Peristiwa

MEMOAR HALIM HD (3): Bulaksumur, Kampus Biru

coba

26.08.2009 19:25:32 WIB

Oleh HALIM HD

WAKTU berlalu. Dan saya lulus dari SMA I Institut Indonesia , dan mendaftar ke beberapa perguruan tinggi: UGM, IKIP Sanata Dharma dan IKIP Negeri. Aneh bin ajaib, dan saya bingung karena saya lulus testing di beberapa fakultas dan jurusan. Padahal, saya lulus dari SMA dengan nilai pas-pasan, dan itupun lantaran ditolong oleh seorang-dua guru yang akrab, yang menganggap saya punya pengetahuan umum yang luas, sejarah yang bagus, sastera yang baik, antropologi yang bagus, dan jeblog di mata pelajaran lainnya. Saya agak bingung memilih. Akhirnya, saya memilih Fakultas Filsafat UGM, setelah berdebat dengan kakak saya yang - bukan hanya meminta – menyuruh saya masuk ke Fakultas Ekonomi atau Hukum. “Kalau kamu lulus dari Fakultas Hukum atau Ekonomi, gampang cari pekerjaan”, katanya. “Perusahaan tempat saya bekerja, siap menampung”, lanjutnya. Kakak saya bekerja di perusahaan pelayaran internasional; dia lulusan AMI (Akademi Maritim Indonesia) Jakarta, jurusan Administrasi Pelabuhan, generasi awal dari pendidikan sejenis dan dari akademi maritim pertama yang ada di Indonesia.
Tapi, saya sudah mengambil keputusan. Saya memilih Fakultas Filsafat mungkin karena pengaruh buku Mr. Pringgodigdo, “Dari Socrates Sampai Soekarno”, sebuah buku dengan sampul hijau pupus dan abu-abu, yang pertama kali saya baca ketika saya masih di Sekolah Rakyat Mardi Yuwana di Serang, dan saya bawa ke Yogyakarta . Dalam bayangan saya, waaah, kalau masuk ke Fakultas Filsafat, tentunya nanti saya bisa jadi “negarawan” atau “pemikir”. Bayangan seperti itu sebenarnya timbul tenggelam diantara keinginan untuk masuk ke salah satu fakultas di Universitas Indonesia (UI) di Jakarta , FISIP yang baru 1-2 tahun membuka jurusan “Kriminologi”. Saya pikir dengan naïf, jurusan ini menarik, dan saya membayangkan bisa menjadi detektip, seperti dalam novel serial detektip Sherlock Holmes atau Hercule Poirot karangan Agatha Christie koleksi kakak saya yang saya lahap ketika SR dan SMP. Dan tentu saja keinginan ke Jakarta selalu masih menggelitik saya. Dan kembali “proposal’ saya dengan asumsi bahwa saya bisa ikut membantu ayah pada waktu liburan ditolak oleh kakak saya; dan ibu saya menganjurkan untuk tetap di Yogyakarta . Karena kakak saya menolak “proposal” saya, maka saya menolak “instruksinya”, dan mengambil keputusan, yang sebelumnya saya minta restu kepada ibu saya. Dan ibu saya selalu bilang: “Soal sekolah urusan kamu, masa depan kamu. Saya cuma orang desa, dan cuma bisa kasih biaya”. Dana saya Tanya kepada ayah saya. Ayah saya balik bertanya, “menurtut mamahmu gimana?”.
Saya sering merasa dalam hidup saya selalu diiringi oleh berkah terselubung: masuk ke Fakultas Filsafat UGM, dan saya berkenalan dengan beberapa orang yang membuat saya segan, hormat, dan juga perasaan minder: beberapa mahasiswa baru itu adalah penulis cerpen, penyair yang sering saya baca di koran Pelopor Yogya, diantaranya Kusuma Teja yang nama aslinya Lalu Kusumaningrat, dan satu lagi Emha Ainun Najib dalam daftar mahasiswa yang diterima, namun tidak mendaftar ulang. Kusumateja, berasal dari Lombok , menjadi teman akrab, dan ada beberapa senior saya yang juga selalu menulis. Menjadi teman mereka, bagi saya, membuat saya betah dalam perbincangan tentang buku dan karya sastera. Lama kelamaan, kami membentuk kelompok penggemar sastera.; saling tukar pinjam buku dan juga membacakan karya sendiri, dan kegiatan sastera lainnya. Dan itu dimulai oleh Rizal Siregar, seorang aktivis pers kampus, yang memulai dengan pembacaan puisi di bawah 7 (tujuh) pohon cemara di halaman Selatan gedung pusat UGM. Rizal yang well organized dan dikepalanya banyak gagasan mendatangkan Darmanto Jt., Abdul Hadi WM, Umbu Landu Paranggi, Peter Hagul, Ashadi Siregar dan sejumlah penyair lainnya dan banyak orang-orang sastera, teater dan jurnalis datang ke kampus UGM di Bulaksumur, serta ratusan mahasiswa. Hari itu, nampaknya menjadi hari penting di lingkungan UGM, dan 1-2 hari kemudian media lokal serta Jakarta menulis kegiatan itu. Fakultas Filsafat jadi perbincangan. Dan dan beberapa bulan sebelumnya ketika POSMA (pekan orientasi studi mahasiswa) dengan tradisi karnaval keliling sebagian kota Yogyakarta , dan mahasiswa Fakultas Filsafat membuat “Keranda Demokrasi: Sudah Mati”. Lagi-lagi Rizal Siregar sebagai pencetus ide itu dibantu mahasiswa filsafat lainnya. Beberapa hari kemudian koran yang berpengaruh di Indonesia, Indonesia Raya yangb identik dengan Mochtar Lubis itu memuat berita dan fotonya, juga mingguan “Mahasiwa”, koran yang didirikan oleh Rachman Toleng, salah satu dedengkot PSI di Bandung memuat dua halaman penuh.
Fakultas Filsafat yang mahasiswanya hanya beberapa gelintir itu dalam tenggang waktu setahun-dua menjadi bahan pembicaraan dikalangan aktivis dan kesenian di Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Jakarta, Semarang karena kegiatan sasteranya yang menurut koran Kedaulatan Rakyat dianggap “lebih sastera” ketimbang Fakultas Sastera karena kegiatan sastera yang setiap bulannya diadakan di bawah “Cemara Tujuh”. Di samping itu, hampir setiap dua minggu sekali ada diskusi yang diselenggarakan oleh “Forum Dialog” Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM dengan mengundang pembicara dosen-dosen kritis di lingkungan UGM, guru besar tamu seperti Prof. C. A. van Peursen, Prof. Verhaar, Prof. Jeuken, DR. Magnis Suseno – dengan tema kajian tentang filsafat, kebudayaan dan agama dalam konteks perkembangan masyarakat. Dan “Forum Dialog” yang didirikan oleh senior saya, mas Damarjati Supajar, mas Sunarto, bang Iwan Nussyirwan Jamal dan bang Husnan Aksa, lantaran kesibukan mereka menyerahkan kepada saya sebagai koordinator tim kerja penyelenggaraan forum itu. Fakultas Filsafat yang mahasiswanya hanya puluhan orang itu dan dengan berbagai media yang dibentuknya, seperti “Forum Dialog”, Biro Pers Mahasiswa Fakultas Filsafat (BPMFF) UGM, majalah “Universum”, dan jangan kaget, ada sekitar 4-5 mading dan bulletin!! Mading ini sebagai praktek menulis dan sejenis “dinding demokrasi”: siapa yang punya gagasan, dan tidak setuju dengan gagasan lainnya bisa membuat mading, dan juga buletin (lebih tepatnya selebaran atau pamflet yang setiap minggu beredar walaupun dalam tiras yang terbatas), dan fasilitasnya disediakan oleh BPMFF dan didukung oleh dekan.
Tentu saja kegiatan bukan hanya di Fakultas Filsafat. Fakultas Sastera misalnya walaupun hanya sesekali, menjadi wilayah pertemuan yang menarik, juga karena banyak yang cantik, sama seperti Fakultas Psikologi! Dolan dan diskusi di kedua fakultas itu membuat saya dan beberapa teman selalu bersemangat. Dan biasanya pertemuan, diskusi atau sekedar kongko menjadi wilayah pertukaran informasi, dan kami dari Fakultas Filsafat selalu ditanya oleh aktivis dari fakultas lain: “Apa lagi kegiatan kalian, jangan lupa mengundang kami”. Ada sejenis rasa bangga, dan sekaligus menjadi tantangan bagi kami. Kegiatan sastera berjalan terus, dan melebar ke berbagai fakultas lainnya. Di antara itu, tentu saja Gelanggang Mahasiswa yang menjadi salah satu ruang yang enak untuk bertemu, diskusi dan menerima rekan-rekan mahasiswa dari kampus lainnya. Di samping itu, Gelanggang Mahasiswa juga menjadi markas Teater Gama. Di sini saya menikmati betul; menikmati sambil belajar bagaimana menonton melalui latihan mereka yang intensif, dan sekaligus sebagai upaya untuk memahami dunia teater dari pelaku utamanya.
Yang menarik dari Teater Gama ini adalah pembahasan naskah yang intensif sebelum latihan rutin dan pementasan. Dan sebuah lakon tidak cukup hanya dipanggungkan sekali, juga sebuah lakon tidak cukup hanya disutradarai oleh hanya seorang. Sebuah grup teater yang terbuka kepada gagasan, pendapat dan opini, dan di dalam proses selalu mengundang orang lain untuk melihat dan mendiskusikannya. Lakon “Aduh” Putu Wijaya misalnya, belasan kali dalam 3 tahun saya menyaksikannya di Yogyakarta, Semarang, Jakarta yang dipanggungkan oleh Teater Gama, dengan sutradara yang berbeda-beda: Suharyoso, Landung Rusyanto Simatupang, Abdul Wachid, dan tak bosan-bosannya lakon yang rasanya dekat dengan lingkungana kita, tentang orang-orang yang hanya bicara, bicara dan bicara sementara korban menjadi terlupakan. Dari Teater Gama, salah satu grup yang sampai sekarang yang memberikan inspirasi kepada saya di dalam memandang proses teater, di samping Bengkel Teater-nya Rendra.
Sekretariat Dewan Mahasiswa (DEMA) UGM juga di Gelanggang Mahasiaswa. Saya sering ngobrol dengan mereka. Mungkin karena selalu bertemu dan mereka tahu saya punya kegiatan sastera, DEMA meminta saya membuat buku kumpulan puisi. Saya sodorkan proposal, dan mereka setuju untuk membuat kumpulan puisi penyair dari UGM dan luar-UGM. Jadilah Bulaksumur-Maliobor o yang dieditori oleh Linus Suryadi Ag., Slamet Riyadi dan saya sendiri. Disain sampul oleh Sitti Adiyati (salah seorang perupa penanda tangan Black September, dan Gerakan Senirupa Baru Indonesia ) dan dicetak offset di Gajah Mada University Press, yang membuat Pater Dick Hartoko memberi pujian: baru kali ini melihat buku puisi mahasiswa dicetak serius. Karena biasanya stensilan. Dan sekretaris majalah “Basis”, B Rahmanto, menulis resensi di majalahnya. Tahun berikutnya, kembali DEMA UGM meminta saya untuk menyelenggarakan penerbitan buku sastera, dan saya memilih salah seorang anggota PSK (Persada Studi Klub) yang kebetulan mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM, Bambang Indra Basuki (adiknya mas Kuntowijoyo) , dan terbitlah “Perburuan” dengan disain sampul oleh Bonyong Munie Ardi, juga dari Gerakan Senirupa Baru Indonesia dan penanda tangan Black September. Tapi, ada gagasan saya yang tidak terwujud. Karena situasi di lingkungan DEMA UGM nampaknya buyar, dan sikon politik deras menggerus fokus rencana kerja sastera. Waktu itu saya menyusun proposal untuk menerbitkan kumpulan kritik sastera dan kesenian dari berbagai penulis, dan rektor UGM waktu itu, pak Sukaji Ranuwiharjo menyetujuinya, dan menyarankan sebagai konsultannnya pak Umar Kayam.
Di Gelanggang Mahasiswa juga saya mendapatkan pengalaman baik dalam pergaulan dengan sesama aktivis dan dunia kesenian dari lingkungan kampus UGM maupun kampus lainnya, yang pergaulannya demikian akrab, satu dengan lainnya saling mengenal, dan informasi demikian intensif melalui komunikasi personal. Sementara itu gagasan bisa ditimba melalui diskusi dan dialog. Dan karena kebutuhan untuk memahami situasi dan kondisi lingkungan yang lebih luas, sementara kondisi sosial politik semakin membuat rejim Orde Baru percaya diri untuk melakukan kontrol dan represi, pada sisi lainnya lembaga mahasiswa nampaknya setelah Malari 1974 masuk ke dalam sikap untuk kembali mengambil ancang-ancang dan menunggu momentum. Tapi DEMA UGM melempem. Untuk itu beberapa aktivis mengambil inisiatif membentuk “Kelompok Diskusi Sabtu” (KDS), seperti Hotman M. Siahaan, Toyibi, Saur Hutabarat, B. Aritonang, Zulyaden, Riyadi Gunawan, Rizal Siregar, Amir Effendi Siregar, Slamet Riyadi, Achmad Luqman, Fanani, dan beberapa mahasiswa lainnya, yang setiap hari Sabtu jam 10.00-13.00 berkumpul dan mendiskusikan situasi dan kondisi sosial politik mutahir. Saya ditunjuk sebagai koordinator divisi kajian sosial budaya; sementara teman-teman lainnya pada divisi sosial ekonomi, sosial politik, sosial tehnologi. Setiap divisi berkaitan dengan kata kunci “sosial” dan beranggotakan sebanyak 4-5 orang. KDS dibentuk, karena para aktivis menganggap Dewan Mahasiswa (DEMA) impoten, tidak lagi menampung aspirasi mahasiswa. Pada waktu itu ada kecurigaan di kalangan aktivis yang menganggap DEMA UGM mendapatkan tekanan dari militer, atau mereka memang “bermain mata” dengan serdadu.. KDS dengan inisiatif aktivis dan mendapat dukungan dari rektor UGM, memberikan kesempatan untuk dialog, diskusi, dan pada setiap acara rektorat KDS selalu diundang. Tapi yang paling menarik, kegiatan “mimbar bebas” di boulevard Bulaksumur: sebuah mimbar dengan sebuah megaphone yang sudah disediakan, siapa saja boleh ngomong apa saja. Dan dalam sekejap, biasanya ratusan, kadang mencapai seribu atau lebih mahasiswa berkumpul. Beberapa demonstrasi 1976-77-78 dimulai dari sini; berkumpulnya para mahasiswa dari berbagai kampus, seperti IAIN Sunan Kalijaga, Universitas Islam Indonesia dan IKIP Negeri bergabung dengan mahasiswa UGM. Tapi Gelanggang Mahasiswa juga bukan hanya markasnya Teater Gama, KDS dan sejumlah unit kegiatan mahasiswa, juga markasnya koran mahasiswa Gajah Mada, Gelora Mahasiswa (GEMA) yang dianggap kritis dan pernah tajuk rencananya “blok hitam” karena ada sensor atau tekanan dari luar kampus.
Gelanggang Mahasiswa sudah pasti menjadi ruang bagi siapa saja yang punya gagasan untuk menyelenggarakan kegiatan. Di Gelanggang ini pula saya menyaksikan beberapa kali pameran senirupa – di samping pertunjukan teater, musik, pembacaan puisi, musikalisasi, woksyop sastera - dari rekan-rekan mahasiswa ASRI-Gampingan yang bekerjasama dengan mahasiswa Arsitektur. Dan beberapa kali pameran itu menambah jalinan yang kuat antara mahasiswa ASRI-Gampingan dengan UGM-Bulaksumur, diantara hubungan personal yang lebih dulu terjalin. Dan satu hal lagi yang juga perlu dicatat, seperti yang pernah dikerjakankan oleh pak Sudarso Sp, MA, dan saya pernah menyaksikannya, tentang pameran senirupa (tapi yang dominan senilukis) melalui kerjasama antara ASRI-Gampingan dengan perpustakaan UGM: setiap tahun dua kali pameran, masing-masing selama 5-6 bulan, lalu diganti dengan karya lainnya. Dan karya-karya itu dipajang di ruang-ruang baca perpustakaan UGM, gedung SEKIP IV, lantai 1-2.

Komentar


Berita Terkait