03.09.2009 01:26:39 WIB
Oleh IMRON SUPRIYADI
Penulis adalah Jurnalis dan Pelaku Seni
“Hikmah Bulan Suci Ramadhan ini, kita dilatih untuk menahan nafsu, baik nafsu makan, minum dan jima’ atau behubungan suami isteri di siang hari. Selain itu, kita harus menjaga hati, lisan dan semua anggota badan kita untuk tidak melakukan hal-hal yan melanggar agama. Melalui puasa orang-orang yang beriman diharuskan mampu manjaga syahwat duniawi untuk menuju ketaqwaan, sesuai dengan Al-Quran Suroh Al-Baqarah ayat 183,” kata Kiai Endri saat menyampaikan kultum di masjid kami di hari pertama Bulan Ramadhan. Kiai Endri kemudian membacakan ayat Al-Qur’an dengan fasih.
Usai shalat tarawih, sebagian jamaah pulang. Sebagian lagi masih duduk, sambil menikmati hidangan yang disediakan oleh jamaah pengajian ibu-ibu sore tadi. Diantara mereka kemudian melakukan tadarus. Saya dan jamaah lain memilih duduk di pojok samping ruang imam, berbincang seadanya.
“Aku ini kalau sedang puasa, seleranya berubah?” kata Wak Ali yang tampak lahab memakan beberapa kue di hadapannya.
“Berubah bagaimana, Pak?” tanya saya memancing pembicaraan.
“Kalau makan di bulan puasa ingin yang enak-enak. Waktu buka puasa mesti ada es cendol, kolak dan gorengan. Nah, kalau sudah ada itu, buka puasa itu semangat,” katanya tanpa malu-malu.
“Sama dengan aku, Pak. Kalau sahur, kalau lauknya tidak enak aku malas bangun. Makanya setiap bulan puasa aku suruh isteriku untuk menyiapkan lauk yang enak, supaya aku semangat bangun makan sahur,” kata Wak Kias menimpali.
“Wah, kalau begitu anggaran pengeluaran jadi bertambah, Pak?!” tanya yang lain. “Itu resiko, Pak,” jawabnya pendek.
“Kamu ini bukan menahan hawa nafsu, tetapi mengumbar hawa nafsu,” kata Wak Sal ditingkahi dengan gelak tawa jemaah lainnya.
“Itu kan cara aku memuliakan Bulan Puasa,” katanya membela diri.
“Tapi memuliakan itu bukan dengan begitu, Pak. Macam kita sekarang, rajin ke masjid, membaca Al-Quan dan menambah ibadah, itu memuliakan Ramadhan,” Wak Sal mengutip kalimat ustadz.
“Itulah, Pak, satu kesalahan besar di sebagian jamaah kita,” saya menyela pembicaraan. Sebagian orang terkejut dengan kalimat saya. Bukan karena heran, tetapi karena saya termasuk warga baru yang malam itu muncul di tengah jamaah.
“Kesalahan? Maksud kamu?” tanya yang lain.
“Salahnya kita, di Bulan Puasa ini bukan menekan anggaran dan selera makan, sebagaimana kata Pak Ustadz, kalau Ramadhan itu untuk melatih kita menahan hawa nafsu bukan malah mengumbar. Tetapi buktinya, hampir di setiap rumah kita, keuangan rumah tangga di Bulan Ramadhan malah meningkat jauh lebih tinggi dari pada di bulan lain. Ini baru dari keuangan, belum lagi perilaku lain! Apalagi menjelang lebaran. Kalau ini yang terjadi, makna puasa yang selama ini kita lakukan menjadi rutinitas saja. Makanya kata Nabi, diantara orang yang berpuasa ada yang hanya mendapat lapar dan haus, sementara puasanya hanya sebatas gugur kewajiban tidak berarti apa-apa atau sia-sia,” kata saya mengutip salah satu hadits yang pernah saya dapat di sebuah pengajian.
“Jadi puasa kita batal, begitu?” tanya jamaah lain.
“Secara syariat, tidak batal. Sebab selama memenuhi syarat dan rukunnya, membaca niat, tidak makan dan minum, tidak melakukan hubungan suami isteri di siang hari, puasa kita tetap sah. Ini secara syariat. Tetapi secara hakikat, kadar prestasi puasa kita menjadi berkurang. Kalau kita umpamakan pahala itu emas, yang seharusnya kita mendapat prestasi 10 kali lipat emas, tetapi karena kita mengumbar hawa nafsu saat berbuka dan sahur, emas tadi berubah menjadi 10 kali lipat bola, bukan emas. Jumlahnya tetap sama, tetapi kualitasnya bendanya yang berbeda,” kata saya membuat analogi. “Bahkan di kalangan sufi, menanyakan makanan apa yang akan disajikan saat berbuka dan sahur, bisa membuat puasanya batal. Ini bukan pada syariatnya, lho, tetapi pada sisi hakikat, makna dan kadar pahala puasa itu yang menjadi berkurang,” saya mengutip beberapa kisah sufi.
“Aku juga kadang-kadang berpikir, kenapa di Bulan Ramadhan selera makan kita bukan malah berkurang tetapi malah bertambah,” kata Wak Ali lagi.
“Itu yang disebut syahwat puasa, Pak. Puasa, tetapi dari sebagian orang belum sanggup memuasakan dirinya dari hal-hal yang sebenarnya merusak makna puasa itu sendiri. Dalam kesehariannya mengumbar nafsu tidurnya. Mengumbar nafsu makannya, tanpa sadar untuk berbagi pada orang lain,” saya menimpali.
“Tapi kalau kita membeli gorengan, Es Dogan dan makanan lain, kan sama saja kita berbagi pada pedagang. Aku pikir kita juga dapat pahala,” Wak Ali membela diri.
“Tapi sekedarnya saja. Kalau berlebihan, bukan jadi manfaat, tapi jadi mudharat,” tukas yang lain setengah mengingatkan Wak Ali.
“Tapi kata Pak Ustadz, di Bulan Suci ini syetan dibelenggu, dirantai supaya tidak membangkitkan syahwat dan nafsu manusia. Tetapi kok masih banyak orang yang mengumbar nafsu, terutama saat berbuka,” ujar Wak Ali melebarkan tema dialog.
“Syetan itu memang dibelenggu, Pak. Dan itu Allah yang membelenggu. Tetapi manusia secara tidak sengaja melepasnya lagi, sehingga dia kembali berkeliaran. Jadi yang salah siapa? Allah sudah merantai syetan dan iblis, pintu sorga dibuka, tetapi manusia sendiri yang melepaskan rantai itu. Jadinya ya begitu. Meski di Bulan Ramadhan, masih banyak manusia yang melakukan dosa, dan itu karena manusianya sendiri yang melepaskan iblis, bukan salah Allah,” saya menjelaskan.
“Kalau kita mau sadar, dengan puasa ini, Allah sedang memanusiakan manusia. Artinya manusia itu dikembalikan pada posisinya yang sebenarnya. Coba kita lihat, manusia kalau sudah lama menahan lapar, ternyata manusia itu benar-benar rakus saat melihat makanan. Kalau sudah kekenyangan, pasti mata jadi ngantuk. Kemudian lelap dalam kenyang, lupa dengan tanggungjawabnya pada orang lain. Di Bulan Puasa, Allah sedang ingin memperlihatkan jati diri setiap hamba-Nya. Kita tahu kan, syetan dan iblis sudah dirantai, tetapi manusia sendiri yang melepaskannya. Ya, itulah watak sebagian saudara kita. Jadi kalau ingin melihat perilaku manusia yang sebenanya ya di bulan puasa ini, Pak” kata saya menyambung kalimat sebelumnya. Wak Ali agak tidak enak dengan kalimat saya.
“Kamu itu menyidir aku,” tukas Wak Ali.
“Jangan marah, Pak. Ini kan kita sedang ngobrol. Hitung-hitung dengar tausiyah. Kalau kamu tersinggung, kamu sama saja sedang melepas syetan dari belenggu,” tukas yang lain ditingkahi dengan gelak tawa. (*)
