14.04.2010 23:42:09 WIB
Oleh SUMARDONI
SEBELUM adanya konflik di tubuh manajemen harian Sriwijaya Post, yang mulai berbenih sejak tahun 1992, Hamzah Ruslin bukanlah karyawan yang menonjol. Tapi pada saat kritis, 4 tahun kemudian, ketika kekuatan luar sudah mulai mengacak-acak harian tersebut, bersama sejumlah karyawan lainnya seperti Sutrisman Dinah, Hendrowijono, Hamzah membela mati-matian harian tersebut.
Pembelaan Hamzah ini termasuk menghadapi sejumlah preman yang melabrak kantor harian Sriwijaya Post saat masih di Jalan Kapten A. Rivai 88 Palembang.
“Hamzah orang yang memegang prinsip. Dia keras dengan pilihannya. Segala daya dan kemampuannya dia berikan bila telah memutuskan sesuatu,” kata Sutrisman Dinah, rekan kerja Hamzah Ruslin yang juga seniornya di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.
Tak heran, bila perjuangan itulah yang membuat kondisi tubuh Hamzah menurun, sehingga tak lama kemudian, pada saat Sriwijaya Post ditutup sementara, dia terkena penyakit diabetes.
Tapi, meskipun kondisinya fisiknya tidak begitu baik, Hamzah tetap bekerja dengan sungguh-sungguh. Dia juga sibuk dengan sejumlah organisasi, seperti Yayasan Karyawan Sriwijaya Post, aktif menjadi anggota Panwaslu Sumsel dalam Pemilu 2004, dan dua kali memimpin Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang.
Hamzah juga sangat mendukung iklim kebebasan informasi dan berekspresi. Dalam sejumlah diskusi, Hamzah menyatakan demokrasi tidak akan berjalan secara baik, apabila pemerintah dan masyarakat tidak menjamin kebebasan berekspresi dan informasi.
Selama memimpin AJI Palembang, Hamzah juga berani meneriakan soal tindak kekerasan yang dialami para jurnalis di Sumatra Selatan. Dia juga beberapa kali menjadi fasilitator workshop bagi para jurnalis di Palembang.
Satu hal yang selalu diinginkannya, yakni membuat sekolah pendek tentang ilmu-ilmu jurnalistik, yang sasarannya bukan hanya jurnalis, juga mahasiswa, pelajar, dan umum.
