Sastra

Novel Perahu,Satu Karya Penting Saat Ini

coba

21.07.2009 12:27:23 WIB

Oleh SUMARDONI

BUDAYAWAN Halim HD mengatakan novel Perahu yang ditulis Conie Sema dapat menjadi satu karya penting untuk saat ini. Sebab Perahu menggambarkan kondisi social masyarakat Indonesia, yang berlatarbelakang proses reformasi di Indonesia. Termasuk sikap mereka terhadap berbagai isu besar seperti demokrasi.
“Karya sastra, khususnya novel di Indonesia yang berlatar-belakang peristiwa reformasi 1998 sangat sedikit diterbitkan. Novel ini sedikit banyak menjelaskan bagaimana kondisi dan sikap masyarakat Indonesia saat mengikuti proses reformasi tersebut, khususnya pada masyarakat Lampung dan Sumsel,” kata Halim HD dalam perbincangan di kantor redaksi BeritaMusi.com, Selasa (21/07/2009).
Menurut Halim, novel Perahu yang ditulis Conie sekitar tahun 2004 dan baru diterbitkan tahun 2009, dari alur, karakter para tokohnya, memberikan realitas baru yang memberikan suatu pengalaman lain para pembacanya. Meskipun realitas tersebut sebenarnya berada dan tumbuh pada masyarakat Indonesia.
“Berbagai gagasan besar mengalami pergulatan. Kapitalisme dan sosialisme beradu begitu saja di atas ranjang, ketika berlangsungnya hubungan seksual antara buruh dan majikan,” kata Halim.
Dan, menurut Halim, kata kunci dari novel Perahu ini, “Kekuasaan dan penaklukan,” katanya. Dari dua kata kunci, pembaca menghadapi berbagai realitas sosial bersama para tokohnya yang hampir semuanya bukan sosok suci atau pahlawan.
Halim menjelaskan bahwa ada dua peristiwa penting di Indonesia, yang tidak banyak ditulis dalam sebuah novel. Yakni peristiwa pembantaian terhadap para aktifis Partai Komunis Indonesia (PKI) pasca1965, dan peristiwa kejatuhan rezim Orde Baru tahun 1998 lalu.
“Sudah saatnya para sastrawan di Indonesia menulis berbagai persoalan yang berlangsung di sekitarnya, seperti proses kejatuhan rezim Orde Lama dan Orde Baru. Sebab peristiwa itu banyak memberikan perubahan pada tatanan social, politik, ekonomi, dan budaya di Indonesia. Minimal memberikan realitas-realitas yang belum terjelaskan para akademisi dan politisi,” katanya.

Komentar


Berita Terkait