Internasional

Reaksi atas Skeptisisme Perubahan Iklim

coba

28.01.2010 17:52:26 WIB

Oleh KEYA ACHARYA

INDIA (IPS) – ”FAKTANYA pemanasan global itu terjadi. Jika es di Laut Antartika mencair, bagaimana bisa mengatakan gletser di Himalaya tak mencair?” tanya ahli gletser, Syed Iqbal Hasnain, marah.

Di tengah perdebatan mengenai penarikan sebuah lembaga PBB atas laporannya tahun 2007 pada minggu lalu bahwa gletser Himalaya akan menghilang pada 2035, yang skeptis terhadap pemanasan global segera menangkap kekeliruan itu. Mereka mencatat sejumlah laporan media tentang isu itu, yang mereka percayai bisa memperkuat posisi mereka.

Namun Hasnain, yang melibatkan diri dalam kontroversi berlarut-larut mengenai Himalaya, berujar “konyol” jika menganggap gletser tak mencair.

Ilmuwan ini sebelumnya menyebut tahun 2035 sebagai hilangnya gletser Himalaya akibat pemanasan global dalam sebuah wawancara pada 1999 dengan sebuah jurnal dari Inggris, New Scientist. Inter-governmental Panel on Climate Change (IPCC) mengambil tahun itu dari artikel berikutnya dan melaporkannya delapan tahun kemudian dalam Fourth Assessment Report tahun 2007, yang mereka tarik kembali minggu lalu.

Dalam laporan IPCC itu, badan PBB itu mengatakan fenomena perubahan iklim yang akan mencairkan sebagian besar gletser Himalaya pada 2035 itu diambil dari artikel New Scientist yang terbit pada 1999, tulis media Inggris Sunday Times edisi 17 Januari lalu. Artikel itu didasarkan wawancara telepon dengan Hasnain oleh penulis jurnal itu, Fred Pearce.

IPCC, yang memberi informasi berharga mengenai perubahan iklim, memenangi Hadiah Nobel Perdamaian 2007 bersama mantan Wakil Presiden AS, Al Gore.

Hasnain, yang menyangkal telah memberikan kerangka waktu 2035 itu kepada penulis, mengatakan Pearce telah menghilangkan catatan dalam artikel Sunday Times itu, yang menyebutkan sebuah laporan tahun 1999 yang dipersiapkan oleh para ilmuwan “tak menyebut 2035 sebagai tahun gletser Himalaya akan mencair.”

Hasnain, anggota senior Energy and Resources Institute (TERI), mengatakan tahun yang disebutkan dalam artikel New Scientist adalah “asumsi jurnalistik yang disisipkan pewawancara, yang tak mungkin saya kontrol.”

Hasnain memberi IPS sebuah sintesis dari studi ilmiah terbaru tentang gletser Himayala. Berjudul “Synthesis of Recent Studies on Himalayan Glaciers”, laporannya dari sejumlah penelitian ilmiah yang dilakukan selama dekade terakhir, membuktikan bahwa gletser Himalaya surut.

Gletser di Himalaya bagian timur dan tengah sangat sensitif terhadap panas atmosfer saat ini karena sistem akumulasi-salju musim panas mereka, ujar laporan ahli itu, mengutip studi Yasunari Ageta dan K. Higuchi pada 1984.

Peningkatan suhu udara saat musim panas tak hanya membuat es kian mencair tapi juga secara signifikan mengurangi akumulasi itu karena curah salju menyesuaikan curah hujan. Sebaliknya, gletser “tipe akumulasi-musim dingin” menerima akumulasi utama mereka pada temperatur yang lebih rendah sehingga kurang sensitif terhadap peningkatan suhu udara, sebut laporan Hasnain lebih lanjut.

Himalaya, terletak di antara anak benua India dan Dataran Tinggi Tibet, terdiri dari jajaran gunung tertinggi dunia, termasuk Gunung Everest. Ia adalah tempat bagi lebih dari 15.000 gletser.

Sebuah studi tahun 2009 tentang pencairan gletser oleh sebuah tim ilmuwan yang dipimpin A. Shukla, menggunakan data sensor satelit optik, menemukan bahwa gletser Samundratapu di Lahaul-Spiti, Himachal Pradesh di India bagian utara, telah mencair 13,7 kilometer persegi dalam 41 tahun terakhir, dengan pemunduran moncong sekitar 588 meter. Ilmuwan ini menyimpulkan semua perubahan ini terkait dengan pemanasan iklim.

Isu perubahan iklim menjadi pembicaraan hangat di seluruh dunia dan komunitas internasional dalam upaya menghadapi dampaknya, termasuk mencairnya gletser dengan cepat yang diketahui memicu gelombang bencana alam.

Akhir tahun lalu, heboh email yang dikirim oleh para ahli iklim Universiy of East Anglia di Inggris, yang mengklaim beberapa data statistik yang dihasilkan membuktikan adanya perubahan iklim, memancing kegemparan publik. Para ilmuwan ini, yang jadi sasaran kontroversi, berujar email-email mereka kena hack dan keluar dari konteks.

Hasnain mengatakan kelompok-kelompok kepentingan berusaha mencemarkan nama baik para ilmuwan yang “dengan tekun melakukan yang terbaik untuk meneliti isu ini.”

Mengumpulkan dan menyusun bukti-bukti ilmiah mengenai pergeseran gletser di Himalaya sulit, bahkan mustahil, secara fisik maupun teknis. Menurut International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD), yang bermarkas di Kathmandu, belum ada pengukuran keseimbangan massa gletser secara sistematis di wilayah Himalaya.

Cina satu-satunya negara di wilayah itu yang telah lama melakukan studi keseimbangan massa di sejumlah gletser. Mereka akan meluaskan studi ke lebih banyak gletser Himalaya, ujar ICIMOD.

Pada November 2009, mendampingi kelompok wartawan internasional ke Khardung La, jalan tertinggi di India, untuk mengamati kondisi gletser yang surut, Hasnain menunjukkan bukti ilmiah mengenai pergeseran gletser di Chota Sigri di Himazhal Pradeh, Drang Drung di daerah Zanskar di Ladakh, dan East Rathong di Himalaya bagian timur.

Chota Sigri menunjukkan penurunan tajam dalam keseimbangan massa tahunan, dengan pergerakan gletser tertinggi 40 meter per tahun dan terendah 25 meter setiap tahun.

”Benar-benar menyusut,” ujar Hasnain kepada kelompok wartawan Eropa, Amerika, dan Asia Selatan itu.

Bersama Dr Veerbhadra Ramanathan dari Scripps Institute of Oceanography at Woods Hole, Massachusetts, Hasnain juga memperlihatkan bukti ilmiah bagaimana black carbon aerosols, yang berkontribusi pada fenomena “atmospheric brown cloud”, mengendap sendiri di atas salju Himalaya dan menyebabkan peningkatan suhu sehingga mempercepat pemanasan global lebih dari yang “normal”.

Di India, Departemen Lingkungan Hidup dan Kehutanan seolah memperoleh pembenaran atas tuduhannya, yang dibuat pada 2009, bahwa pandangan IPCC bikin “cemas.” Kepala IPCC Rajendra Pachauri, yang juga direktur TERI, menggambarkan laporan Departemen itu sebagai didasarkan atas “ilmu voodoo.”

Bencana memalukan atas proyeksi tahun hilangnya gletser Himalaya membayangi diskusi mengenai negara bagian miskin massa ini, khususnya yang lebih kecil.

Di Ladakh, di negara bagian paling utara di India, Jammu dan Kashmir, pensiunan insinyur sipil pembangunan pedesaan Chewang Norphel dengan tenang membantah klaim bahwa ada data ilmiah yang membuktikan gletser di India surut.

“Sayalah data ilmiah itu,” kata Norphel. ”Saya telah melihat, misalnya, luas gletser Khardung La sejak saya kecil: saat itu ia es yang solid,” ujarnya kepada kelompok wartawan internasional pada November 2009.

Norphel, dikenal sebagai “manusia gletser” dari India, telah membangun saluran konservasi-air di ketinggian yang membekukan “gletser-gletser buatan” untuk mengatasi kelangkaan air akibat surutnya gletser Himalaya. Gletser Khardung La adalah satu contoh dari gletser yang mencair di Ladakh, saat ini nyaris tak dapat dikenali sebagai gletser. Lebih dari 70 persen pasokan air di kecamatan Ladakh pada musim semi bersumber dari salju gletser yang mencair dan satu-satunya sumber air untuk irigasi bagi masyarakat pegunungan yang terpencil.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan suhu yang diyakini menyebabkan perubahan iklim mengakibatkan menurunnya curah salju di atas jangkauan zona ‘akumulasi’ gletser ini, yang mengurangi air di musim semi.

Sebuah survei terhadap 20 desa dan 211 individu berusia di atas usia 65 tahun di kecamatan Ladakh, yang dilakukan oleh lembaga nonpemerintah GERES (Groupe Energies Renouvelables, Environnement et Solidarités) dari Prancis, menunjukkan lebih dari 90 persen dari mereka mengatakan musim dingin sekarang lebih hangat.

Data metereologi yang dianalisi dari 1973 dan seterusnya oleh GERES menunjukkan peningkatan 1 derajat celcius dalam bulan-bulan musim dingin di Ladakh, ditambah dengan penurunan tajam hujan salju dan juga peningkatan tajam suhu rata-rata musim panas pada Juli, Agustus, dan September.

Perubahan suhu sudah mulai berdampak pada keanekaragaman hayati dan masyarakat di wilayah itu, ujar organisasi konservasi internasional Worldwide Fund for Nature (WWF).

”Beternak angsa berkepala-balok dan bangao berleher-hitam tak lagi mengikuti jadwal dalam beberapa tahun terakhir,” kata Nisa Khatoon, staf program WWF di Leh.

Dia menambahkan, rute migrasi masyarakat di danau Tsokar di Leh, yang dikenal dunia berkat tenunan syal Pashmina itu, ”menjadi lebih sering karena masyarakat penggembala ini bermigrasi akibat padang rumput yang menurun.”*

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Foto: www.tibetpictureswallpaper.net

Komentar


Berita Terkait