Lingkungan Hidup

Mengenang Sungai Kedemangan

coba

25.09.2009 15:07:51 WIB

Oleh A. LATIF

DI masa kolonial Hindia Belanda, ada seorang wong Palembang yang menetap di Komering, Sumatra Selatan, yang diangkat pemerintah kolonial Belanda menjadi Demang atau orang yang diberikan wewenang untuk menguasai suatu wilayah. Namanya Demang Dolah. Demang Dolah menetap di sebuah kampung yang kini masuk wilayah 7 Ulu Palembang. Menuju rumah demang ini ada sebuah sungai, yang kemudian disebut sebagai sungai Kedemangan.

Begitu kisah sungai Kedemangan, salah satu anak sungai Musi, yang dikisahkan Darwin (43), cicit Demang Dolah, yang ditemui di rumah buyutnya itu di Jalan K.H. Azhari RT 35 RW 10, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang, Jumat (25/09/2009).

Herannya, Darwin sendiri tidak tahu nama asli dari leluhurnya ini. Dia hanya tahu namanya Demang Dolah. Jadi, siapa sebenarnya Demang Dolah ini masih perlu ditelusuri.

Selain nama sungai, nama Demang Dolah juga melekat pada jalan atau lorong yang menuju rumahnya.

“Di sekitar rumah ini dulunya masih banyak terdapat rawa, sehinngga hanya ada satu jalan saja untuk ke rumah ini. Kini jalan ini sudah dipadati pemukiman, sehingga jalan ini dinamakan lorong Kedemangan,” kata Darwin.

Sama seperti anak sungai Musi lainnya, sungai Kedemangan ini kondisinya cukup memprihatinkan. Selain kotor juga mendangkal akibat sampah dan lumpur. Akibatnya sebagian masyarakat sudah tidak lagi menggunakan air sungai itu sebagai kebutuhan rumah tangganya. Bahkan ada warga yang membangun rumah di badan sungai tersebut.

Sementara kondisi rumah Demang Dolah saat ini masih keadaan baik. Tapi, bagian atas rumah itu tidak lagi didiami.

Komentar


Berita Terkait