Internasional

Seks Informal Tingkatkan HIV

coba

03.08.2010 03:41:28 WIB

Oleh IRWIN LOY

PHNOM PENH (IPS) – PADA sebuah malam yang panas, beberapa lelaki berjas mabuk di rumah hiburan di ibukota Kamboja. Seorang lelaki meletakkan tangannya pada paha seorang perempuan ramping yang duduk tak nyaman dengan rok pendek.

Sebuah peringatan terpampang di atas meja: “Bertanggungjawablah. Gunakan kondom." ?

“Para pelanggan bermain dengan kami setiap saat," kata Neang sambil melirik adegan di meja sebelah. "Mereka menyentuh payudara atau meletakkan tangan mereka di paha saat saya duduk. Saya tak suka, tapi saya tak punya pilihan lain.”

Pekerja hiburan seperti Neang dan lainnya, yang bekerja di tempat-tempat industri seks informal di Kamboja, memprihatinkan para ahli kesehatan di Kamboja. Sebab, terjadi para pekerja seks bergeser dari tempat-tempat tradisional seperti rumah bordil ke tempat informal di sektor hiburan.

Perempuan yang bekerja di bar-bar karaoke atau rumah hiburan mungkin tak dikenali sebagai pekerja seks. Tapi sesekali mereka menjajakan seks untuk menambah penghasilan mereka yang minim.

Neang, yang minta nama lengkapnya tak ditulis, mengatakan baru-baru ini dia memutuskan untuk tak berhubungan seks dengan pelanggannya setelah dia menikah. Dulu, banyak orang yang mengajaknya berhubungan seks menolak menggunakan kondom. ? ?

"Sejumlah LSM menyarankan agar kami memakai kondom dengan benar untuk mencegah infeksi HIV," ujarnya. "Tapi di masa lalu, ketika saya tidur dengan pelanggan, beberapa di antara mereka bersikeras untuk tak menggunakan kondom. Sulit untuk menolaknya.”

Kamboja terbilang berhasil dalam pencegahan HIV. Mereka mengurangi tingkat penyebaran HIV di antara orang dewasa dari dua persen pada 1998 menjadi sekira 0,7 persen tahun lalu. Jika tren ini berlanjut, Kamboja akan memenuhi Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) untuk memotong tingkat penyebaran HIV pada 2015.

Tapi para pengkritik mengatakan, kampanye pemerintah untuk memberantas perdagangan manusia sebenarnya memperburuk risiko HIV bagi para pekerja seks karena memaksa mereka bekerja di bawah tanah. Tanpa tekanan baru untuk menyasar perdagangan seks informal, Kamboja akan menghadapi batu sandungan dalam memenuhi target MDGs mengenai HIV. ??

Pemerintah akan menindak tegas perdagangan manusia yang diduga terjadi melalui rumah-rumah bordil. Tapi sejumlah aktivis mengatakan penggerebekan itu mengakibatkan penangkapan sebagian besar pekerja seks, yang banyak dari mereka terpaksa melakukannya karena faktor kemiskinan, bukan perdagangan.

Ini kemudian mendorong mereka bekerja secara bersembunyi dan jauh dari jangkauan program pencegahan HIV.

"Dengan tindakan lebih keras lagi, makin banyak orang terpaksa ke bawah tanah dan bersembunyi," kata Tea Phauly, penasehat urusan penduduk paling berisiko pada Program Bersama PBB untuk AIDS (UNAIDS) di Kamboja. "Dan sulit melakukan respon untuk menjangkau orang-orang ini." ??

Studi-studi pemerintah menunjukkan pekerja seks di rumah-rumah bordil lebih sering menggunakan kondom ketimbang perempuan yang hanya sesekali menjual seks di tempat-tempat hiburan.

Tapi para aktivis mengatakan, sekarang mereka kesulitan menjangkau pekerja seks, karena banyak dari mereka akhirnya bekerja di tempat hiburan dan bar-bar karaoke. "Kami bisa mendekati mereka, tapi tidak seperti sebelumnya. Mereka tetap tersembunyi," kata Ly Pisey, asisten teknis pada kelompok advokasi Women's Network for Unity.

Ly mengatakan, para aktivis lebih mudah mengakses rumah-rumah bordil dan berbicara kepada para pekerja seks mengenai pencegahan HIV dan perawatan kesehatan. "Tapi sekarang jika Anda pergi dan bertanya, ‘Apakah Anda pekerja seks?’, mereka menjawab bukan," katanya.

Pada Maret lalu, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen menyampaikan sebuah pidato yang ditafsirkan oleh para pejabat polisi sebagai perintah untuk menggiatkan pemberantasan perdagangan manusia. Dalam dua minggu, penggerebekan terhadap rumah-rumah bordil mengakibatkan lebih dari 280 pekerja seks bersembunyi, ujar kelompok nonpemerintah lokal.

Tindakan polisi mulai mereda dalam beberapa minggu terakhir. Tapi penggerebekan itu menjadi siklus dari tren jangka panjang yang mengubah sifat industri seks di Kamboja.

Bith Kimhong, direktur biro antiperdagangan manusia Departemen Dalam Negeri, berkata: "Kami menutup klub-klub yang terkait perdagangan seks. Kami ingin menghapus sebutan bahwa Kamboja adalah sebuah tempat untuk wisata seks." ?

Para pekerja seks, katanya, bukanlah target dari penegakan hukum itu. "Kami tahu ketika mempertahankan pendirian semacam itu, ada banyak orang kehilangan pekerjaan," katanya. "Kita tak mungkin menghindarinya. Tujuannya adalah kami ingin menjaga keselamatan dan keamanan negeri kami." ??

UNAIDS dan pemerintah Kamboja sedang membuat rencana untuk memastikan para pekerja seks, khususnya di tempat-tempat hiburan seperti tempat kerja Neang, bisa mengakses pendidikan HIV dan perawatan kesehatan. Pemerintah berharap rencana semacam itu akan melibatkan kerjasama dengan masyarakat luas, terutama dengan petugas polisi.

"Kami tak ingin melihat epidemi (HIV) kali kedua," kata Tony Lisle, country coordinator UNAIDS di Kamboja.

Pada 1996, tingkat penyebaran HIV di antara perempuan pekerja seks di atas 40 persen. Sepuluh tahun kemudian, angka ini turun menjadi sekira 14 persen, menurut survei terakhir di seluruh negeri.

"Ada sejumlah pekerjaan besar yang sudah dilakukan untuk mengurangi timbul dan penyebaran HIV," kata Lisle. "Tapi kami sadar, jika kami tak terus menjalankan program yang inovatif, efektif, dan terukur dalam pencegahan dan kebiasaan penggunaan kondom; jika kami tak menjaga langkah dan intensitas terhadap penduduk yang berisiko terkena HIV, kami akan melihat kemunculan kembali sebuah epidemi –yang tak kami inginkan."*



Translated by Basilius Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerja sama IPS dan Yayasan Pantau

Komentar


Berita Terkait