19.08.2010 12:34:33 WIB
Oleh Cam McGrath
KAIRO (IPS) – PARA pedagang makanan yang oportunis dituding sebagai biang lonjakan harga makanan di seluruh Timur Tengah yang membebani keuangan keluarga yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
"Ini cerita yang sama setiap tahun," keluh Abeer Salem, seorang janda Mesir yang harus membiayai kedua anaknya. "Para pedagang tahu kita punya kewajiban untuk memberi makan keluarga dan orang miskin selama Ramadhan. Mereka memanfaatkannya dengan menaikkan harga makanan" ??
Inflasi makanan menjadi bagian dari Ramadhan karena adanya tradisi umat Muslim berkumpul dengan keluarga dan teman untuk berbagi iftar, makanan berbuka puasa. Konsumsi makanan tertentu, khususnya daging, meningkat selama Ramadhan karena keluarga menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan makan. ??
Sejumlah kelompok perlindungan konsumen sudah mengamati peningkatan tajam harga makanan sejak awal Ramadhan, meski pemerintah berjanji untuk menetapkan harga makanan dan memantau gerai-gerai eceran. Di Abu Dhabi, pasar harga buah-buahan dan sayuran dilaporkan melonjak 25 persen dalam satu minggu. Para konsumen di Libanon mengeluhkan kenaikan harga daging dan sayur. ??
Peningkatan itu, selain inflasi makanan yang tinggi, di seluruh wilayah. Di Mesir, harga eceran komoditas dasar seperti gula, beras, dan telur naik hingga 43 persen dibanding tahun lalu. Peningkatan harga makanan itu mendorong beberapa pengecer menawarkan kemudahan pembelian makanan dengan skema pembiayaan sama seperti mobil dan alat-alat rumah tangga.
"Beli makanan selama Ramadhan sekarang dan bayar cicilan empat bulan ke depan," tertulis di sebuah supermarket di Kairo. ??
Di Yaman –lebih dari 40 persen penduduknya hidup miskin– inflasi makanan musiman itu memberatkan beban berat keluarga-keluarga miskin. Menurut jajak pendapat yang dilakukan tahun lalu oleh Studies and Economic Media Centre, pengeluaran rumah tangga meningkat 35 persen selama Ramadhan. Hampir 30 persen keluarga Yaman meminjam uang untuk menutup biaya tambahan itu, sementara 15 persen keluarga menjual barang berharga untuk menambah uang tunai, ujar hasil jajak pendapat itu.??
Para pejabat pemerintah menuding para pedagang menimbun stok makanan dalam minggu-minggu menjelang Ramadhan untuk menciptakan kesan kelangkaan sehingga menaikkan harga. Para pedagang menyalahkan konsumen, mengatakan bahwa peningkatan konsumsi makanan mengakibatkan pasokan berkurang dan menyebabkan kenaikan harga. ??
Yusuf Mansour, ekonom Yordania, menyangkal penjelasan ini. Dia berpendapat bahwa paradigma standar persediaan dan permintaan tak bisa diterapkan di negara-negara Timur Tengah karena mereka mengimpor sebagian besar makanan mereka. ??
"Importir bukanlah produsen, mereka tak punya keterbatasan kapasitas sehingga mereka dapat mengimpor sebanyak yang mereka inginkan dari pasokan dunia pada satu harga," katanya. "Jika terjadi sesuatu, jumlah meningkat sehingga harga jatuh, dan dalam pasar kompetitif keuntungan ini akan diteruskan ke pembeli." ??
Menurut Mansour, masalah mendasarnya dua tingkat: impor makanan dikontrol oleh segelintir pejabat dan pengusaha kuat yang terlibat dalam "perilaku semacam kartel," sementara para penjual di lingkungan lebih kecil membebankan kepada konsumen mereka uang jasa atas kenyamanan.
"Ada bukti kuat mengenai kolusi pada kedua ujung rantai pasokan itu," ujarnya kepada IPS. "Para importir memperoleh kepastian harga atau diam-diam setuju untuk tak bersaing, sementara pada bagian terbawah toko-toko pengecer bertindak sebagai penguasa-penguasa lokal." ??
Dalam beberapa tahun pemerintah Arab melakukan berbagai kontrol pasar dan langkah pengawasan untuk menetralisir inflasi makanan Ramadhan. Pemerintah mengerahkan perusahaan makanan milik negara untuk memasok toko koperasi dan supermarket, serta memaksa harga sementara pada produk makanan tertentu. ??
Qatar mengumumkan pada Juli lalu bahwa mereka akan memberlakukan harga tetap pada sekitar 160 bahan makanan pokok dan item nonmakanan dari 25 Juli sampai akhir Ramadhan pada 11 September. Kabinet Yordania memastok harga tertinggi pada item-item yang harganya cenderung meningkat selama Ramadhan. Mesir mengumumkan harga "resmi" untuk bahan kebutuhan pokok.??
Meski ada upaya semacam itu, para analis mengatakan kontrol pasar gagal memenuhi harapan. Para pedagang makanan mengantisipasi langkah pemerintah dengan menaikkan harga beberapa bulan menjelang Ramadhan untuk “mengunci” harga. Para pedagang eceran dengan UU perlindungan konsumen yang tak efektif melanggar penetapan harga tanpa hukuman. ??
"Pemasok kami selalu mematok harga setiap tahun jadi kami terpaksa menaikkan juga," kata Ali Ibrahim, pedagang Kairo, membela kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras, pasta, dan susu selama Ramadhan. ??
Mansour mengatakan, pemerintah Timur Tengah tak punya kemauan politik maupun sumber daya untuk mengurangi praktik monopoli. ??
"Pada puncak rantai pasokan adalah importir besar dari keluarga besar dengan uang lama," ujarnya. "Birokrat, biasanya para pejabat yang tak terpilih, takut mengecewakan orang-orang berpengaruh ini, yang bisa menyampaikan pesan kepada penguasa. Sementara itu, pada rantai terbawah, masalahnya adalah sangat banyak dan pegawai pemerintah dibayar rendah sehingga mudah disuap." ??
Tak adanya peraturan yang efektif telah membuat memberikan kekuasaan penuh kepada seorang pedagang untuk menipu konsumen, kata Mansour. Pencatutan itu terus terjadi selama Ramadhan dan memasuki hari raya Idul Fitri. ??
"Saya tak tahu apa yang akan saya lakukan saat Idul Fitri," kata tukang cukur Refaat Abdel Moneim. "Ramadhan baru saja dimulai dan saya sudah berhutang."*
Translated by Imam Shofwan?
Edited by Budi Setiyono?
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
Foto: eramuslim.com
