26.08.2009 21:06:13 WIB
Oleh HALIM HD
SEINGAT saya tentang kampung kelahiran dan jika saya mengenangnya, rasanya saya harus beryukur, bahwa saya dilahirkan di sebuah kampung yang membuat saya bisa berpikir dengan cara yang lebih longgar – dan orangtua yang membebaskan saya untuk “meyakini” apa saja asal dipikir matang-matang - di antara berbagai upacara adat yang beragam serta “ke-tidak-taklid- an” sosial, moral dan kepercayaan yang saling berkelindan dengan toleransi, gotong royong yang tak pernah surut, serta berbagai hal. Di antara itu semuanya, satu cap yang ditabalkan kepada kami: orang-orang luar menyebut kampung kami “Mangga Dua kalinya kecil tapi banyak buayanya”. Setiap orang, apalagi yang tidak tinggal di kampung Mangga Dua tentu saja punya perspektif sendiri. Nenek saya yang tinggal di Jakarta sejak pos revolusi – sekitar 1948-49 - sudah lama tahu, katanya, “sejak sebelum jaman Jepang kampung Mangga Dua memang punya julukan banyak buayanya”. Dan warga kampung, jika ada orang luar yang menyebut itu, hanya ketawa ketiwi santai, senyum simpul dan bahkan cenderung merasa bangga. Itulah yang mereka miliki di antara tumpukan bon hutang, kreditan harian yang bertahun-tahun baru lunas, apalagi yang mesti dibanggakan, kecuali stempel sosial yang sementara kelompok sosial lain khususnya elite kota menganggap negatif, bagi penghuni kampung yang hidup dengan cara mereka, merupakan suatu legitimasi kehadiran mereka sebagai komunitas.
Dan saya, hidup diantara simpang siur tatanan nilai itu diantara anggota masyarakat yang beragam yang datang dari berbagai daerah yang membawa latar belakang sosial budaya dan bertemu serta bermukim di suatu wilayah tengah: antara stasiun, terminal bis dan pasar kota Serang; wilayah pelintasan yang mempertemukan berbagai latar belakang kehidupan. Sebuah kampung yang dulunya lebih tepat dianggap “kebon luas”.yang dilintasi sebuah sungai kecil yang digunakan untuk membuang limbah rumah tangga, hajat besar, tapi juga tempat anak-anak bermain dan mancing lele dan belut. Dan satu persatu rumah hunian yang semula semi permanen menjadi kian baik, dan beberapa industri makanan yang dikelola beberapa keluarga; beberapa keluarga lainnya dikenal sebagai tukang kayu yang piawai, bengkel sepeda yang kondang, dan teknisi motor dan mobil yang waktu itu masih mewah. Dan, ini salah satu yang saya anggap penting: banyak senimannya, yaaa, seniman musik, jagoan kroncong, itulah salah satu kenapa kampung kami disebut tempat “buaya” berkumpul karena para “buaya kroncong” dari berbagai daerah, seperti Tangerang, Bekasi, Karawang dan bahkan Jakarta jika mau ketemu dengan rekan sesama profesinya, mereka datang ke Mangga Dua. Dan mereka, bukan hanya piawai dalam kroncong, juga Gambang Kromong, Cokek, dan semuanya berarti dekat dengan Lenong. Juga grup band, setelah tahun 1960-an, ketika “Koes Bersaudara” kondang, dan anak-anak muda memainkan gitar dengan senandung lagu-lagu pop jaman itu, seiring sebelumnya Rock n Roll dengan Elvis Presley yang juga membawa life style dalam bentuk celana jengki (yankee), rambut dan cara jalan serta senyum manis dan sepatu putih kulit sintetis dengan merek (bunyinya) Embisi, yang berujung lancip dan berhak agak tinggi..
Dalam soal pandang memandang wilayah budaya lain, orang kampung selalu punya lenso lidah yang lincah, entah dari mana kata-kata bisa meluncur menjadi semacam senjata bagi mereka untuk menyatakan diri, bahwa mereka “lebih baik” dari orang lain; atau sebagai “counter”. Itu yang penting bagi mereka diantara tekanan hidup yang pas-pasan dan sekaligus siaga diri untuk jor-joran jika rejeki nompok datang. Gaya hidup dengan cara menunjukan bahwa dirinya juga bisa dan mampu dilakukan oleh warga kampung, sama seperti mereka juga bisa menilai orang lain dengan tudingan “orang Jawa itu nggak taat, kurang Islam”, dan “pelit dan jorok”. “Perempuannya kalau kencing berdiri. Lihat saja itu yang jual jamu, kencing nggak cebok”, kata mereka. “Orang Batak itu suka makan orang”. “Hat-hati, mereka preman, apalagi dari Medan ”. “Orang Dayak suka motong kepala orang”, kata tetangga. “Aah, Cina Medan, pasti tukang cipoa!” Maksudnya tukang tipu. “Cina Medan itu spekulan, smokelan (penyelundup) barang-barang gelap”. “Dasar Arab lu!” itu umpatan untuk mereka yang kikir, dan memandang orang hanya dari kepentingannya saja. “Oo, perempuan Kuntien ( Pontianak ) yaa”. Ini sinisme untuk perempuan Cina dari Kalimantan Barat yang dianggap gampangan. Bisa dipanggil! “Hati-hati, Bugis tuuh, ditikem lu nanti”. Orang Serang-Banten tidak bisa membedakan mana Bugis, Makassar atau Mandar. Semua yang datang dari Sulawesi Selatan dianggap Bugis. “Betingkah lu, kayak Manado !” Artinya orang yang suka perlente tapi rumahnya berantakan. Di mata orang Serang, khususnya kampung kami, orang Manado itu cuma bisa pesta, dansa dansi, berpakaian necis, walaupun di rumah nggak ada beras! “Sapa tuuh, dari Karawang atau Indramayu?” Tanya seorang anak muda kepada temannya yang membawa seorang perempuan muda. Itu artinya, “apa bisa dipake”. Di benak laki-laki di kampung kami, Karawang dan Indramayu adalah wilayah dimana seks bisa didapat dengan gampang, dibeli dengan murah meriah. Konstruksi sosial sejenis ini dan lainnya bukan ciptaan mereka. Mereka, atau tepatnya kami, juga dapat dari wilayah lain yang kami comot seperti pemulung, dan di kampung kami kumpulkan dan daur ulang melalui obrolan waktu senggang. Sesungguhnyalah warga kampung Mangga Dua adalah “pemulung budaya” yang dengan “kreatif” mengolah kembali apa yang kami comot dari sana sini dan menjadikan bahan bagi kami untuk “melihat” orang lain, sekaligus memperolok diri sendiri. Itulah makanya sinisme itu lebih banyak ditujukan kepada tetangga sendiri sambil santai dan ngakak bareng.
Streotipe memang selalu ada dan muncul dari lingkungan warga dan komunitas mana saja. Di kampung tempat kelahiran saya yang mempunyai perbendaharaan lumayan kaya untuk menuding dan sekaligus memperolok orang lain berdasarkan sinisme etnis atau ras, betapapun “nasionalisme Bung Karno” sering jadi bahan pembicaraan di lingkungan kami. Tapi “nasionalisme” yang identik dengan Bung Karno itu tak ada kaitannya dengan apa yang ada diujung lidah yang perlu dan bisa disemburkan sebagai bagian dari hidup keseharian di lingkungann komunitas yang longgar dalam tatanan nilainya. “Nasionalisme Bung Karno” hanya menjadi sejenis stempel bagi warga kampung yang memang butuh benar sosok yang dibayangkan (imagined) sebagai bahan obrolan waktu ronda atau nongkrong di warung; sekedar diujung lidah, tanpa pengaruh apapun.
Warga kampung Mangga Dua memang pengagum BK, begitu biasa mereka menyingkat nama Bung Karno yang dianggap “sakti”. “BK kan nggak mempan ditembak”, kata mereka mengenang peristiwa Cikini, Jakarta, dan dengan sejumlah tempelan “mitos”, “legenda” dan cem-macem pengkultusan lainnya. Dalam soal politik warga kampung memang tidak kalah dibandingkan dengan “orang sekolahan” atau warga komunitas lain yang selalu mengejek kami sebagai “warga kampung yang banyak buayanya”; kami punya perspektif dan opini tersendiri, mengikuti perkembangan jaman melalui Koran dan radio, dan yang terpenting dari warung tempat nongkrong, dan dari situ kami membangun citra diri sebagai warga. Dan juga, satu hal yang sering membuat kami disegani, karena banyak dedengkot politisi lokal sering datang ke kampung kami, seperti pak Antawijaya, muridnya Tan Malaka, punya pengikut, dan organisasi sosial Bapperki keluar masuk ke wilayah kami. Partai Murba dan PARI yang didirikan oleh Tan Malaka cabang Serang-Banten sekretariatnya di kampung kami. Dan ditambah lagi beberapa sosok yang dianggap kiyai-jawara atau jawara-kiyai kondang suka nongkrong di kampung kelahiran saya. Naah, soal ini yang sering membuat kampung kami disegani lantaran kunjungan dedengkot politisi dan kiyai-jawara atau sebaliknya yang hilir mudik. Dan banyak di antara mereka yang ngendon di kampung seberang sungai; punya isteri kedua.
Walaupun rata-rata warga kampung Mangga Dua bukan atau tidak masuk ke dalam kelas menengah atas, tapi seleranya bolehlah; minimal selera yang dibayangkan dan dicoba jika ada rejeki nomplok dan kerap dilampiaskan secara jor-joran sebagai usaha untuk mendongkrak citra dengan cara menikmati makanan dan sikap ekshibisionisme: sebut saja restoran mana yang kondang di Kotta, Glodog, Prinsen Park (Taman Sari), Pasar Baru, Senen, dan bahkan yang namanya “nasi goreng HI” (Hotel Indonesia) – semuanya di Jakarta - mereka rambah, seperti mereka juga menapak lantai demi lantai dan mencoba eskalator, tangga berjalan yang membuat kami senang dan bingung (karena pakai sandal jepit!) di “Sarinah” yang waktu itu menjadi idaman siapa saja kalau ke ibukota. Dan kami menambah perbendaharaan jtempat di Jakarta : jalan Thamrin!
Untuk mendongkrak citra sosial banyak cara: tanyakan kepada semua warga di seluruh kabupaten (sekarang propinsi) Banten di mana tempat nenggak alkohol yang paling bebas dan berkualitas. Semua orang akan menunjuk kampung Mangga Dua. Bukan karena di kampung itu ada pabrik minuman alkohol. Tapi, jenis dan kualitas apapun selalu beredar, datang dari pelabuhan, bisa Tanjung Priok, bisa juga dari Merak, dan bukan tidak mungkin dari Lampung, barang smokelan dari Singapura, seperti “Bols”, “Black & White”, “Johny Walker” dan belasan merek lainnya. Tentu saja bikinan lokal, seperti cap “Nori”, “Anoman”, dan sebagainya menjadi bagian keseharian. Ingat, itu semuanya di Mangga Dua Dalam! Yaaa, Mangga Dua Dalam!! Dan Mangga Dua Luar, adalah barisan rumah dan toko, kelas sosial yang lebih tinggi, yang selalu mencibir dengana sinisme sosial tetangganya yang hanya selemparan batu., hanya di batasi jalan Mangga Dua dengan deretan pepohonan Kedondong Lanang – yang kami ambil ghetahnya untuk lem - dan pepohonan Mangga, yang dianggap cuma bisa bikin ribut dan foya-foya! Itulah juga kenapa kampung Mangga Dua identik dengan “buaya”: tukang minum, atau wilayah minum yang paling bebas di seluruh wilayah Banten yang kondang sebagai wilayah Islam. Dan jika bicara tentang Islam tentu orang bicara juga tentang puasa. Dan bulan puasa, jangan coba-coba makan di jalan di Serang atau seluruh wilayah Banten waktu itu. Kepala bisa bonyok dikeroyok! Minimal ditempeleng. Tapi, hanya di Mangga Dua Dalam yang bisa bebas. Dan pada bulan puasa jadilah Mangga Dua Dalam sebagai wilayah pasar ceplak, dengan ratusan warung yang datang dari mana saja memadati lorong-lorong dan ada juga rumah warga yang mendadak jadi rumah makan. Yaaa, pasar ceplak, sebuah pasar yang hanya setahun sekali, dan nama pasar itu mungkin dari bunyi lidah ketika mengunyah, yang menjadi favorit bagi mereka yang kurang taat, tapi sekaligus juga sebagai persiapan tambahan ekonomi untuk lebaran bagi warga dan pedagang makanan. Dan pada bulan puasa juga perjudian nampak di hamper semua lahan terbuka, namun dalam kelas yanag lebih rendah.
Tidak lengkap rasanya jika bicara tentang sebutan kampung kami tanpa menyebut dunia perjudian. Mangga Dua jadi sejenis “enclave” khusus di daerah Banten dalam soal minum dan perjudian dari jenis permainan kartu ceki atau cekiyan, kiu-kiu, domino, portiwan (forty one), bakarat (baccarat), capsah, rolet, dadu, sigolak, mahyong, adu jago, adu jengkerik. Hidup, bagi warga kampung kami, semuanya bisa dijudikan, seperti perjudian nasib siapa saja yang hari ini punya sepeda atau arloji mentereng besok bisa lenyap digadaikan atau dijual; hari ini rumah memiliki mebel mewah yang nampak warnanya norak atau radio atau tape recorder, dan dalam dua hari kemudian bisa terbang entah ke mana. Segala sesuatu menjadi pertaruhan untuk mempertahankan dan melangsungkan kehidupan yang penuh dengan spekulasi. Maka watak yang terbentuk adalah bagaimana membaca cuaca hidup keseharian dengan cara mengamati siapa yang datang. “ Ada perkutut”, informasi itu beredar dengan cepat. Artinya ada “orang baru” yang mau mencari lawan judi, maka perangkap disiapkan, dan bila perlu modal digabungkan jika memang lawan judi itu membawa modal besar. Menarik, jika tiada lawan-luar, “orang baru”, mereka bertarung sesama mereka, dan jika ada “perkutut” mereka sapukan, mengikatkan diri ke dalam ‘persatuan” untuk menyembelih lawan yang hasilnya bisa dipakai untuk mengisi rumah, menyisihkan untuk modal berikutnya, dan sebagiannya untuk foya-foya selama semalam-dua sebagai bagian dari ritual kemenangan. Dan jenis perjudian ini bukan hanya itu saja. Olahraga seperti badminton, pingpong, sepakbola, basket, pokoknya segala sesuatun yang bisa membuat mereka masuk ke dalam sistuasi di mana adrenalin terus meninggi dan selalu dalam tegangan untuk memastikan, apakah dirinya menang atau kalah. Bukan soal menang atau kalah. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana masuk ke dalam ritual spekulatif yang membuat mereka merasa ada di dalam lingkungannya. Jadi, jangan heran kemarin seseorang berpakaian perlente, lusa kemudian hanya sarungan, dan nongkrong sambil menunggu jatah rokok atau makanan, atau mungkin ada orderan untuk sekedar menjadi tukang kocok kartu. Tentu saja sisi lain untuk menunjang hidup bukan hanya itu. Informasi peredaran barang yang datang dari pelabuhan, barang smokelan, salah satu bagian dari dunia spekulasi yang bisa membuat hidup terus bergairah. Dan hidup terus berputar dengan intensitas yang kian membumbung dan perputaran uang kian besar, dan bermunculan generasi berikutnya yang kian piawai dan besar modalnya.ditandai dengan cara berpakaian yang gonta ganti dan parfum yang bukan lagi aude cologne murahan, tapi sudah bermacam merek seiring dengan perkembangan industri pakaian dan dunia mode yang kian pesat selaju dengan pembangunan yang mereka lihat di teve, majalah dan show room toko.
Dan di kepala saya begitu banyak ungkapan sinisme sosial dan gaya hidup yang saya bawa ke Yogyakarta ketika lulus dari SMP, dan sekaligus juga mengemban sejenis chauvinisme lokal. Ingatan itu terus menggelayuti saya. Waktu dan pertemuan sosial nampaknya punya caranya sendiri memupus streotipe tentang berbagai etnis dan ras melalui pergaulan. Di Yogyakartalah saya bertemu dengan teman-teman Batak yang saya anggap “aneh”, kok lemah lembut, kok ada Dayak yang santun dan ramah, kenapa pula orang Bugis itu bisa kongko dengan intens, dan ada Arab yang juga suka nraktir, dan begitu banyak teman Jawa yang rajin sholad. Dalam pergaulan sehar-hari di lingkungan sekolah (dan juga kampus setelah lulus SMA) saya dibikin kagum oleh cara mereka, teman-temanku dari Bugis, Makassar, Dayak, Ambon, Padang-Minang, Batak, Lampung, Palembang , dalam berbahasa Indonesia ! Sebagai warga kampung dengan multi bahasa - Melayu Cina, Sunda Banten dan Jawa Banten - walaupun suka membaca, praktek bahasa Indonesia boleh dikatakan jarang, bahkan di sekolah kami biasanya pakai saling silang bahasa lokal itu, yang selalu ditegur oleh guru saya di SR dan SMP. Kecuali tentu saja dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang membosankan.
Bahasa Indonesia merekalah yang membuat saya menjadi harus berpikir ulang, dan menilai kembali, memupus sedikit demi sedikit ingatan yang saya bawa dari kampung, di samping cara mereka ketika berhadapan dengan saya. Perkenalan dan pergaulan sosial di ruang-ruang publik Yogyakarta makin membuat saya – antara sadar atau tidak - ingatan yang dulu menjadi “senjata sosial” warga kampung, menjadi beban, dan kerap menjadi kecemasan sendiri: jangan-jangan saya hanya warga dari komunitas yang “kalah” yang berusaha mempertahankan dan mempersenjatai diri melalui sinisme etnis dan ras. Saya jadi ingat apa yang dikatakan oleh ayah saya: hidupmu tergantung kepada lidahmu. Ayah yang rasional dan selalu mengajak saya untuk “jangan percayai dan katakan sesuatu sebelum kamu tahu” sesungguhnya bekal yang baik ketika saya tinggal di Yogyakarta.: saya bertemu langsung dengan berbagai warga dari berbagai suku, sub-tenis dan ras yang kesemuanya membuyarkan kerangka pikiran streotipe, prasangka yang saya serap ketika hidup di kampung kelahiran.
Tapi itu bukan berarti di Yogyakarta saya tidak menemukan dan mendapatkan cara berpikir atau perspektif yang sama dengan di kampung saya. Orang Yogyakarta umumnya yang begitu bangga dengan sejarah dan tradisinya, ditambah dengan kolonialisme yang membentuk mereka dalam anggapan “adiluhung” untuk dirinya sendiri, sejenis narsisme dan ekshibisionisme budaya, membuat saya jadi kikuk jika mencoba berbahasa Jawa (dan hal itu sampai sekarang!!). Banyak warung langganan saya selalu ketawa dan bilang “wagu” bahasa Jawa saya. Bisa jadi mereka benar. Ini soal dialek dan logat; lidah yang beda. Tapi ada juga yang “kagum” setelah mereka tahu saya dari Banten, dan menganggap saya “memiliki sesuatu”, sejenis “mejik”, yang kata mereka “wong mBanten” masih kuat “ begituannya”. Itulah juga streotipe yang ditabalkan kepada diri saya sebagai “wong mBanten”, yang juga datang dari kenalan atau teman kongko dadakan yang ketemu di warung dari etnis atau suku lain. Teman pergaulan saya yang beraneka latar belakang budaya dan sejarah sosial itu juga sesungguhnya punya beban seperti saya; mereka dan saya dan siapa saja adalah pewaris dari masa lampau yang tak bisa ditolak; dan hanya bisa ditelusuri mana yang memang pantas untuk disimpan, dan mana pula yang mesti dipendam dan tak diucapkan. Toleransi dibutuhkan diantara keberagaman budaya. Jika tidak, kita hanya saling tuding dan menganggap diri paling baik, yang bisa berujung kepada saling badik.
Yogyakarta yang kian berkembang tentu saja seiring dengan pertumbuhan ekonomi cara rejim Orba yang sedang memompa pasar dan menjerat konsumen. Dan toko-toko di Yogyakarta kian padat dan meriah dan kunjungan konsumen kian meninggi dan itu membutuhkan benar wilayah parkir dan pengamaman toko dan warung. Disinilah soal yang kerap membuat Yogyakarta tegang: ruang menjadi wilayah ekonomi dengan intensitas yang tinggi dan itu berkaitan dengan penguasaan oleh sekelompok warga, dan tak jarang kelompok itu saling bersitegang dan bertarung. Diantara itu, tentu saja pertarungan bisa merembet ke latar belakang etnis: Jawa tarung dengan Batak, Batak dengan Lampung, Lampung dengan Jawa, Medan dengan Bugis-Makassar. Tak semua bentrok etnis itu karena rebutan ruang ekonomi. Bisa juga lantaran pacaran, ketersinggungan karena ucapan, salah paham. Tapi, yang jelas, ketika saya di Yogyakarta saya mendengar dan menyaksikan konflik yang berulang kali yang entah dikarenakan apa, tapi berkembang kearah konflik suku. Ituilah resiko keberagaman tanpa pemahaman mendalam dan hanya membawa diri sendiri dan tiadanya toleransi. Konflik etnis bisa terjadi di mana saja. Itu sebuah resiko dari sebuah bangsa yang merangkum ribuan etnis dan sub-tenis dalam suatu rentang geografi yang hampir sama bentangannya dari London sampai Siberia, dan berusaha untuk memiliki cita-cita tentang “Indonesia” yang masih diraba-raba diantara belitan masalah yang tak pernah surut setiap harinya diantara himpitan iklan ekonomi dan iklan politik pembangunan yang bisa menggeser orientassi siapa saja demi mempertahankan hidup.
Dan Yogyakarta yang memiliki mosaik kehidupan sosial dan budaya yang beragam, seperti sebuah kolam besar pertemuan – melting pot - dengan keberagaman ikan yang datang dari berbagai penjuru nusantara dan antar bangsa yang saling seliwer dan pada sisi lainnya arus pemikiran demikian padat dan intensif, menjadi berkah bagi saya yang sedang menapak, mencari “sesuatu” yang saya sendiri belum terbayangkan, apa sesungguhnya yang ingin saya tuju dan raih.. Tapi, diantara mosaik yang semula hanya sebuah kampung yang satu dengan lainnya warga saling kenal dan tahu benar kocek dan “celana dalamnya” masing-masing warga, kini saya bukan hanya berhadapan tapi juga sekaligus “ngojai”, merenangi kolam pergaulan yang lebih luas yang kedalamannya serta arusnya terus menderas bersama topan perubahan yang di bawa oleh media massa cetakan dan elektronika teve yang makin intensif memasuki ruang-ruang tamu dan personal. Tapi, melalui hubungan personal yang beragam yang saya serap yang membawa latar belakang masing-masing etnis, sub-suku dan ras, dan dari situ saya berusaha memahami kedalaman kolam pertemuan makna arus serta keluasan “Indonesia-Yogyakart a” atau “Yogyakarta-Indonesi a”
Mengingat apa yang pernah saya alami di Yogyakarta selalu menjadi sejenis berkah yang saya terima diantara berbagai jenis kerepotan hidup keseharian yang saya hadapi sebagai konsekuensi logis seorang perantau, pejalan yang merintis dan berusaha untuk meyakini, diantara keraguan dan skeptisisme yang terus menggelayuti diri tentang bentangan makna “Indonesia” melalui Yogyakarta. Dan kini, jika saya merenungi pengalaman pertemuan dan meresapkannya, diantara lintasan perjalanan-pertemua n saya dengan geografi budaya lainnya di bentangan nusantara, rasanya saya mesti bersyukur bahwa saya sempat singgah dan bermukim selama 9 tahun 8 bulan, dan sampai sekarang masih beberapa kali dalam setahun mengunjungi Yogyakarta – yang sudah tak nikmat lagi untuk jalan santai, dan Malioboro bukan lagi “Universitas Terbuka” tapi wilayah perdagangan yang sumpek dan impersonal - serta kontak yang masih berjalan dengan banyak teman lama dan baru, dan selalu saya mendapatkan isyarat tentang sebuah negeri yang terus berubah, dan saya berusaha memahami, betapapun ketidakjelasan makna “Indonesia” dalam perspektif saya. Dan untuk itulah, saya kira, pencarian memang mesti terus dilakukan; mengais dari yang lampau, menguak ruang kemungkinan masa yang akan datang.
*) Networker Kebudayaan. Email: halimhade@yahoo.com
Foto: www.luphkimm.com
