh anggota perkumpulan TE'A. ??
"Ada sesuatu yang bergejolak, tapi tak ada orang yang membicarakannya," kata Kramer, tentang apa yang mendorong pilihan itu, "Tak ada yang bertanya kepada umat Muslim di New York, ‘Apa yang terjadi? Bagaimana perasaan Anda? Keputusan apa yang Anda dibuat sejak 9/11? Siapa Anda? Mau jadi apa Anda?‘" ??
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini, ujar Kramer, adalah potret dari suara-suara beragam dalam masyarakat Muslim. ??
Yang cukup menarik, tak seorang pun dari lima anggota pemain proyek TE’A yang baru-baru ini tampil dalam pertunjukan “Di Balik Kerudung” adalah Muslim. Ketika ditanya tentang ketidaksesuaian yang terlihat antara isu dan penyampai pesan, Kramer menanggapi serius. ??
"Itulah keindahan seni dan teater," ujarnya. "Kita bisa mengemukakan kisah orang lain. Jika hanya orang Yahudi yang bisa menceritakan kisah Yahudi, dan hanya Afrika-Amerika yang dapat bercerita tentang kisah Afrika-Amerika, lantas di manakah kita? Inti dari TE'A adalah untuk bilang 'saya peduli kisah Anda.’ Dan ini bukan hanya kisah Anda; ini kisah kita.’" ??
Selain pertunjukan “Di Balik Kerudung” yang sedang berlangsung, TE'A bekerjasama dengan mahasiswa di Washington, DC, untuk membuat pementasan teater tentang pengalaman pemuda, perempuan, mahasiswa Islam dalam ikatan kebangsaan yang akan dipentaskan di universitas-universitas selama tur musim dingin. ??
Kramer berharap masyarakat berpartisipasi dalam proses dialog untuk berbagi isu-isu sensitif.
"Kita hidup di dunia penuh makna," katanya. "Kita selalu membuat keputusan, bukan hanya tentang tindakan kita, tapi tentang siapa kita... Ini terjadi begitu cepat sehingga kita hampir tak pernah punya waktu untuk berhenti dan berpikir tentang keputusan yang kita buat." ??
Terlibat dalam proses kolaborasi TE'A, ujar Kramer, sangat penting untuk mempengaruhi perubahan sosial yang positif. "Menonton pementasan memberi Anda ruang untuk bernafas, waktu untuk duduk kembali dan merenungkan cara-cara kita membuat keputusan dan apa yang akan kita lakukan kemudian," katanya. "Ia menjadi gemilang jika audiens bilang, ‘orang-orang musti menyaksikan pementasan ini.’"*
Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono?
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
Foto: jannah.org
