Internasional

KBRI Sumbang Buku Untuk Indonesian Corner di Maroko

coba

22.06.2011 23:09:19 WIB

Oleh Rahmat Azhari

Sebanyak 248 judul buku kembali disumbangkan KBRI Rabat mengisi Indonesian Corner di Perpustakaan Center of Documentation and Cultural Activities (CDCA) di kota Meknes Maroko, sekitar 180 KM dari ibu kota Rabat, Rabu (22/06/2011). CDCA yang diresmikan oleh Raja Maroko Mohamed VI pada April 2008 lalu mempunyai puluhan ribu koleksi buku di perpustakaannya dalam 17 bahasa dunia termasuk Indonesia saat ini.

“Indonesia merasa bangga menjadi bahasa ke-17 dari seluruh koleksi buku yang dimiliki oleh perpustakaan di Meknes ini. Dan lebih bangga lagi karena Indonesian Corner telah hadir hingga koleksinya bisa dinikmati oleh masyarakat Maroko secara luas”, ungkap Dicky A. Rizaldy PF. Ekonomi KBRI Rabat yang mewakili Dubes RI menyerahkan sumbangan buku-buku tersebut kepada pihak CDCA.

Sumbangan buku diterima oleh oleh Kepala Kantor Wilayah Meknes Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Kerajaan Maroko Mohamed Majdoub, didampingi oleh Direktur CDCA Mohamed El Idrissi, Kabid Kegiatan Kebudayaan Ahmed Chaouf dan Kabid Perpustakaan Rachid Boutallaka.

Mohamed Majdoub mengungkapkan rasa gembiranya dan apresiasi yang tinggi atas sumbangan buku tersebut. “Ini adalah ketiga kalinya dalam masa 1 tahun Indonesia memberikan sumbangan koleksi buku karya para ulama dan cendekiawannya, dan ini menjadi bukti persaudaraan dan kerjasama yang tulus untuk saling membangun keilmuan dan kebudayaan di antara kedua bangsa Indonesia-Maroko”, ungkapnya sambil menerima 1 set Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka yang secara simbolis diserahkan KBRI Rabat mewakili buku-buku lainnya.

Sementara Mohamed El Idrissi memberikan keterangan bahwa sejak dibukanya Indonesian Corner pada 6 Juli 2010 lalu dengan koleksi pertamanya 15 Jilid Tafsir Al-Misbah karya Prof. Dr. Quraish Shihab yang diserahkan langsung oleh Dubes RI H. Tosari Widjaja telah mendapat perhatian cukup banyak dari para pelajar, mahasiswa dan masyarakat yang datang ke perpustakaan ini. “Saya sangat yakin dengan semakin banyaknya jumlah koleksi buku di Indonesian Corner akan memberikan dampak positif yang besar bagi masyarakat umum di Maroko dan bagi masa depan hubungan kedua negara”, tegasnya lagi.

Secara terpisah Dubes RI Tosari Widjaja menyatakan bahwa gerakan sumbangan buku dan ide membuka Indonesian Corner di perpustakaan cukup representatif di Maroko ini adalah sebagai langkah untuk visi membangun Jembatan Peradaban Islam antara Indonesia-Maroko.

“Saya ingin agar masyarakat Maroko juga dapat mengetahui bahwa ulama dan cendekiawan Indonesia mempunyai banyak karya ilmiah dalam berbagai bidang keilmuan dan layak untuk dinikmati. Dan sebagian buku yang disumbangkan ada juga yang ditulis dengan bahasa Arab dan Inggris yang dapat langsung diakses oleh masyarakat Maroko”, ungkap Tosari.

Dubes RI menyatakan bahwa harapan dan rencana jangka panjang berikutnya dari gerakan ini adalah diharapkan terjadinya transfer keilmuan dan pemikiran di antara kedua bangsa, lalu dimulainya penerjemahan buku-buku berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Arab atau Perancis yang menjadi bahasa sehari-hari yang digunakan oleh rakyat Maroko. “Dengan transfer pemikiran dan gerakan penerjemahan ke bahasa-bahasa dunia lainnya, akan semakin banyak karya ulama dan cendekiawan Indonesia yang semakin mendunia nantinya”, tambahnya dengan penuh semangat.

CDCA yang dibangun diatas lahan seluas 4 hektar dengan arsitektur khas Maroko memiliki fasilitas yang canggih untuk mendukung aktifitas kebudayaan, sains, dan keilmuan bagi masyarakat Maroko dan juga fasilitas untuk konferensi dan kegiatan bertaraf nasional hingga internasional. Fasilitas ini adalah merupakan pilot project yang dicanangkan oleh Raja Mohamed VI Maroko melalui kementerian Wakaf dan Urusan Islam. Rencananya akan dibangun 6 buah fasililtas serupa di beberapa kota di Maroko, menurut keterangan pihak CDCA.

Ditambahkan oleh Direktur CDCA bahwa visi Raja Maroko Mohamed VI melalui Kementerian Wakaf mendirikan pusat kegiatan semacam ini adalah agar dapat menyediakan fasilitas kegiatan dan pelayanan lebih beragam serta dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. “Agar Kementerian Wakaf dan Urusan Islam tidak hanya berkutat pada urusan ibadah, masjid dan wakaf saja”, pungkas Direktur CDCA Mohamed El-Idrissi.

Komentar


Berita Terkait