Internasional

Izin Ibadah

coba

21.08.2010 22:02:50 WIB

Oleh Jerrold Kessel dan Pierre Klochendler

HIRBET DEIR, TEPI BARAT (IPS) – BAGI Muhammad el-Baradiyeh, berusia 38 tahun, bulan suci Ramadan selalu penuh berkah.

Nyatanya, sebulan setengah sebelum Ramadan memberi kebaikan bagi Muhammad. Berkat ijin yang diberikan pemerintah Israel, dia bisa bekerja di dalam wilayah Israel dan menabung uang lebih untuk kebutuhan Lebaran.

Hidup Muhammad tak pernah mudah: izin kerja enam bulan perlu biaya sepertiga dari penghasilannya sebagai kuli bangunan di kota Bet Shemesh, Israel.

Sembari memasang genteng pada atap rumah layaknya pondok baru, dia menceritakan pada kami, “Uang yang tersisa tak cukup menghidupi keluarga saya. Tapi saya perlu izin itu, saya perlu kerja untuk memberi makan enam anak saya.”

Untuk mencapai kantornya di kota Israel itu, hanya 20 kilometer, menjadi sebuah perjalanan berat.

Hari masih gelap ketika Muhammad bangun sebelum jam tiga pagi. “Pada fajar, saya siap meninggalkan rumah,” ujarnya. Dia menggunakan minibus yang berkeliling mengambil delapan pekerja lain di desa-desa di Tepi Barat. Pada akhirnya mereka tiba di pos pemeriksaan militer Israel di Bet Guvrin.

Di sana, ada barisan panjang orang-orang Palestina yang cukup beruntung mendapatkan izin. Jika bernasib baik, butuh beberapa jam sebelum dia lolos dari pemeriksaan termasuk menggunakan mesin sinar-X. “Saya harus bekerja jam tujuh tepat.”

Ramadhan, dengan biaya ekstra (keluarga dan teman-teman bertamu setiap buka puasa) dan jam kerja lebih pendek, adalah waktu ketika sebagian besar warga Palestina secara khusus berjuang untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Buruh-buruh lebih muda, yang tak punya izin, menyelinap pagar pembatas dan menghindari pos pemeriksaan militer agar bisa mendapat pekerjaan harian memetik almond di kebun buah-buahan di pedesaan sekitar Bet Shemesh.

Ini masa puncak musim panen, butuh tenaga tambahan. Maka, jika Anda tak punya izin, akankah petani-petani Israel mengajukan banyak pertanyaan?

Namun bagi Muhammad, izin kerja adalah asuransi jiwa bagi keluarganya. "Jika saya tak memilikinya, saya berdiam diri di rumah –sesederhana itu."

Biasanya Muhammad bekerja penuh delapan jam per hari. Selama puasa, kontraktornya, orang Arab-Israel, memberikan dispensasi khusus bagi warga Palestina; jam kerjanya hanya sampai pukul 02.30.

Ramadhan adalah waktu untuk beribadah, refleksi, kontemplasi. Setelah dia memasuk Tepi Barat melalui pos pemeriksaan Israel, minibus akan berhenti untuk mengizinkan Muhammad dan rekan-rekan sesama pekerja melakukan salat.

Pada hari Jumat, ketika mereka tak bekerja, mereka berharap bisa mengunjungi Jerusalem sejauh 35 kilometer untuk beribadah –khususnya selama Ramadhan– di Masjid Al-Aqsa, situs suci ketiga bagi umat Islam.

Tapi mereka hanya bisa berharap. Sebab, warga Palestina dari luar Jerusalem yang ingin beribadah di Al-Haram ash-Sharif butuh izin dari Israel.

Pada hari Jumat, akan ada puluhan ribu orang di Al-Aqsa –orang-orang yang memperoleh izin. Namun kata Muhammad, “Anda harus setidaknya 50 dan juga punya izin reguler untuk masuk Jerusalem. Tak ada harapan, saya tak mau bersusah payah mencoba.”

Muhammad harus bisa mengendalikan diri. Dia berkeringat. Selama Ramadhan dia pantang makan, minum, dan merokok pada siang hari. Ini terutama menguji ketetapan hati pada musim panas dengan suhu hingga 30-an. Muhamad bersandar pada imannya: “Percaya kepada Allah memberi kekuatan.”

Pulang ke rumah, Muhammad menyapa istri dan ibunya, mengendong anak bungsunya yang berusia delapan bulan, mandi, mengenakan jubah galabiyah. Para perempuan sibuk mempersiapkan makanan berbuka puasa.

Di Bet Shemesh, Muhammad membantu membangun mimpi kelas menengah Israel. Di sini, di kampung halamannya, masalahnya lebih mendasar.

Meringkuk di antara perbukitan dan dataran rendah, Hirbet Deir adalah dusun kecil tradisional Palestina dengan hanya selusinan rumah. 260 orang –semuanya dari keluarga yang sama–tampaknya, bagi seluruh dunia, tak menarik perhatian seiring berjalannya waktu.

Tanpa bisa membangun infrastruktur desa, mereka menjalani hidup –bukan sebulan– penuh pantangan. Namun, melalui upaya mereka sendiri, semua rumah teraliri air dan listrik.

Namun, perlunya keamanan dari orang-orang yang menguasai tanah menyebabkan mereka terlantar, menetapkan ulang kontur lahan perkampungan itu.

Abu Ibrahim, paman Muhammad, dan cucunya menanam pohon zaitun.

Kebun itu hampir menyentuh pagar elektronik Israel (bangunan pembatas, kata Israel, untuk mencegah calon pelaku bom bunuh diri). Akibatnya, sebagian lahan yang bisa ditanam di Hirbet Deir terpangkas.

"Pagar pembatas itu menumbangkan 200 pohon zaitun saya, menyerobot 45 dunam (11 hektar) tanah ayah saya," ujarnya. "Saya mencoba mendapatkan izin dari Israel yang memungkinkan saya memasuki pohon zaitun saya di sisi lain dari pagar itu."

Sia-sia. Pohon milik Muhammad pun tak terawat.

Musim gugur, masa berlaku izin kerjanya di wilayah Israel habis. Ini akan memasuki musim penghujan. Awal penghujan akan menjadi musim panen zaitun. Kalau saja tak perlu izin apapun dari Israel –untuk bekerja di dalam wilayah Israel, mengerjakan ladangnya di luar pagar pembatas, untuk beribadah di Al-Aqsa...

Senja. Waktunya berbuka puasa: laki-laki dan perempuan makan di ruang yang diberi pembatas. Makanan berlimpah, lezat –kambing muda rebus, nasi goreng dan almond, ayam isi, diikuti gulagula tradisional Ramadhan.

Setelah menikmati makanan, segelas air minum, dan menelan gigitan pertama daun anggur, Muhammad mengatakan, "Ramadhan adalah dunia lain, satu bulan berbeda dari semua hari lainnya dalam setahun; selama sebulan dicurahkan untuk Allah. Ini menegaskan kembali keyakinan Anda, tradisi, akar. Anda duduk bersama-sama, seluruh keluarga, setiap malam, mengelilingi meja –hati Anda jasi semurni salju."

Sebuah gambar kuil suci di Yerusalem menghiasi dinding ruang tamu, seperti kebanyakan rumah warga Palestina.

Muhammad tahu bahwa, seperti kebanyakan warga Palestina, pada hari Jumat dia akan berdoa di masjid terdekatt.*

Translated by Basilius Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerja sama IPS dan Yayasan Pantau

Foto: 3071km.wordpress.com

Komentar


Berita Terkait