Budaya

MEMOAR HALIM HD (1): Memandang Yogyakarta Dari Kampung

coba

26.08.2009 17:13:50 WIB

Oleh HALIM HD

TAHUN 1968 saya memasuki Yogyakarta . Suatu kota yang selama hampir setahun menjadi bahan pembicaraan beberapa teman SMP, ketika kami memasuki kelas 3 SMPN III Serang, pada tahun 1967: mau ke mana setelah lulus. Saya tidak terlalu peduli. Bagi saya yang sebenarnya malas untuk sekolah, dan lebih senang mancing di tambak, sungai atau ke laut, adu jago, sesekali berjudi kiu-kiu dan rolet, mencuri buah-buahan terutama mangga di kebun orang di luar kota, maen layang-layang, di samping membantu ayah dan ibu saya. Membantu ayah saya, adalah kewajiban keluarga, kewajiban seorang anak untuk terlibat ke dalam kegiatan profesi orangtua, perdagangan. Dan yang terpenting bagi saya, dengan membantu itu saya mendapatkan uang. Dan dengan uang yang saya kumpulkan itu saya bisa jalan-jalan ke mana saja. Jalan-jalan ke luar kota adalah impian saya. Dalam bayangan dan impian saya, pergi ke Bandung dan Bogor, kedua kota besar yang selalu menjadi impian dan obrolan orang-orang Serang-Banten; sementara Jakarta, boleh dikatakan selalu saya kunjungi; setiap tahun minimal 3-4 kali saya ke ibukota - bergiliran dengan kakak saya sejak saya masih di Sekolah Rakyat (SR) Mardi Yuwana - mengantar beras atau bahan makanan dan uang untuk nenek. Jakarta membuat saya selalu antusias dengan bayangan melihat dunia hiburan dan naik trem dari Olimo (nama sebuah gedung di simpang tiga jalan Hayam Wuruk dengan jalan Mangga Besar), lalu ke Glodog, Kotta, Stasiun Beos, keliling ke Senen, Gunung Sahari, Pasar Baru, dan setelah puas kembali ke rumah nenek saya di Mangga Besar 3, (dulu namanya gang Areng, diganti jadi gang Rambutan dan terakhir Mangga Besar 3).
Walaupun suasana hati saya tidak berminat ke Yogyakarta, tapi hampir boleh dikatakan setiap minggu saya mendengar obrolan tentang Yogyakarta . Kota yang memiliki kraton, terkenal karena gudegnya, dianggap dan disebut “ kota pelajar”. Dan ada sebuah nama yang juga selalu jadi bahan obrolan, “Affandi”, pelukis, yang konon bisa membuat lingkaran atau bulatan sama persis seperti kita membuatnya dari alat ukur yang disebut jangka. Affandi jadi buah bibir orang kampung di sebuah kota kecil dan mitos yang tak lepas dari obrolan, yang sesungguhnya kami hanya mengetahui dari gambar-gambar di majalah atau kalender. Jika teman-teman saya bicara tentang Yogyakarta, saya mendengarkan tanpa minat yang besar, walaupun saya pernah pergi, mampir dari perjalanan ke Malang bersama kakak saya.
Malang juga kota yang saya senangi karena cuaca dan banyak pepohonan yang besar-besar. Tapi aneh kenapa pula begitu banyak orang ingin ke Gunung Kawi berombongan, dan saya pernah ke sana bersama rombongan kampung yang menyewa bis. Katanya di sana siapa saja bisa meminta “sesuatu”. Tapi, Borobudur , menjadi favorit saya, juga beberapa candi lainnya seperti Prambanan. Dan aneh, kenapa orang senang gudeg, yang rasanya membuat saya cepat kenyang. Tapi, saya senang ayam goreng “mBok Berek” di Kalasan, yang saya cicipi dan makan dengan lahap ketika rombongan kami singgah sehabis dari Prambaban. Yaa, saya senang dengan candi-candi. Mungkin karena itu saya tertarik untuk ngobrol tentang Yogyakarta .
Tapi, yang membuat saya ke Yogyakarta sesungguhnya desakan kakak saya. Sebenarnya saya ingin melanjutkan SMA ke Jakarta . Jakarta bagi saya kota favorit. Pertama, karena nenek, ibu ayah memanjakan saya, selalu memberi uang. Dan Jakarta juga dekat dengan Serang, kota kelahiran saya, hanya sekitar 4 jam - waktu itu - dengan bis “Subur” atau “Damri”, atau naik Suberben lebih cepat lagi, dari Bungur atau Petekoan, di sekitar daerah Angke. Jadi, kalau kekurangan uang, dengan gampang saya bisa pulang kampung. Di samping itu saya juga mengenal semua sopir bis dan suberben; dan mereka juga mengenal orangtua saya. Jadi kalau tidak ada uang untuk ongkos gampang saja, bayar di rumah. Saya senang Jakarta juga karena banyak famili, kerabat kami, juga kenalan. Jadi saya bisa dolan ke mana saja. Yogyakarta ? Yaaah, saya tahu namanya dan banyak disebut sebagai “ kota pelajar”, ini dan itu. Tapi, siapa yang saya kenal di kota itu, dan agak jauh juga. Jakarta , yaaa, Jakarta menjadi impian saya untuk sekolah dan dolan.
Tapi, kakak saya tidak setuju, dan nampaknya dia membaca pikiran saya: Jakarta- Serang terlalu dekat. “Nanti terlalu sering pulang kampung”, tuding kakak saya. “Dan”, katanya, “ paling-paling di Jakarta cuma mau dolan, dan sekolahmu bisa terganggu”, tandasnya. Perdebatan itu berlangsung beberapa bulan, dan saya bersikukuh untuk ke Jakarta , kota impian semua warga di nusantara. Dan bagi saya, Jakarta untuk memuaskan mata saya, mata anak kampug di sebuah kota kecil yang ingin benar nonton pelem (film) yang kian bebas masuk dan beredar, setelah di jaman Bung Karno yang penuh dengan kontrol. Sementara teve hitam putih sudah kian membosankan; paling-paling film “Bonanza”; dan bioskop di kota kelahiran saya, “Merdeka” (nama semula “Royal” lalu diganti lagi menjadi “Tri Karya”) dan “Sampurna” (diganti menjadi “Trimurti” yang bersebelahan dengan bola sodok, biliar, dekat rumah dan toko rempah-rempah pakde saya di Gang Rendah) dan selalu mengulang film-film dari India . Saya memang masih senang nonton Charlie Chaplin, bintang favorit saya, dan sesekali nonton film nasional yang saya senangi seperti “Heboh” dan “Jenderal Kancil”, bintangnya Achmad Albar. Sementara itu di Jakarta saya dengar sudah banyak film dari Hong Kong , film silat. Ingat, saya itu penggemar cerita silat Kho Ping Hoo dan terjemahan oleh Gan K.L., OKT, disamping komik silat roman Tiga Negeri seperti Sie Jin Kwie, Sie Teng San, Hwan Lee Hwa – kalau tidak salah goresan Siaw Tik kwie - dan komik serial Mahabhrata, Ramayana dan Sitti Gahara karangan R. A, Kosasih.. Tentu saja saya senang dengan buku sastera, tapi yang paling saya senangi biografi dan sejarah. Dan film yang ingin saya lihat adalah film-film Amerika! Amerika. Yaaa, Amerika dengan Elvis Presley yang selama ini hanya didengar lewat piringan hitam milik kakak saya, musiknya, Rock n Roll! Juga John Wayne. Sebenarnya di kota kelahiran saya juga film Amerika diputar. Tapi jarang, hanya sesekali. Dan menurut teman se kampung saya, Yan (Lie Hong Jun) yang berpengalaman di Kota (kami menyebut Jakarta dengan “Kota”, yang mungkin identik dengan “Kotta”, daerah stasiun Beos dan sekitarnya, pusat perkantoran dan perdagangan, dekat dengan Glodog) bisa memilih film apa saja, dan jangan khawatir batasan umur, bisa masuk asal bisa membayar penjaganya. Dan, di Jakarta filmnya pasti Cinemascope, layar lebar dan pasti full color. Kalau mendengar kata “cinemascope” dan “full color”, rasanya saya sudah seperti kena gegar, terguncang, dan adrenalin saya menjompak-jompak. Di kota kami jarang film berwarna dan layar lebar; hanya sesekali setelah tahun 1965.

Komentar


Berita Terkait