01.06.2011 19:16:39 WIB
MUNGKIN baru kali ini para pemain sepakbola di Indonesia dibawa ke stadion menggunakan mobil patroli atau kendaaran taktis milik kepolisian. Ini yang terjadi terhadap para pemain PSPS Pekanbaru seusai melawan Sriwijaya FC di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (01/06/2011), yang berakhir buat kemenangan SFC 2-1.
Terhadap pengawalan itu, pelatih PSPS Abdurahman Gurning menilainya terlalu berlebihanan. "Ini terkesan berlebih dan sepanjang saya main bola dan melatih baru kali ini kejadiannya," kata Gurning kepada pers. Menurut Guring, PSPS seperti mau berangkat ke Lebanon.
Padahal secara keseluruhan timnya bermain bagus. Anak asuhnya menjalankan instruksi dan ada perintah khusus jangan menyenggol pemain SFC yang masuk kotak penalti, tetapi kejadian juga.
“Wasit memimpan pertandingan dengan baik, tetapi ada ada beberapa moment tertentu yang mereka lakukan. Selain itu berangkat seperti mau perang anak-anak dikawal, sehingga ketika berangkat dikawal seperti ke Libanon. Memang demi keamanan tetapi berlebihan, padahal selama saya main bola dan melatih baru kali ini ada kawalan sedemikian rupa,” katanya.
Sementara Koordinator pelaksana pertandingan Sriwijaya FC versus PSPS Pekanbaru, Rabu (01/06/2011), Faisal Mursyid, menanggapi komentar pelatih PSPS Pekanbaru Abdurahman Gurning terkait dengan pengamanan yang dianggap berlebihan.
“Itu bagian dari prosedur tetap panitia. Lagi pula memang permintaan pemain dan manajemen PSPS. Kami rasa, itu merupakan bentuk antisipasi dan kami tidak ingin ada pemain PSPS yang mengalami cedera akibat pelemparan seperti musim lalu,” kata Faisal.
“Selain itu tidak ada pemilik bus yang mau membawa pemain PSPS karena mereka takut kejadian seperti musim lalu,” jelas Faisal.
Seperti diketahui pada musim lalu, PSPS yang tidak pernah membawa suporter dalam dua pertandingan terakhir di Jakabaring, dilempari oleh para suporter Sriwijaya. Kaca bus yang membawa mereka pecah. Bahkan saat mereka berada di penginapan juga diteror.
Lalu, apa sebabnya terjadi kebencian suporter Sriwijaya FC terhadap PSPS?
Awalnya, tiga musim lalu, para suporter Sriwijaya FC yang menyaksikan pertandingan Laskar Wong Kito di Pekanbaru, sepanjang pertandingan dilempari batu dan botol air mineral. Akibatnya para suporter terpaksa menonton di pinggir lapangan.
Aksi ini dibalas, para suporter Sriwijaya FC dengan melempari air mineral ke pemain PSPS saat bermain di Palembang. “Kami pikir persoalan selesai. 1-1. Artinya sudah selesai,” kata Ketua Singa Mania Deddy Pranata.
Ternyata tidak, saat Sriwijaya FC bermain di Pekanbaru, para pemain Sriwijaya FC dilempari batu, hingga Firman Utina mengalami pecah kepala. “Makanya saat mereka bermain di Jakabaring, semua suporter marah.”
Pada pertandingan sebelumnya, para suporter PSPS melakukan hal yang sama. “Tapi dalam pertandingan hari ini kami tidak meneror atau melempari para pemain PSPS. Kami harap persoalan selesai. Mereka yang memulai kami harapkan juga mengakhiri. Kalau pemain Sriwijaya FC saat bermain di Pekanbaru masih dikasari, mungkin persoalan menjadi lain,” ujar Deddy.
