Peristiwa

MEMOAR HALIM HD (2): Kios Koran & Buku Loakan

coba

26.08.2009 18:05:09 WIB

Oleh HALIM HD

JAKARTA tinggal impian. Kakak saya dan ibu terutama, mendorong saya untuk ke Yogyakarta . Kata ibu saya, di Yogyakarta enak. Hidup murah dan orangnya ramah-ramah. Jadi, suatu sore ketika saya sedang main rolet telur di bawah pohon petai cina di lingkungan RT lain, ijen dengan bandar tua yang kepalanya botak ditutupi pecis, yang selalu gemetar melawan saya, tiba-tiba pundak saya digamit dan saya berpaling, kakak saya sudah berdiri di belakang saya, dan menyampaikan kabar dari ibu: “pulang, mamah menunggu”. Di teras rumah, ibu saya sedang ngobrol, dan lalu mengajak saya masuk ke dalam, dan di ruang tamu sebuah tas besar warna coklat telah tersedia dan nampak terisi penuh, dan sebuah map berisi ijasah, rapor, surat jalan, surat keterangan kelakuan baik. Ibu saya menyampaikan kepada saya, bahwa sore ini juga saya mesti ke Jakarta, lalu besoknya ke Yogyakarta untuk mendaftar di sebuah SMA. Sudah tersedia sebuah tiket bis malam Bumi Amqa (baca Bumi Amsya, perusahaan milik KKO, Korps Komando sekarang marinir; sedangkan bis malama Pemuda Express dibawah naungan RPKAD, diganti jadi Kopassandha, sekarang Kopassus). Sore itu juga saya ke Jakarta dengan suberben (mungkin kata ini berasal dari “Sub(-)urban” sejenis kendaraan di Amerika yang sudah dimodifikasi untuk kendaraan umum; biasanya merek General Motor dan Chevrolet) dan bermalam di rumah nenek saya. Besoknya, menjelang makan siang teman lama saya, Hendra (Yo Tek Hoo), datang, juga dari Serang, ternyata dia juga mau ke Yogyakarta . Kami kongko tentang Yogyakarta yang lamat-lamat hanya sedikit saya ketahui ketika pergi ke Borobudur setahun lebih sebelumnya. Sekitar jam 14.00 dengan becak kami ke kantor bis malam Bumi Amqa di pojokan antara jalan Gajah Mada dan jalan Alaydrus. Kantor bis malam ini tak jauh dari rumah nenek saya. Ternyata, beberapa teman lainnya juga sudah ada di kantor bis malam itu; kakaknya Hendra, Tek Hien, dan teman lama dari Cilegon, Seno (Syen Syen), juga teman saya se kampung tapi beda kelas sosial, Dodo (Ong Hian Jien), yang kakeknya punya rumah besar, kuno, megah di Senen dan di jalan Raden Saleh.
Antara 13-14 jam perjalanan dari Jakarta , tibalah saya di Yogyakarta , di Selatan Tugu, jalan Pangeran Mangkubumi. Kantor bis malam berseberangan dengan kantor koran Kedaulatan Rakyat. Pagi itu, di kantor itu sudah menunggu 2 orang teman kakak saya, Thio Siong Hu dan Tan Tiong Han, menjemput, dan lalu kami naik becak menuju Bumijo Lor, melalui Gowongan Lor kearah Barat. Saya masuki rumah kontrakan teman-teman kakak saya dengan nomor DJ. 3/372-A yang nampak tua, kumuh, temaram, dan sumpek. DJ, singkatan dari Djetis dalam ejaan lama. Itulah wilayah di mana saya tinggal selama 20 bulan, lalu pindah ke rumah kost, dan lalu pindah lagi – ikut pemilik pengelola kost, Oom An - ke jalan Bumijo 14, depan DPU (Dinas Pekerjaan Umum) bersebelahan dengan percetakan Suyadi, dan terakhir pindah lagi mengikuti Oom An ke Penumping, sebelah Barat SD Kanisius.
Di Bumijo yang membosankan itu, membuat saya lebih banyak pergi ke luar: nonton film, sehari bisa dua tiga kali, dan dolan ke syoping senter, dari kantor Pos Besar ke arah Timur, tempat buku loakan atau ke sekitar Purosani, dan Gondomanan seberang klenteng. Sebagai penggemar buku sejak di kampung, lingkungan itu membuat saya betah dan berusaha membeli satu dua buku setiap minggunya, terutama novel yang saya minati. Dalam setahun, diantara buku yang saya bawa dari kampung, terkumpul seratusan judul dan puluhan majalah kebudayaan dan sastera. Nah, bioskop dan lingkungan buku dan kiosk koran yang menghibur saya, diantara rasa bosan dengan jenis makanan, yang membuat saya harus mencari warung makan Padang yang masih jarang di Yogyakarta . Kiosk koran dan kiosk buku loakan menjadi tempat saya bermain dan mencari bahan bacaan atas anjuran pak Rusdi, guru saya di SMA, yang memberitahu kepada saya, jika saya senang cerpen dan kupasan sastera bacalah majalah Horison dan beberapa majalah lainnya yang pernah terbit seperti Sastera, Budaya, Indonesia, dan lalu saya mengenal juga Budaya Jaya.
Yang paling menarik dari lingkungan kiosk koran dan buku loakan itu, saya selalu melihat beberapa sosok yang nampak rada kumal, ada juga yang agak lumayan rapi, dan yang paling jelas, rambutnya panjang, gondrong melintasi bahu. Saya pikir, mereka seniman atau sasterawan. Dan mereka juga sering saya lihat nongkrong di kiosk koran di sebuah taman sebelah Utara Hotel Garuda; kalau malam mereka nongkrong di bawah perpustakaan umum Yogyakarta , seberang Hotel Garuda. Rumah kontrakan yang kumuh dan teman-teman kakak saya lebih banyak main gitar dengan lagu-lagu pop, membuat saya bosan dan lebih banyak keluar malam, menyusuri malioboro dan mampir ke Seni Sono, melihat pameran lukisan atau pementasan drama, seperti yang dianjurkan oleh pak Rusdi, guru sastera dan Antropologi saya. Menonton drama bagi saya, menjadi hiburan dan sesuatu yang mengingatkan saya di kampung kami, Mangga Dua, yang selalu didatangi grup Lenong, Tanjidor dan Wayang Golek dari Tangerang, Bekasi, Karawang dan Cikande. Saya tidak cukup mengerti dengan tontonan drama itu. Tapi, saya nonton saja. Dan itulah juga yang mengantarkan saya untuk sesekali nyelonong ke jalan Cikini, ke Taman Ismail Marzuki (TIM), jika saya pulang kampung mampir ke Jakarta dan diajak menginap di rumah kakek teman saya, Dodo dan Wiwiek (Ong Hian Wiek) yang kakeknya punya rumah di jalan Raden Saleh, Jakarta. Dunia kesenian dan seniman menjadi tontonan dari jauh, dengan jarak sambil saya membayangkan, apa yang mereka kerjakan, dalam tanda tanya terus menerus. Tapi, satu hal yang menurut saya “merasa dekat” dengan mereka adalah dunia menulis. Mungkin karena saya senang membaca koran dan buku-buku sastera. Dan mulai dari situ, sesekali saya mencoba menulis “puisi” (diantara tanda petik!) yang saya kirimkan ke mading (majalah dinding) di sekolah saya. Dan saya agak bangga ketika “puisi” saya dua tiga kali dimuat di madding, dan sesekali menulis “cerpen”, yang juga dimuat. Ada keberanian untuk menulis, dan mulailah menulis terus. Tapi juga dengan penuh keraguan. Suasana hati seperti itu jika saya membaca puisi-puisi pada kumpulan buku puisi atau pada ruang puisi di koran atau majalah, rasanya “puisi” yang saya tulis seperti rengekan, cengeng, dangkal. Tapi, ada sesuatu yang membuat saya mulai dengan kontinyuitas yang rada ajeg, membuat catatan seperti yang dianjurkan oleh beberapa guru saya dan juga ayah saya, yang selalu bilang, “setiap orang bisa khilaf dan lupa, catat apa yang kamu pikirkan”. Saya mencatat apa saja setelah saya membaca buku, koran, majalah sebagai bagian dari kegiatan waktu luang, sama seperti saya mencatat yang saya lihat, saya tonton, misalnya sehabis menonton film atau drama, semuanya saya catat dalam sebuah buku yang saya bikin sendiri – sepertti yang dianjurkan oleh ayah saya - bundelan kertas buram ukuran kuarto yang saya potong dua dan saya jahit. Sejenis buku harian. Dan pekerjaan mencatat yang paling menarik adalah mencatat istilah-istilah yang saya dapatkan dari majalah, koran dan buku yang saya anggap bisa digunakan, dipraktekan di depan teman-teman sekelas pada waktu ngobrol, khususnya untuk di kampung halaman, agar dianggap “anak sekolahan”, atau dalam korespondensi. Yaaa, sejenis snobisme dan ekshibisionis anak remaja. Dalam soal istilah-istilah itu, sesekali saya dapat sindiran dari orang-orang di kampung angkatan kakak saya yang menganggap saya sok. Tapi, saya nggak peduli. Soalnya, banyak juga yang kagum. Dan saya senang itu. Rupanya, sekolah ada gunanya juga, paling nggak untuk pamer istilah!

Komentar


Berita Terkait