29.05.2010 01:11:47 WIB
Oleh EVA BARTLETT
KOTA GAZA (IPS) – INI adalah bulan bagi warga Palestina mengenang Nakba atau musibah yang menimpa mereka. Lebih dari 700 ribu perempuan, laki-laki, dan anak-anak diusir dari tanah mereka dan menjadi pengungsi yang tak punya rumah akibat serangan Zionis sebelum, selama, dan sesudah pembentukan negara Israel pada 1948.
Isdud, sebuah komunitas pertanian di utara perbatasan Gaza saat ini, dibersihkan secara etnis beberapa bulan setelah pengusiran dimulai pada Mei 1948. Ia hanya satu dari lebih 530 desa yang dirusak dan dihancurkan sesudah warga dipaksa keluar oleh serangan Zionis.
Setelah tiga malam Israel membombardir lewat udara, lebih dari 5.000 warga Palestina diusir paksa dari rumah dan tanah mereka. Sebagian besar tinggal di kamp-kamp pengungsian yang sumpek di Gaza. ??
“Sebagian besar rumah dihancurkan; puing-puingnya tertutup rumput dan duri,” tulis sejarawan Palestina Walid Khalidi.
Di Kota Gaza, peringatan Nakba menampilkan pakaian, peralatan pertanian, dan perkakas warga Palestina sehari-hari. Mohammed Tooman, berusia 83 tahun, mengenakan jubah tradisional Isdud, berbicara tentang kehidupan di desa dan pengusiran paksa.
“Kami petani, menanam biji-bijian, buah-buahan, dan punya kebun jeruk dan sawit. Isdud punya pasar yang besar setiap minggu dan orang-orang dari kota tetangga datang untuk membeli dari kami.”
“Setiap matahari terbit, saya berharap kembali ke rumah di Isdud. Dan saat matahari tenggelam, saya menceritakan cucu saya tentang rumah dan desa kami, tempat mereka akan kembali.”
Hammad Awadallah, berusia 70 tahun, juga dari Isdud, terus berharap mendapat keadilan. “Hak saya itu diturunkan ke putra-putri saya dan anak-anak mereka. Kami tak akan melupakan desa kami dan sejarah kami. Mereka tertanam dalam ingatan kami.”
Sejak 1948, PBB sudah menegaskan lebih dari 130 mengenai Resolusi 194 yang menyerukan agar para pengungsi Palestina kembali ke rumah mereka. Resolusi 3236 PBB tahun 1974 menetapkan “hak warga Palestina yang tak bisa dicabut untuk kembali ke rumah dan tanah mereka yang telah diambil-paksa dan dihancurkan, dan menyerukan agar mereka kembali.”
Sekitar empat kilometer timur Isdud, Sawafir Timur (al Sawafir al Sharqiyya) sudah bersih secara etnis dari ribuan warga pada 18 Mei 1948. Desa itu punya sebuah masjid dan sekolah yang dipakai dua desa lainnya.
“Tak ada rumah yang tersisa di tempat itu,” tulis Khalidi. “Tapi jejak-jejak desa itu masih terlihat di tanah sekitarnya.”
Abu Fouad lahir pada 1930, sebelum Sawafir Timur dihancurkan. Sesudah pengusiran paksa dari desanya, dia berakhir di tenda-tenda yang kecil, buruk, dan ruwet di kamp pengungsian Palestina.
“Ayah saya seorang petani dan punya 35 dunum tanah (1 dunam = 1.000 meter persegi), yang dia tanami gandum dan sayur-sayuran. Kami punya 50 domba yang saya gembalakan.”
Sawafir Timur berbagi sekolah dasar dengan dua desa tetangga. “Kami tak pergi ke sekolah setelah kelas empat karena tak ada sekolah menengah di daerah kami,” kata Abu Fouad. “Kami hanya belajar menulis nama kami dan sedikit mempelajari agama, tak lebih dari itu.”
Di rumah mereka hidup sederhana. “Kami punya dua ruangan,” kata Abu Fouad, “tapi tak ada kamar mandi: kami mandi di luar. Bahkan sekalipun kami tak punya uang atau kenyamanan saat ini, kami hidup dengan baik, orang-orang bahagia.”
Seperti sebagian besar warga Palestina, Abu Fouad punya kerabat yang tersebar di seluruh dunia tapi tak pernah berhubungan.
“Kami punya keluarga di Jerusalem, Libya, dan Hebron. Kami tak tahu mereka. Saya belum pernah melihat atau bicara dengan salah satu saudara saya sejak dia pergi ke Libya beberapa dekade lalu.”
Istrinya, Umm Fouad, juga berasal dari komunitas Sawafir Timur. Lahir pada 1948, dia baru berusia empat bulan ketika keluarganya mengungsi.
“Ayah saya penjahit dan kakek petani. Dia menanam ketimun, labu, tomat, dan sayuran lainnya. Kami mencuci pakaian dengan tangan dan memasak di atas api atau kompor minyak tanah (baboor) dan memanggang roti di atas kayu (taboon).
Meski masih bayi saat pengusiran, Umm Fouad bisa menceritakan sejarah tanah dan rumah keluarganya sebanyak yang dia simpan dalam ingatannya.
“Kami melarikan diri karena Israel menembaki kami. Nenek saya tak bisa berjalan, sehingga dalam kepanikan kami meninggalkannya. Dia pasti mati di rumah. Kami terus berjalan, hanya membawa sedikit barang karena kami tak punya gerobak atau kuda. Selama berhari-hari kami berjalan hingga kami tiba di Gaza.”
Perampasan rumah terus berlanjut. Sejak 1967, Israel menghancurkan lebih dari 24 ribu rumah warga Palestina di Tepi Barat, Jerusalem Timur, dan Gaza, kata Israeli Committee Against Housing Demolitions (ICAHD).
“Saya masih kembali ke rumah untuk menggarap sepetak tanah saya yang terletak 700 meter dari perbatasan. Tapi saya ditembaki oleh Israel,” kata Jaber Abu Rjila. Rumah dan peternakan unggasnya di timur Khan Younis berada hanya 500 meter dari perbatasan. Ia dihancurkan dalam sebuah serbuan Israel pada Mei 2008 terhadap komunitas petani itu. Segera setelah itu, keluarganya mengungsi, menyewa sebuah rumah untuk menghindari serangan terus-menerus Israel.
Pada 18 Mei, tentara Israel menghanguskan tanah di dekat ladang Rjila, membakar panen gandum milik keluarga Abu Tabbash. Nakba bukan hanya tentang kenangan.*
Translated by Basilius Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama IPS dan Yayasan Pantau
Foto: www.ziomania.com
