26.08.2009 19:50:58 WIB
Oleh HALIM HD
JALINAN personal itulah yang selalu menciptakan beragam gagasan dan rancangan untuk membuat berbagai kegiatan di dalam maupun di luar kampus. Dan jalinan itu tentu saja bukan hanya di lingkungan Gelanggang Mahasiswa atau kampus UGM dan kampus-kampus lainnya.
Dan jalinan itu juga dikarenakan ruang perkotaan yang masih enak untuk dilalui dengan jalan kaki dan sepeda, dan pada sisi lainnya populasi penghuni serta kendaraan bermotor di Yogyakarta yang tidak sepadat seperti sekarang ini, membuat siapa saja pada tahun 1970-an, merasa enak jika menyusuri jalan-jalan Yogyakarta yang masih dipenuhi oleh pepohonan asem, mahoni dan flamboyant. Dan salah satu ruas jalan yang paling menjadi bagian pembicaraan siapa saja jika bicara tentang Yogyakarta adalah Malioboro. Akhirnya saya kesengsem dengan Malioboro setelah 1-2 tahun mukim di Yogyakarta , dan menjadi “warga Malioboro”, khususnya kehidupan malamnya. Saya memang senang dengan kehidupan malam, suasana yang membawa saya ke dalam berbagai kemungkinan, sambil mendengarkan obrolan berbagai warga dari lapisan dan profesi yang beragam. Di antara yang beragam itu, kalangan kesenian menjadi perhatian saya. Rasa ingin tahu dan keinginan untuk mendengarkan pemikiran mereka membuat saya berusaha untuk menyapa mereka, dan satu persatu saya mengenal melalui “komunikasi rokok”, dan sesekali saya traktir di warung wedangan atau lesehan gudeg yang mulai saya senangi. Dalam keakraban dan tanpa beban tema, obrolan mengalir, dan perkenalan itu membawa saya ke dalam kegiatan sastera. Sebagai pembaca – itulah yang selalu saya sampaikan jika mereka bertanya, apakah saya menulis – dan mereka mulai mengajak saya ke dalam lingkaran diskusi PSK (Persada Studi Klub). Jaringan kehidupan personal kian meluas dan saya makin asyik, dan dari situ muncul keberanian untuk menulis artikel. Tapi tidak untuk media di Yogyakarta . Masih merasa minder. Jakarta , Bandung dan Surabaya yang saya jagjagi. Dan satu dua teman tahu saya menulis artikel, juga puisi (tanpa tanda petik!). Setelah agak lama mengenal mereka, barulah saya berani menulis di media Yogyakarta, Kedaulatan Rakyat, Masa Kini, Berita nasional, Minggu Pagi dan sejumlah majalah dan koran kampus.
Saya menikmasti benar hubungan sosial itu, dan setiap minggu mengikuti kegiatan diskusi PSK dari satu rumah ke rumah lainnya; yang paling sering digunakan rumahnya Suwarno Pragolapati, seorang penyair-cerpenis seneior PSK yang sudah masuk tingkatan “Sabana”, di belakang pasar Sentul. Kadang-kadang pertemuan sesudah Isya di warung wedangan di dalam pasar Kranggan, yang tak jauh dari rumah kost saya di Bumijo, atau di halaman Seni Sono. Dari PSK jalinan sosial kian terbuka, dan satu dua mahasiswa senirupa saya kenal, dan saya mengunjungi kampus mereka di Gampingan.
Malioboro, yaa, Malioboro, ruang publik yang menjadi “Universitas Terbuka” bagi kalangan seniman, akademisi, jurnalis atau siapa saja, adalah ruang yang terbuka untuk berbagai kemungkinan dalam proses berkenalan dan belajar dengan dan dari siapa saja, dari penulis sastera, perupa, musik serta teater, dan tentu saja menikmati kehidupan kaum perempuan yang ramah pada tengah malam terasa lebih nikmat. Lama kelamaan, saya merasa tidak betah tinggal di kamar pada malam hari sebelum saya menikmati malam di Malioboro; selalu saja ada sesuatu yang ingin saya dengar dan saya perbincangkan. Maka memilih ruang yang rentangnya sekitar satu kilo meter lebih itu untuk menemui seseorang, seperti saya memasuki “ruang kuliah” tanpa presensi dan tanpa SPP (Sumbangan Pembangunan Pendidikan); hanya dengan bekal uang ala kadarnya dan beberapa batang rokok, masuklah saya ke dalam arus pemikiran yang simpang siur. Dan saya, dengan sadar benar memasuki itu, dan berusaha untuk tidak sekedar mendengar tapi mendengarkan. Saya pikir, saya butuh benar fondasi, dan fondamen itu perlu saya gali melalui bahan bacaan, diskusi dan dialog, dan mencatat dan mencatat setelah saya mendengarkan apa saja yang menarik. Dan sebagian dari obrolan itu menjadi satu dua artikel dalam seminggu yang bisa saya kirim ke KR atau Berita Nasional atau Masa Kini yang kebetulan redakturnya saya kenal, mas Hajid Hamzah, Linus Suryadi Ag., dan Emha Ainun Najib, atau media lain di Jakarta.
Mas Hajid Hamzah, redaktur KR - nama populer Kedaulatan Rakyat - salah seorang yang selalu menanyakan kepada saya atau penulis lainnya yang baru menapak: apa yang sedang ditulis, dan kapan mau didkirim. Sosok yang selalu serius dan selalu memberikan dorongan, mendiskusikan setiap masalah kesenian, dan tentu saja rubrik senibudaya yang diasuhnya terbuka bagi penulis, yang merasa bangga ditawarkan kemungkinan untuk dimuat. Dan suatu hari, bersama Emha Ainun Najib, Rahini “Ray” Ridwan, Simon Hate dan Linus Suryadi Ag., kami berkunjung ke kantor mas Hajid. Kami ngobrol, dan membincangkan posisi dan kondisi Dewan Kesenian Yogyakarta (DKY) yang nampaknya “mati segan hidup tak mau”, yang sedang mengalami kekosongan kegiatan, dan terasa “ada sesuatu” yang tidak jelas. Dari perbincangan itu, lalu mas Hajid menyodorkan gagasan untuk polemik. “Bagaimana kalau kalian menulis dan saya akan beri ruang khusus”, katanya. Beberapa hari kemudian muncul tulisan Rahini, dan dibalas oleh Linus, dan lalu Emha, lalu saya dan bermunculan tulisan dari pak Bagong Kussudiarja, Bakdi Soemanto, dan beberapa dedengkot lainnya, yang selama 2-3 bulan “polemik rekayasa” mas Hajid itu menghiasai KR, dan disambut media lainnya, yang kesemuanya menggugat posisi dan kondisi DKY serta arah kehidupan kesenian dan kebudayaan di Yogyakarta.
Hasil polemik ini berupa dialog terbuka dengan mengundang seniman dari berbagai disiplin, diantaranya datang pak Affandi, pak Sapto Hudoyo, mas Amri Yahya, Ibu Suliantoro Sulaiman, bang Ashadi Siregar, pak Bagong Kussudiarja, kritikus senirupa pak Sudarmaji dan duaratusan lebih seniman dan jurnalis memadati Seni Sono, diantaranya juga walikota Yogyakarta, Sujono AY. Dialog itu atas prakarsa Sanggarbambu. Konklusi yang diambil dari dialog itu, diantaranya membentuk tim untuk revitalisasi DKY. Saya diminta untuk masuk ke dalam DKY. Tapi saya mengelak, juga Emha. Saya pikir, saya lebih bebas dengan cara-cara “bergerilya” yang selama ini saya kerjakan, tanpa ikatan instsitusi. Dan saya masih nyantol-tol dan kesengsem dengan apa yang dikatakan oleh mas Willy dan bang Ashadi, “kantong-kantong kebudayaan” dan “subversif kebudayaan” membutuhklan praktek-praktek dalam bentuk komunitas alternatif.
Berkaitan dengan Sanggarbambu itu saya punya cerita. Tahun 1974-75 Linus mengajak saya, Rahini dan Simon dolan ke Sanggarbambu yang memang sudah sering saya dengar, dan pernah sesekali dolan sekedar mampir ngombe. Kali ini Linus mengajak untuk bagaimana ikut membantu Sanggarbambu untuk menunjang kegiatan internalnya. Sanggarbambu sedang berusaha melakukan revitalisasi diri. Ketika saya sampai di sana ketemu mas Supono Pr. ngobrol sebentar, dan melihat Emha, Deded Er. Moerad, Untung Basuki dan beberapa remaja lainnya sedang merancang kegiatan musikalisasi puisi, juga di situ nongkrong Ebiet, santrinya Emha yang celingus mojok di sudut ruangan. Dan ada seorang remaja ramah dengan wajah campuran antara Korea-Jepang- Cina dan logatnya pesisir Utara, ternyata kelahiran Tegal, suka senyum, Dadang Christanto namanya, yang waktu itu nyantrik di Sanggarbambu, tapi lebih banyak tugasnya seperti “pak bon”, rajin bersih-bersih, dan sigap kalau diminta tolong untuk membeli rokok misalnya. Setelah latihan musikalisasi, kami mendiskusikan kemungkinan penerbitan majalah, dan beberapa agenda kegiatan rutin Sanggarbambu lainnya, seperti diskusi kesenian, latihan teater, latihan musikalisasi, dan tentu saja kegiatan senirupa yang menjadi kurikulum utama Sanggarbambu, dan silat Bangau Putih yang diberikan oleh mas Fajar Suharno dan Max Palar yang datang dua bulan sekali dari Bogor. Dan saya diminta untuk membantu penyelenggaraan diskusi mingguan sebagai usaha pengembangan wawasan cantrik Sanggarbambu, disamping ikut tim redaksi. Majalah terbit dengan stensilan dengan cara kerja keroyokan, dari redaksi sampai memutar mesin stensil, menjilid, memotong serta mengedarkannya. Modalnya sebuah mesin tik Brother milik Sanggarbambu dan kepunyaan Linus, ditambah beberapa rim kertas duplikator serta sekotak sheet. Bonyong ikut mengisi ilustrasi, dan beberapa perupa lainnya. Dan mendapatkan sambutan hangat. Berjalan sampai dengan 6 edisi. Setelah itu, mandek. Dari pertemuan rutin di Sanggarbambu itu, dan adanya polemik, ada lontaran gagasan, bagaimana kalau diselenggarakan dialog. Emha dan saya diminta sebagai moderator. Sound system kami dapat bantuan dari walikota, dan penganan-minuman dari mas Amrih Yahya, yang waktu itu sedang naik daun sebagai perupa batik, yang mondar mandir pameran ke Jakarta , Australia dan tentu saja Timur Tengah dengan karyanya batik abstrak dan kaligrafi.
Kegiatan berjalan mulus, dan Sanggarbambu menjadi salah satu tempat ampiran bagi teman-teman, bukan hanya senirupa, tapi juga penyair, penulis, teater, musik dan jurnalis. Diskusi berjalan dengan intensitas yang bagus, dan bahan-bahan diambil dari artikel yang aktual di koran dan majalah. Kegiatan bukan hanya aktifitas internal Sanggarbambu saja, juga mengembangkan jaringan melalui kunjungan pertunjukan teater dan musikalisasi puisi ke Surabaya , Malang . Yang menarik, kegiatan itu juga nampaknya menggugah kalangan senior Sanggarbambu. Mas Danarto, mas Sunarto Pr dan beberapa dedengkot Sanggarbambu yang mukim di Jakarta dan kota-kota lainnya datang berkunjung setiap bulan silih berganti, dan kedatangan mereka dimanpaatkan untuk dialog dengan para cantrik.
Yang menarik dari Sanggarbambu dalam konteks kehidupan kesenian di Yogyakarta , menurut saya, sebuah komunitas yang nampaknya berpijak dari sejarah sosial lingkungannya dengan pola padepokan-pesantren yang mendasarkan diri kepada pembentukan karakter cantriknya melalui proses pendidikan informal. Setiap cantrik mesti memahami lingkungan sosialnya, dan mesti pula piawai secara teknis. Dan gagasan dibentuk dari pengalaman keseharian. Dan Sanggarbambu dalam konteks sejarah sosial politik di Yogyakarta pada periode tahun 1950-an dan memasuki tahun 1960-an, diantara gemuruh pertumbuhan nasionalisme yang demikian kuat, ditambah pertarungan berbagai ideologi dengan latar belakang agama, sosialisme, komunisme dan nasionalisme, nampak Sanggarbambu berusaha “melepaskan diri” dari pengaruh itu. Saya membayangkan, pada dekade itu pastilah Sanggarbambu tenggelam diantara hiruk pikuk dan gemuruh aktifitas organisasi kebudayaan seperti Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, dekat dengan PKI), Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia, dekat dengan NU, Nahdlatul Ulama) dan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional, dekat dengan PNI). Dan ketenggelamannnya itu justeru membuat dirinya menelusupi relung-relung kehidupan yang membentuk karakter warga komunitasnya.
Berbeda dengan PSK atau Persada (Persatuan Sasterawan Muda) dimana bang Umbu Landu Paranggi menjadi pengayom dan sesekali memberikan isyarat situasi dan kondisi sosial politik, Sanggarbambu nampaknya berusaha untuk menghindari. Diskusi kesenian di lingkungan Sanggarbambu yang lama kelamaan mau tidak mau mengaitkan masalah-masdalah sosial politik mutahir, nampaknya membuat beberapa senior yang ada di Jakarta merasa gerah. Kabar itu saya dengar dari Emha, katanya, nanti Sanggarbambu jadi kelompok diskusi politik. Saya jadi rikuh juga. Sebagai penanggungjawab kegiatan diskusi, bagi saya jika kita bicara tentang kesenian, yaa mau nggak mau mesti bicara juga soal sejarah, masalah sosial, politik dan kondisi ekonomi. Kesenian bukan sesuatu yang lahir, tumbuh dan berkembang di dalam ruang kosong. Secara pribadi, saya berusahaa untuk memberikan materi yang sesuai dengan konteks jaman, makanya saya ambilkan artikel darin kora Kompas, jurnal Prisma, majalah kebudayaan Basis dan makalah-makalah yang saya anggap baik utnuk para cantrik Sanggarbambu. Kadang-kadang saya juga mengundang seseorang untuk bicara. Setahu saya, para cantriknya sendiri nggak merasa ada sesuatu yang kritis dan krisis. Semuanya berjalan lancar. Kecemasan dan kegerahan itu nampaknya, lagi-lagi saya dengar dari Emha dan Linus, ada kaitannya dengan posisi beberapa senior Sanggarbambu yang punya proyek di Jakarta . Saya kurang tahu benar atau tidaknya. Yang jelas, dan agak pasti saya mengurangi kegiatan diskusi, dan saya menganjurkan kepada cantrik Sanggarbambu untuk mencari bahan sendiri dan belajar membentuk kelompok diskusi.
Juga di Malioboro – bukan hanya di kampus - saya merasa perbincangan seputar situasi dan kondisi sosial politik dengan hangat saya dengar, dan bahkan lebih terasa aktual. Misalnya pertarungan antara Jenderal Sumitro “Gendut” yang didukung kelompok Bappenas dengan kelompok Ali Murtopo dengan CSIS menjelang Malari 1974. dan mereka nampak berusaha untuk meyakini kampus agar mahasiswa mendukung mereka. Tapi yang terpenting lagi bukan hanya informasi tentang sosial politik yang terasa membuat pikiran jadi waswas. Lebih dari itu, Malioboro sebagai “Universitas Terbuka” membuat saya mendapatkan berbagai hal yang sangat inspiratif dari arus pemikiran yang dilontarkan misalnya oleh mas Willy (Rendra) tentang “Kantong-Kantong Kebudayaan” sebagai bentuk alternatif diantara arus formalisme dan institusionalisasi berbagai jenis kegiatan dan ritual politik yang diselenggarakan oleh rejim Orba. Seiring dengan apa yang dinyatakan dan secara konkrit dikerjakan oleh mas Willy bersama komunitas Bengkel Teater. Dan tulisan bang Ashadi Siregar di koran Sinar Harapan tentang “Perlunya Subversif Kebudayaan” membuat saya terus menerus berpikir dan mendapat isyarat, yang pada tahun-tahun berikutnya makin saya yakini sebagai bekal untuk menapak dan memetakan masalah di dalam berbagai kegiatan senibudaya. Ajaib rasanya, “Subversif”, kata itu memukau saya diantara penuh dengan tanda tanya dan juga waswas, dan dorongan sejenis heroisme: ada sesuatu yang perlu dikerjakan di luar kerangka institusi yang ada, dan ada sesuatu yang perlu terus menerus dirancanag dan dikerjakan dalam berbagai bentuk komunitas yang kecil-kecil dalam kapasitas yang dimiliki, tanpa ketergantungan, bersifat setara, dan menolak segala jenis tabu yang berbau tudingan politik dari rejim.
Dari Malioboro sebagai “Universitas Terbuka” itu saya juga mengenal berbagai grup teater, seperti Stemka (Studi Teater Mahasiswa Katholik), Teater Alam, dan puluhan grup lainnya yang masing-masing berbasis di lingkungan kampung mereka. Tentu saja Bengkel Teater, yang memang identik dengan Yogyakarta . Dari pekenalan itulah saya berusaha untuk mengunjungi sanggar mereka, dan melihat latihannya. Dari kunjungan ke sanggar-sanggar teater itu lalu terpercik pikiran untuk membuat Arisan Teater. Gagasan ini terlontar ketika diskusi di SMA Santa Maria – B. Rahmanto mengajar di sana - dan dilanjutkan ke sanggar Teater Alam, Azwar AN menampung gagasan itu, dan kami menunjuk Noor WA sebagai koordinator, dan Slamet Riyadi, Emha, Linus dan saya sebagai tim evaluasi. Dan jalanlah gagasan itu ke dalam bentuk di mana setiap minggu secara bergilir beberapa grup menyajikan apa yang menjadi prosesnya, dan pada sisi lain ada grup yang menjadi fasilitator. Menarik, proses kerja itu demikian sederhananya, tanpa proposal, semuanya didasarkan kepada saling kepercayaan, dan kampung demi kampung di mana sanggar atau kelompok teater memiliki basis sosialnya menyediakan diri. Intensitas pergaulan ini berjalan hampir setahun, dan media lokal mendukung dengan pemberitaan, dan yang menarik juga adalah banyak kalangan teater kampus juga ikut terlibat. Tapi anda jangan membayangkan bahwa pementasan itu sebagai sesuatu pemanggungan yang “utuh”, sajian yang “sudah jadi”. Semuanya dalam bentuk sajian pencarian. Jadi banyak sekali grup yang sedang proses menyajikan apa yang dikerjakan mereka, dan acara setelah 3-5 grup “manggung” diadakan diskusi. Pengalaman ini, bagi saya, memberikan inspirasi yang konkrit, di mana warga kampung terlibat, dan banyak warga kampung yang menyajikan teh, kopi, gorengan, rebusan dan sebagainya; dan ada yanag meminjami kursi, meja, tikar, tenda yang mereka miliki. Ibarat ikan dan laut, kegiatan itu menyatu padu ke dalam proses sosial kebudayaan melalui teater.
Berjalan hampir setahun, Arisan Teater yang setiap bulan di evaluasi, dan merancang kerja berikutnya. Pada suatu hari, saya mendengar bahwa Noor WA “dicopot” oleh Azwar AN, dan digantikan oleh Merit Hindra tanpa kesepakatan jaringan kerja Arisan Teater. Saya datangi Noor WA , yang dengan emosional membeberkan, dan menyatakan diri mundur dari Arisan Teater. Dari obrolan sana sini, lalu saya dapatkan informasi bahwa Azwar AN ingin “menggiring” Arisan Teater ke dalam Karsa (Koordinator Artis Safari) yang dekat dengan Golkar. Mendengar informasi itu, saya menulis di koran Bernas - nama populer untuk Berita Nasional. Tulisan saya masuk, dan Azwar AN marah besar. Tapi banyak teman-teman setuju dan mendukung saya. Dari pertemuan berikutnya, saya dan teman-teman bersepakat untuk menolak Karsa, dan Arisan Teater tetap jalan, tanpa Azwar AN yang semula salah seorang inisiator, “dipecat” oleh teman-teman Arisan Teater. Seingat saya, rentetan kerja “Arisan Teater” mempunyai dampak positip berupa - kalau tidak salah namanya - Festival Teater Pelajar Yogyakarta yang disponsori oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dan dari situ lahirlah beberapa orang aktor handal, dan bermunculan demikian banyak grup teater, hampir-hampir setiap sekolah menengah lanjutan atas memiliki grup teater. Dan tentu saja, banyak orang teater yang terlibat di dalamnya sebagai pelatih atau sutradara.
Dari dunia menulis memasuki ruang teater sebagai partisipan dan organizer, tapi sastera tetap saya ikuti secara intensif melalui kegiatan PSK yang diasuh oleh bang Umbu Landu Paranggi yang membuat saya terbuka, bahwa kegiatan sastera tidaklah sepenuhnya mesti berada di suatu ruangan resmi, dan justeru sastera mestilah memasuki ruang sosial yang longgar dan akrab, di mana saja bisa diciptakan peristiwa sastera yang bersifat dialogis; dan sastera bukanlah sesuatu yang elitis. Ketika banyak orang berbicara tentang tiadanya apresiasi sastera di dalam masyarakat, PSK bersama bang Umbu Landu Paranggi menyusuri jalan dari kampung satu ke kampung lainnya, dari satu kampus ke satu teras dan ruang tamu dalam acara pembacaan puisi, musikalisasi dan diskusi yang intim. Saya mendapatkan inspirasi: titik temu tema kerja antara sastera dan teater bersatu padu dalam ruang social yang memang mesti dibentuk oleh pelaku. Pengalaman ini memberikan inspirasi kepada saya pada langkah berikutnya dalam praktek-praktek kebudayaan selama bertahun-tahun, sampai saya pindah-pulang ke Banten dan lalu ke Solo.
Jika kita memasuki ruang “Universitas Terbuka” Malioboro, tentu bagi siapa saja yang mengenal dunia kesenian akan juga memasuki salah satu “Fakultasnya”, yakni Seni Sono, sebuah gedung tua yang masih rapijali, dan di situ pula banyak diselenggarakan pameran senirupa dan pertunjukan teater, di samping sesekali diskusi kesenian. Melalui “Fakultas” Seni Sono itulah saya banyak mengenal perupa, khususnya perupa muda, seperti Bonyong Munni Ardie, FX. Harsono, Narsen Afatara, Untung Murdiyanto, Hardi, Sitti Adiyati, Ronald Manulang, Haris Purnomo, Dede Eri Supria, Gendut Riyanto dan puluhan lainnya, yang sedang gelisah dalam pencarian jatidiri melalui karya mereka. Merekalah dan teman-temannya dari ITB Bandung yang masuk ke dalam Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) Indonesia dan PIPA (Seni Rupa Kepribadian Apa) yang menguncang jagat senirupa Indonesia.
Saya merasa bahwa salah satu apresiasi saya terhadap masalah sosial, politik dan kebudayaan umumnya, rasanya sangat dibantu oleh dan melalui karya-karya perupa dan obrolan di “Universitas Terbuka” Malioboro dibandingkan dengan lingkungan kampus. Masalah-masalah aktual yang dinyatakan oleh kalangan perupa kerapkali membuat saya ter/di-guncang oleh sajian bentuk atau karya, yang membuat saya bukan hanya ketawa ngakak seperti karya Gendut Riyanto, “Kamar Seorang Remaja”, Ronald Manulang yang membuat “Kursi Miring”, juga permenungan yang membuat saya gelisah dan dicekam oleh sejumlah tanda tanya dan gugatan. Karya Haris Purnomo dengan bayi-bayi yang berserakan membuat saya jijik, takut dan prihatin. Sementara Bonyong yang karyanya monumental dengan mesin tik di atas sebuah meja yang diguyur cat hijau, rasanya membuat saya seperti dalam bayang-bayang – menurut tafsiran saya – tentang dunia jurnalisme, tulis-menulis dan mimbar akademis dalam cengkeraman militer.
Dan Haris Purnomo dengan gerakan Seni Rupa Kepribadian Apa yang bagaikan suatu orkestrasi sosial-politik ditengah jalan, suatu pertunjukan yang bukan main dahsyaatnya. Baru kali itu saya menyaksikan senirupa berada di tengah jalan, yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, yang biasanya saya merasa senirupa berada di dalam gedung, museum, galeri dan ruang tamu. Dunia visual yang kian kuat di dalam ruang perkotaan yang seiring dengan laju pembangunan ekonomi Repelita tahap kedua. Dunia disain lambat tapi pasti menjadi suatu profesi dan wilayah yang penuh dengan kemungkinan pembentukan citra yang dimanfaatkan oleh kekuatan politik ekonomi industri untuk menggiring warga atau siapa saja ke dalam berbagai pola konsumsi. Pada sisi lainnya sebagai daya ungkap citra politik melalui iklahn politis-ideologis pembangunan tentang sosok Suharto. Yang menarik, gugatan itu juga datang dari para perupa yang dengan bernas dalam gagasan serta perwujudan yang membuat saya memandang realitas keseharian menjadi tidak tunggal, beragam perspektif, dan sangat impresif. Sisi lainnya yang saya alami dan hal itu menjebol dan membubarkan dinding pikiran saya tentang posisi senirupa: bukan sesuatu yang “adiluhung”, dan senirupa bukan hanya senilukis. De-sakralsiasi menjadi sangat menarik, seperti juga saya mendapatkan makna bahwa semua proses pembangunan dan kebudayaan bukanlah sesuatu yang tidak bisa digugat dan tidak hanya satu jalan. Ada beragam perspektif, pandangan yang bisa digunakan untuk meneropong dan menguak realitas dan wujud kebudayaan. Dan hal itu bisa dijasdikan sebagai bekal untuk memandang arus yang muncul dari “Barat” yang dalam beberapa tahun terakhir itu tentang “The End of Ideology”, dan di lingkungan Indonesia sedang menancapkan ideologi-tunggal yang dikendalikan oleh penguasa.
Bayang-bayang pemahaman saya tentang senirupa yang semula dihantarkan senilukis Affandi, Basuki Abdullah, Dullah, Sudarso, Hendra Gunawan, Sujoyono melalui kalender dan majalah, kini berganti kepada perupa muda yang sedang menggelegak. Mungkin hal ini karena rasa sejamanv dan berbagai gugatana yang dil;ontarkan oleh para perupa yang sangat inspiratif; suatu jaman ketika rejim Orba memasuki periode kedua rencana politik pembangunannya yang terus menerus dengan yakin dan represif menggelontorkan berbagai tekanan atas nama stabilitas nasional, sementara kue pembangunan yang diharapkan bisa menciptakan kemakmuran, tak kunjung ter/di-bagi dalam prinsip keadilan sosial. Hanya segelintir orang saja yang menikmatinya. Kongkalikong antara konglomerat yang baru muncul dengan korporasi militer dan MNC (Multi National Corporation) berjalan dengan intensif, dan kota berubah ke dalam berbagai bentuk tatanan yang lebih gemebyar akibat rangsangan ekonomi: iklan mulai bertebaran di mana-mana, seiring juga dengan slogan, iklan politik-ideologis pembangunan yanag menyatakan dirinya sukses, berhasil. Namun, semakin dinyatakan “sukses”, semakin banyak orang ragu kepada keberhasilan pembangunan. Sementara di pedesaan dengan massa mengambang (floating mass) – partai dan organaisasi sosial di luar pemerintah tidak boleh ada di pedesaan, harus dan hanya di tingkat kecamatan atau khususnya perkotaan - yang berjalan memasuki sepuluh tahun dibanjiri oleh teve, hiburan kota , kontrol militer terhadap kegiatan sosial dan indoktrinasi politik dan ekonomi: konsumerisme ekonomi dan politik kian intensif memasuki wilayah akar kebudayaan nusantara. Semua ruang sosial dibentuk melalui indoktrinasi politik ekonomi, life style, gaya hidup dan pola konsumtif sebagai bagian dari pengalihan arus politik dan ideologis, agar warga lebih mementingkan tubuh dan selera perut.
Perbincangan atau tepatnya gugatan terhadap kondisi itu juga banyak saya dengar di lingkungan Bengkel Teater. Ruang tamu rumah mas Willy menjadi ruang kuliah dan diskusi yang sangat menarik dengan kedatangan berbagai figur inspiratif, dari Rama Mangunwijaya, arsitek mas Robby Sularto, pak Umar Kayam, Arief Budiman dan puluhan lainnya yang setiap bulan dua kali diskusi yang membuat kepala saya penuh dengan informasi dan gagasan yang simpang siur, yang perlu saya catat, endapkan, dan mencari kemungkinan untuk peluang praktek secara mikro.
Begitu banyak masalah diantara gegap gempita pembangunan dan rasanya saya terguncang-guncang, terombang ambing seperti perahu yang terombang ambing oleh gelombang jaman, dan rasanya seperti menapakan kaki tapi mengambang. Saya berusaha bertanya-tanya ke dalam diri, kemana arah, dan apa yang akan saya kerjakan berikutnya. Tak ada jawaban yang pasti, seperti suatu “penyakit” yang tidak bisa saya diagnosa dan juga tak cukup jelas menduga apa “penyakit” yang saya derita, dan ada apa di dalam kepala saya, tubuh saya. Tak ada jawaban yang tuntas. Sementara itu desakan akibat suasana, tepatnya jaman yang begitu cepat melintas seperti juga informasi intrik politik yang membuat perut saya mual yang setiap hari saya dengar diberbagai ruang sosial, dan lagi-lagi jaman yang deras menderu membuat saya seperti oleng gemoleng, mendhem kahanan. Dan ruang kuliah makin membosankan karena hanya mencatat apa yang dikatakan oleh dosen, dan hanya seorang-dua dosen yang bisa diskusi dan dialog, sementara banyak dosen muda yang justeru angkuh hanya untuk menutupi ketidakpercayaan dirinya, dan secara formal juga nilai kuliah saya tidak terlalu baik; saya bukan mahasiswa yang lumayan baik untuk sebuah perkuliahan yang membutuhkan jawaban yang tepat atau persis seperti yang dikatakan oleh seorang dosen.
Dan suatu hari, setelah beberapa hari tak pulang ke tempat kost, saya ngendon di “Sanggarbambu” dengan beberapa teman menyiapkan majalah, dan sebelum rampung kami sempat menghadiri – kalau tidak salah malam Minggu awal September 1977 - pembukaan pameran PIPA yang mengguncangkan itu, dan malam Senin pameran itu ditutup oleh polisi dengan alasan “pornografi” pada karya Gendut Riyanto yang menggambarkan ruang remaja dan di dalam laci mejanya terdapat sebuah majalah “porno”. Senin sore, ketika saya sedang mengetik di “Sanggarbambu” seorang teman kost, Andri, mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM, muncul dari lorong gang dengan Honda CB 100 warna merah, nongol di depan “Sanggarbambu”, dan mendekat kepada saya berbisik: “Oom An minta saya pulang ke tempat kost”. Saya agak kaget. Andri tak menjelaskan lebih lanjut pesan Oom An. Saya punya feeling jelek. Dan oom An sudah menunggu di depan kost, dan ketika saya turun dari boncengan motor, Oom An menggandeng, merangkul saya, mengajak ke dalam dan memberitahu, ibu saya meninggal beberapa hari yang lalu. Adik saya berusaha mencari ke fakultas, Gelanggang Mahasiswa, ke rumah mas Don, kakaknya Linus di jalan Sangaji, selain tempat kost, tapi tak bertemu. Adik saya meninggalkan surat , uang dan telegram yang sudah dibacanya.
Sore itu juga saya di antar Eddy dan Nuryanto, ke stasiun mencari tiket. Dapat tiket kereta BIMA (Biru Malam), kembali ke tempat kost, menyiapkan pakaian ala kadarnya. Dan minta tolong Andri untuk menyampaikan kabar duka dan kepulangan saya ke Serang kepada teman-teman di “Sanggarbambu”. Sekitar jam 20.00 di stasiun Emha dan mas Supono Pr sudah menunggu, menemani saya di stasiun Tugu dan mengantar ke kereta BIMA. Tapi, kondektur BIMA yang rapijali dengan jas, dasi dan celana gelap, menolak saya sebelum kaki menapak tangga gerbong kereta yang nampak mewah itu, walaupun saya punya tiket, karena saya tidak pakai kemeja, sepatu, dan saya cuma pakai celana blue jin belel yang lusuh dan sebuah ransel kumal. Dengan ramah kondektur bilang, uang tiket akan dikembalikan, dan seorang staf perempuan kereta BIMA mengantar saya untuk mengambil uang. Tak ada pilihan lain, tak ada kereta lainnya menuju ke Jakarta , semuanya sudah berangkat, dan pilihan ke Bandung . Dari Bandung, Selasa pagi saya dengan bis “Merdeka” ke Serang, kota kelahiran saya, dan di kampung nampak terasa duka, para tetangga menyambut saya, mengantar saya ke rumah kami yang sudah penuh sesak oleh kerabat dari berbagai kota dan tetangga. Tak sempat saya melihat wajah ibu saya. Upacara penutupan peti jenazah sudah berlangsung sehari sebelumnya. Ayah saya menggamit, mengajak ke lantai dua. Bertanya kepada saya, “apakah saya mau mengikuti tata cara, adat? Ini hanya untuk ibumu”, katanya. Saya manggut.
Foto: www.hazelnotes.com
