Budaya

Amran Halim yang Kukenang

coba

13.06.2009 15:03:17 WIB

Oleh TAUFIK WIJAYA

SUATU hari di tahun 1993 kepala saya pusing. Dua hari menjelang kegiatan pembacaan dan bedah buku Cap Jempol, kumpulan puisi penyair Koko Bae, Isbedy Stiawan ZS, dan Ismet NM Harris, saya belum mendapatkan tempat kegiatan. Taman Budaya Sriwijaya tidak dapat digunakan sebab sudah dipakai sebagai kantor Dinas Pariwisata Sumatra Selatan.
Malam, sekitar pukul 20.00, saya mendatangi rumah Amran Halim di Jalan Al-Ghazali, Palembang. Saat itu dia menjabat Rektor Universitas Sriwijaya.
Tanpa basa-basi, setelah bertemu dengan pakar Bahasa Indonesia di ruang tamunya yang sederhana, saya mengutarakan niat untuk meminjam aula kampus Universitas Sriwijaya di Bukitkecil Palembang. Dan, alangkah senangnya hati saya, tanpa bertanya sedikit pun soal kegiatan tersebut, Amran Halim langsung mengiyakan. “Soal surat permohonan peminjaman, Awak kirim besok bae ke kantor,” katanya.
Beberapa tahun kemudian, menjelang kejatuhan Soeharto, kami kembali bertemu dalam forum diskusi mengenai perencanaan pembentukan Dewan Kesenian Sumatra Selatan di Stasion TVRI Palembang. Saat itu dia hadir bersama Ismail Djalili, Djohan Hanafiah, dan Nurhasan. Diskusi berlangsung hangat dan keras. Bahkan kritik Koko Bae terhadap kinerja para “orangtua” membuat suasana menjadi tegang.
Lalu, setahun kemudian, Mei 1998, beberapa hari setelah Soeharto tumbang, Amran Halim memimpin Dewan Kesenian Sumatra Selatan. Dialah menjadi pemimpin Dewan Kesenian Sumatra Selatan yang pertama.
Saat perupa Amri Yahya meninggal dunia. Saya bersama beberapa perupa yang melakukan doa bersama di sekretariat Dewan Kesenian Sumsel, seperti Didik Kamil dan Suharno Manap, menarik sebuah gagasan pemberian nama Amri Yahya untuk jalan di depan kantor Graha Budaya Jakabaring. Gagasan ini disambut baik oleh Ketua Dewan Kesenian Sumsel saat itu, Djohan Hanafiah. Saat didiskusikan dengan Amran Halim, beliaupun mendukung soal pemberian nama jalan tersebut.
Amran Halim juga menyambut baik penerbitan novel Juaro dan Buntung milik saya. “Teruslah berkarya. Sumsel ini kaya dengan hasil budayanya. Masih banyak yang perlu ditulis,” katanya.
Dan, Amran Halim menyambut baik penerbitan majalah kebudayaan Musi Terus Mengalir. “Ini gagasan baru, tapi yang paling sulit membangun majalah seperti ini adalah pendanaannya. Sebab tidak banyak yang mau mendukung proyek merugi seperti ini. Tapi teruslah berusaha dan berkarya,” kata penulis buku Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) tahun 1980, dan 30 Tahun Indonesia Merdeka tahun 1981 bersama Drs. Yayah B. Lumintaintang.
Dua hari lalu, saya menerima telepon dari Dewan Kesenian Sumatra Selatan. Mengabarkan Mantan Kepala Pusat Bahasa itu dalam kondisi kritis di RS Moehammad Husin Palembang. Hari ini, Sabtu (13/06/2009) siang, sekitar pukul 11.45, saya menerima kabar beliau telah mendahului kita. [*]

Komentar


Berita Terkait