07.05.2010 22:58:26 WIB
Oleh EBRAHIM ZOFEEN
KARACHI (IPS) – PERWEEN Riaz, berusia 36 tahun, menunggu hingga melahirkan anak keenamnya sebelum dia akhirnya disterilkan.
Sebelum itu dia melakukan empat kali aborsi dalam rentang enam tahun sekalipun dia tahu metode kontrasepsi dan risiko aborsi.
"Setelah saya hamil kali keenam, saya putuskan untuk tak lagi hamil," kata Riaz. Dia menambahkan, dia pernah meminta bantuan dari “dai” terlatih (dukun melahirkan) untuk aborsi yang pertama dan berhasil.
Setelah aborsi, dia hamil dua kali sehingga dia memutuskan untuk menjalani prosedur kontrasepsi permanen dan aman secara kesehatan.
Riaz tinggal di permukiman sederhana di selatan kota pelabuhan Karachi dengan suami dan anak-anaknya, termasuk putrinya yang sudah bercerai dan cucu berusia 2 tahun.
Menurut Survei Penduduk dan Kesehatan Pakistan terbaru (PDHS 2006-7), perempuan di Pakistan punya empat anak, meski mereka hanya ingin tiga anak, atau kurang. Selain itu, hanya 22 persen perempuan menikah di Pakistan (berusia 15-49 tahun) menggunakan metode keluarga berencana (KB) modern; sterilisasi (8 persen) paling populer, lalu penggunaan kondom (7 persen).
Sekalipun perempuan ingin membatasi jumlah anggota keluarga, ujar PDHS, hampir 84 persen dari mereka tak menggunakan metode KB. Kebutuhan merekan akan KB belum terpenuhi karena keterbatasan akses kontrasepsi. Banyak wilayah pedesaan tak memiliki pusat perawatan kesehatan reproduksi. Tak heran jika satu dari tiga kehamilan adalah tak direncanakan.
Riaz mengatakan pergi ke pusat kesehatan dari desanya tidaklah mudah karena kendala mobilitas perempuan. Dia melakukan aborsi kali pertama ketika dia menggunakan pil KB, yang hanya sesekali dijalani.
"Perempuan sering lupa untuk minum pil secara teratur. Kami terpaku pada pekerjaan di rumah maupun ladang yang membuat kami lupa waktu," katanya. Dalam proses itu, mereka juga mengabaikan kesehatan reproduksi dan kesejahteraan mereka, sehingga hamil tanpa direncanakan.
"Kehamilan yang tidak direncanakan ini sering mengakibatkan perempuan memilih aborsi," kata Dr Sadqiqa Jafarey, ketua Komisi Nasional untuk Kesehatan Ibu dan Bayi.
Menurut studi LSM Dewan Kependudukan Pakistan pada 2004, sekitar 900.000 aborsi dilakukan setiap tahun. Hampir 200.000 perempuan –berusia 30 tahun ke atas dengan setidaknya tiga anak– mendatangi rumah sakit karena komplikasi akibat aborsi yang tak aman.
Dalam tulisan terbaru di blognya, James Gribble, wakil ketua Program Internasional di Population Reference Bureau (PRB), organisasi riset di Washington DC yang memantau trend kependudukan di seluruh dunia, menulis: "Bukan hingga perempuan memiliki tiga anak atau lebih yang membuat mereka berpikir tentang KB. Setelah memiliki lima anak atau lebih, perempuan memilih untuk sterilisasi."
Pada 21 April, PRB merilis proyek ENGAGE (Eliminating National Gaps – Advanced Global Equity) di Karachi, dengan tujuan "menciptakan lingkungan yang memungkinkan untuk memperkuat KB dan pelayanan reproduksi yang terpilih."
Proyek itu juga berusaha meningkatkan "pandangan mengenai kebutuhan yang belum terpenuhi untuk KB dan tingkat kehamilan tak direncanakan yang tinggi, serta biaya, konsekuensi, dan solusi bagi mereka".
Saat ini Pakistan adalah negara berpenduduk terbesar keenam di dunia, dengan 180 juta jiwa. Jika perempuan terus punya setidaknya empat anak, penduduk negeri ini diproyeksikan membengkak hingga lebih dari 450 juta jiwa pada 2050, ujar PBB.
Sebuah draft Kebijakan Kependudukan 2010 Pakistan bertujuan untuk mengurangi kesuburan untuk tiga kelahiran per perempuan pada 2015.
Tujuan semacam itu telah dicapai oleh negara-negara seperti Iran dan Indonesia.
Total angka kesuburan di Iran –rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan pada usia subur– turun dari tujuh menjadi kurang dari tiga pada 2001, dengan 73,8 persen pasangan menggunakan metode kontrasepsi modern.
Indonesia menurunkan angka kesuburannya dari enam selama 1960-an menjadi dua dan tiga pada 2003. Sekira 58 persen dari pasangan menikah menggunakan metode kontrasepsi modern.
"Jumlah penduduk adalah ibu dari semua masalah," kata Dr Babar Sheikh, asisten profesor dan direktur Kebijakan Kesehatan dan program Manajemen di Rumah Sakit Universitas Aga Khan Ri, saat peluncuran ENGAGE. Dia mengatakan, karena isu kesehatan reproduksi perempuan tampaknya akan menghilang pada pemerintah Pakistan, sekaranglah saatnya mengeluarkannya dari gudang kesehatan dan melihatnya dari sudut pembangunan.
Sheikh memperingatkan bahwa Pakistan sudah di ambang kelangkaan air dan kekurangan pangan yang serius. Tiga dari lima warga Pakistan hidup dalam kemiskinan, kata para pakar. Ini berarti setengah penduduk hidup dengan kurang dari dua dolar AS per hari. Keluarga Riaz hidup hanya dengan 88 sen per hari.
"Dengan mengatur jumlah penduduk, kami dapat mengatasi masalah ini dan memberikan kontribusi bagi pembangunan Pakistan," kata Mehtab Rashidi, wakil kepala Asosiasi Keluarga Berencana Pakistan-Rahnuma di Karachi.
"Kami bisa memulainya dengan memenuhi kebutuhan kesehatan reproduksi pasangan di Pakistan, sehingga mereka dapat merencanakan dan kasih ruang bagi anak-anak mereka."
"Jika pemerintah meningkatkan investasi dalam perencanaan KB dengan 136 juta dolar pada 2007 hingga 2015, yang akan memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi untuk perencanaan KB, penghematan bisa dicapai," tulis lembaran umum dalam proyek ENGAGE.
"Pada 2015, pemerintah bisa menghemat sekitar 400 juta dolar, yakni sekitar tiga kali jumlah yang akan habis."*
Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
Foto: image.healthhaven.com
