Internasional

Layanan Langsung Pil Aborsi

coba

26.08.2010 21:10:22 WIB

Oleh Zofeen Ebrahim


KARACHI (IPS) – DENGAN kesuksesan layanan teleponnya, kelompok nonpemerintah Aware Girls tak dapat menyembunyikan perasaaan bahagianya.

”Kami menerima sekitar 30 panggilan telepon hanya kurang dari sebulan,” ujar Gulalai Ismail, 24 tahun, ketua dan pendiri organisasi tersebut. ”Padahal kami belum memasang iklan sama sekali!”

Tapi layanan informasi melalui telepon itu, yang membantu perempuan menggunakan obat misoprostol untuk menggugurkan kandungan di rumah, bikin khawatir sebagian ahli kesehatan reproduksi. Zulfikar Bhutta, kepala departemen kesehatan anak di Aga Khan University Hospital (AKUH), bahkan mengatakan bahwa upaya berisiko itu bisa ”menggelincirkan” penggunaan obat-obatan itu –untuk mengurangi risiko pendarahan pascakelahiran– di Pakistan.

”Saya tak menyangka bahwa penggunaan (misoprostol) dengan tak tahu malu dipromosikan di Pakistan, sementara negara-negara berkembang menolak keras pengunaan dan iklannya,” ujar Bhutta, yang juga asisten ketua Countdown ke 2015, kelompok sains dan advokasi global yang menjejaki perkembangan kesehatan ibu, bayi, dan anak-anak. ”Anda bisa bayangkan jika ia berada di tangan staff tak terlatih, ini bisa menimbulkan masalah.”

Misoprostol, obat yang disetujui Organisasi Kesehatan Dunia, juga lebih sering dipakai dalam pencegahan dan perawatan tukak lambung.

Tapi ahli kesehatan mengakui bahwa obat itu bisa menyebabkan keguguran –sesuatu yang menarik perhatian organisasi dan para pembela hak-hak perempuan yang ingin membantu mengurangi risiko kematian pada perempuan yang memutuskan untuk menyudahi kehamilan.

Ada 30.000 kematian akibat kehamilan setiap tahun di Pakistan. Survei Kesehatan dan Demografis Pakistan terakhir (2006-2007) menyebutkan sekitar 5,6 persen dari kematian ini disebabkan aborsi, tapi para ahli mengatakan angka itu bisa sebesar 15 persen.

Sebuah penelitian nasional 2004, dilakukan Dewan Kependudukan, menyebut ada 900.000 aborsi yang tak aman setiap tahun di Pakistan, dengan sekitar 197.000 perempuan dibawa ke rumahsakit dengan komplikasi pasca-aborsi.

Dengan hanya 22 persen perempuan menikah yang menggunakan metode modern keluarga berencana, laporan Dewan Kependudukan itu menekankan bahwa praktik aborsi terus meningkat dan terpaksa dilakukan guna mengakhiri kelahiran yang tak direncanakan. Fakta lain, mereka yang biasa melakukan aborsi di Pakistan adalah perempuan menikah dengan tiga anak.

Undang-undang tentang aborsi masih ambigu di negara mayoritas Muslim ini; sementara rumahsakit menghindari untuk melayani aborsi. Norma-norma sosial merintangi perempuan untuk secara terbuka mencari tahu bagaimana mengahiri kehamilan. Aborsi akhirnya lebih sering dilakukan sembunyi-sembunyi dalam kondisi tak higienis, yang mengakibatkan penyakit dan kematian.

Bagi banyak pembela hak-hak perempuan di sini, misoprostol dinilai sebagai penyelamat.

Sebuah pernyataan pers oleh Women on Waves, salah satu kelompok internasioal yang mendukung layanan misoprostol via telepon, menegaskan bahwa pemakaian obat ini “jauh lebih aman daripada metode bedah tak aman atau tradisional yang perempuan gunakan ketika putus asa berusaha mengakhiri kehamilan tak diinginkan dan punya dampak kesehatan yang sama sebagai keguguran spontan.”

Sementara Gulalai Ismail mengatakan tentang layanan telepon langsung itu: ”Ia menjanjikan kerahasiaan seutuhnya di suatu negara yang menganggap aborsi adalah tabu. Kebanyakan perempuan tak memiliki akses internet, tak tergerak dan dan seringkali tak punya akses ke pusat-pusat kesehatan. Namun semua orang mempunyai telepon seluler hari ini.”

Layanan itu diluncurkan pada 25 Juni di bawah poyek “Sahailee”, dari bahasa Urdu, artinya “sahabat perempuan”. Ia didirikan oleh sebuah koalisi dari berbagai organisasi, di antaranya Aware Girls, dan kini berjalan di Karachi, Peshawar, dan Lahore.

Sebelum peluncuran Sahailee, para operator layanan mendapat pelatihan selama tiga pekan tentang bagaimana menangani panggilan telepon, memberikan informasi cara menggunakan misoprostol, juga efek sampingnya seperti mual-mual, muntah, diare, lemas, sakit kepala, mengigigil dan demam, serta pusing.

Para operator juga memberikan informasi tentang masalah kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, tapi biasanya tak merujuk klien ke dokter maupun konselor.

”Ditekankan bahwa konselor (layanan telepon) tak boleh memaksakan bias personal dan nilai-nilai moral mereka kepada penelepon,” ujar Ismail. ”Keputusan akhir untuk aborsi atau tidak tetap pada penelepon.”

Informasi tentang misoprostol, yang relatif murah sekitar 10 rupee per tablet, juga tak langsung diberikan. Kata operator layanan di Lahore: ”Kami memiliki sejumlah pertanyaan yang kami ajukan ke penelepon sebelum kami mengarah pada bagian informasi itu. (Dan kami) selalu menganjurkan kepada para penelepon kami agar mengambil obat ke petugas persalinan yang terlatih.”

Samrina Hashmi, mantan pegawai Pakistan Medical Association, mengatakan layanan telepon semacam ini “langkah sangat bagus,” karena ketiadaan kontak tatap muka memberikan kerahasiaan penuh.

Dokter kandungan-persalinan Nighat Shah berkata tentang layanan ini: ”Saya berharap ia menjangkau perempuan yang mencari bantuan.”

Ketiadaan mifeprisitone, sebuah obat untuk menggugurkan kandungan, menjadikan misoprostol sebagai pilihan terbaik berikutnya, ujarnya, ”Kita menyelamatkan ibu-ibu, bagaimanapun caranya.”

Namun kecemasan akan layanan itu terus berlanjut. Ketua National Committee on Maternal and Neonatal Health Prof Sadiqa Jafarey berujar: ”Sebagai dokter, saya sangat berhati-hati memberikan saran kepada perempuan tanpa tahu rekam medisnya maupun melakukan pemeriksaan fisik.”

Imtiaz Kamal, ketua Midwifery Association of Pakistan, khawatir tentang distribusi “miso yang layaknya permen.”

”Para aktivis yang terlalu antusias ini terkadang melakukan sesuatu yang lebih mencelakakan ketimbang sesuatu yang berguna,” ujar pria 86 tahun ini, yang mengatakan obat itu perlu diberikan di bawah pengawasan dokter ahli yang terlatih.

Namun, Ismail berpendapat, ”Kami ada untuk menyelamatkan kehidupan perempuan. Hukum memberikan kami izin. Jika pemerintah menyediakan layanan aborsi aman untuk perempuan di rumahsakit umum, banyak perempuan dapat hidup hari ini.”*


Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Foto: womenonwaves.org

Komentar


Berita Terkait