28.08.2010 21:22:55 WIB
Oleh Fabiana Frayssinet
RIO DE JANEIRO (IPS) – RATA-RATA 100 orang hilang dan 40-50 mayat tak teridentifikasi ditemukan setiap bulan di kota Brasil. Misteri ini bisa diselesaikan secara sederhana dengan membagikan informasi di antara lembaga, sebuah tugas yang dikerjakan dengan sukses oleh ahli hukum dan forensik.
"Prinsip dasar sistem ini adalah bahwa untuk setiap korban, untuk setiap tubuh yang ditemukan, kami punya daftar orang hilang," kata jaksa negara bagian Rio de Janeiro Rogerio Scantamburlo, koordinator sistem baru itu, kepada IPS.
Ini tugas yang jauh lebih kompleks sebelum berbagai instansi dan lembaga mulai bekerja sama: kantor kejaksaan, rumahsakit, ahli forensik, dan ratusan pos polisi di mana orang dilaporkan hilang.
Jaksa penuntut umum Pedro Borges mengatakan, solusi itu didasarkan pada sebuah konsep baru mengenai keamanan publik di Brasil.
Model baru ini membawa bersama-sama "teknologi, sebagai elemen yang memungkinkan informasi ditempatkan atau dipindahkan; koordinasi di antara lembaga-lembaga yang memproduksi informasi –terutama berasal dari catatan polisi; dan penyebaran informasi itu, membagikannya kepada setiap orang yang membutuhkannya, "kata Borges, menjelaskan “program identifikasi korban” (PIV) itu.
PIV, yang dibuat kantor kejaksaan negara bagian Rio de Jeneiro, telah mengidentifikasi 33 mayat dalam waktu satu bulan.
Meski masih ada jalan panjang untuk berjalan dengan baik –4.195 orang dilaporkan hilang di kota ini pada 10 tahun terakhir, para pembuat sistem baru itu percaya optimalisasi sumberdaya akan memungkinkan setiap kasus diselesaikan dengan mudah dan cepat.
"Ini sebuah pendekatan baru bagi hubungan antara hilangnya orang dan kejahatan," kata Borges. “Ini juga sebuah cara baru untuk menggunakan informasi yang kami miliki dan menganalisisnya dalam konteks lebih cerdas, yang memungkinkan kami menggali lebih banyak informasi dari data itu.”
“Manajemen informasi dan data ini sebelumnya tak pernah didekati dengan sebuah cara modern dan profesional,” ujarnya.
Tujuannya untuk menyelesaikan, pada pertengahan 2011, lebih dari 90 persen kasus orang hilang selama 20 tahun terakhir.
Scantamburlo mengatakan, 100 kasus orang hilang dilaporkan setiap bulan oleh divisi pembunuhan dari kepolisian sipil di kota Rio de Janeiro, 40-50 persen merupakan korban pembunuhan.
Sisanya melibatkan apa yang dia sebut kasus “sosial”, yang tak ditangani sistem baru ini.
Dia merujuk, misalnya, orang yang kabur dari rumah, anak-anak atau remaja yang melarikan diri, yang beberapa di antara mereka berakhir di jalanan, atau orang tua atau sakit mental yang hilang.
Lain dengan kasus Alex. Ibunya, Claudia da Silva, telah mencarinya sejak dia diculik dari depan pintu rumahnya tiga tahun lalu, ketika dia berusia 15 tahun.
Dua polisi militer ditahan terkait kasus itu, tapi dibebaskan karena kurang bukti. Claudia mengatakan, "X9" –bahasa slang untuk "pencuri"– diduga melaporkan kepada polisi bahwa anaknya diculik sebuah mobil polisi. Pelapor beralasan bahwa Alex “menanduk pacarnya,” katanya.
Claudia hidup dengan pertanyaan: apa yang terjadi pada anaknya. Dan dia belum sepenuhnya putus asa bahwa dia akan menemukan jalan keluar suatu saat nanti. ? ?
“Saya belum mendapatkan kabar tentang dirinya,” ujarnya kepada IPS dengan berlinang air mata. Dia sudah memberikan sampel DNA ke institusi penyelidikan genetik forensik kepolisian sipil, dan mengatakan dia berharap pada program baru itu.
Institusi itu, dipimpin oleh Rodrigo Grazinoli, salah satu lembaga yang beroperasi di bawah payung PIV.
"Laboratorium kami secara khusus membandingkan sampel DNA anggota keluarga dan orang hilang, yang seringkali berakhir di sini sebagai jenazah," jelas Grazinoli kepada IPS. "Kami adalah bagian pengetahuan teknis pada proyek itu."
Laboratorium itu memiliki teknologi terbaru untuk mempelajari sampel DNA, yang bisa memperoleh hasil bahkan dalam kasus-kasus sulit.
Sebagai contoh, mafia obat sering berusaha menghilangkan jejak pada korban mereka dengan membakar tubuh korban dalam semacam makam seadanya yang dibuat dari ban mobil, yang dikenal sebagai “microwave".
Ini berkat PIV, ujar Grazinoli, "mereka membantu orang-orang laboratorium dengan kemungkinan lebih besar tentang kerabat sebenarnya dari orang hilang, sehingga mengurangi bidang penyelidikan kami."
Data yang terpusat dan dibagikan itu kini menunjukkan di mana orang itu hilang; jenis kejahatan yang menjadikan mereka korban, daerah tempat mayat ditemukan, dan mengidentifikasi tanda yang ditemukan pada mayat itu.
Ini semua menjadi kian jelas. Tapi sebelum PIV diciptakan, tak ada yang berhasil mengelola semua informasi itu di tempat yang sama.
"Kami tak hanya membuat pusat data orang hilang," kata Scantamburlo. "Kami mendirikan sistem komputerisasi yang cerdas dan memungkinkan semua data –tanda lahir, bekas luka, tato atau hanya deskripsi sepatu– dicek dan dibandingkan dengan sebuah tubuh yang ditemukan."
Para ahli mengatakan, sistem baru itu tak membutuhkan biaya tambahan besar karena menggunakan staf dan sumber daya yang ada.
"Perbedaan besar adalah bahwa semua prosedur itu dilakukan oleh lembaga berbeda yang dilibatkan dalam sebuah sistem cerdas, memotong birokrasi, dan menciptakan jalur komunikasi yang pendek," ujar Scantamburlo. ?? ?
Sebagai contoh, sebuah pesan kini bisa dibagikan lewat intranet, dan informasi itu menjadi sebuah file komputer yang mudah diakses.
Scantamburlo mengatakan, PIV muncul sebagai respon atas jumlah korban pembunuhan yang besar dan tak pernah diidentifikasi –atau tak "memuaskan".
Dalam 15.000 kasus pembunuhan yang klarifikasinya tertunda di negara bagian itu, hanya 10-15 persen korban yang telah diidentifikasi.
"Itu berarti banyak penyelidikan yang telah kami tangguhkan, karena tugas dasar itu –identifikasi korban pembunuhan– tak pernah dilakukan. Dan jika kami tak memiliki identitas korban, pada hakekatnya tak mungkin mengidentifikasi pembunuhnya," katanya.
Tapi dalam pandangan para ahli, yang ingin "mengekspor" program itu ke negara bagian lain di Brasil, tujuan utamanya bukan hanya mengurangi jumlah kejahatan yang tak terpecahkan dan melawan impunitas.
"Mengidentifikasi orang yang melakukan kejahatan adalah sangat penting –ini kewajiban kantor kejaksaan. Tapi mengidentifikasi orang hilang, memberikan jawaban dan ketenangan kepada keluarga karena tahu di mana orang yang mereka cintai, saya rasa sama-sama penting," ujarnya.*
Translated by Basilius Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerja sama IPS dan Yayasan Pantau
Foto: english.people.com.cn
