22.08.2010 22:26:24 WIB
Oleh Zofeen Ebrahim
KARACHI (IPS) – ”FILM pertama yang akan saya buat jika saya kembali ke desa ialah tentang ketaksetaraan upah antara petani perempuan dan laki-laki,” ujar Haseena Mallah, buruh tani buta huruf berusia 40-an tahun.
Ibu lima anak ini adalah satu dari sembilan perempuan yang menghadiri lokakarya pembuatan film selama dua minggu, 14-26 Juli, di selatan kota pelabuhan Karachi, Pakistan, sekitar 143 kilometer dari desanya dekat Hyderabad.
Dan saat pemutaran perdana film berdurasi 10 menit yang mereka buat, berjudul Half Face, para perempuan ini menunjukkan orang tak harus melek teknologi atau bahkan melek huruf untuk membuat film dokumenter.
”Mereka mungkin belum mendapat kesempatan untuk belajar membaca dan menulis, tapi mereka yakin bisa membuat sebuah film. Penting bagi mereka untuk sadar, juga masyarakat luas, perbedaan antara kecerdasan dan pendidikan,” kata Danielle Spencer, instruktur lokakarya yang diadakan Women’s International Shared Experience (WISE) dan didanai Asian Human Rights Commission (AHRC) yang berkantor di Hongkong.
Para perempuan datang dari Hyderabad dan terjauh dari Rahimyar Khan, sebuah kota berjarak 634 km dari Karachi. Setengah dari kelompok itu tak pernah mengenyam bangku sekolah, beberapa hanya sampai tingkat empat, dan tak seorang pun pernah menggunakan komputer sebelumnya.
Bebas membuat film tentang topik apapun, mereka memutuskan –sepenuhnya sendiri– untuk mengerjakan tema yang dekat di hati mereka: kekerasan domestik.
Meski kesembilan perempuan itu belum pernah bertemu, mereka memiliki kesamaan –masing-masing mengalami berbagai bentuk kekerasan seksual, fisik maupun mental, dari hidup mereka.
Memang tak begitu banyak luka fisik, ujar Spencer, tapi luka batin telah menghancurkan kepercayaan korban kekerasan dalam rumahtangga. Proses pembelajar membuat film memulihkan ”kemampuan untuk memandang diri kita sebagai subjek yang layak,” ujar Spencer, instruktur berusia 26 tahun yang juga pernah menderita kekerasan domestik.
Seluruh pengalaman itu “seolah tak nyata,” kenang Javeria Ali, usia 19 tahun, yang belum pernah keluar rumah bahkan untuk semalam. Kali ini Ali berhasil membujuk suaminya agar mengizinkannya pergi selama dua minggu, sementara anaknya, usia dua tahun, dititipkan dalam pengasuhan ibunya.
”Saya masih tak percaya. Jangankan memegang kamera, menyentuh komputer pun belum pernah,” katanya. ”Ini membawa perubahan dalam diri saya. Saya menjadi sosok baru, lebih hidup.”
”Saya tak bisa bicara di depan tiga orang hingga dua minggu lalu. Sekarang Anda lihat saya bicara di ruangan penuh orang yang belum saya kenal,” kata Shabana Allah Javaya dari Karachi, yang mengisi sesi tanya-jawab dengan audiens pada pemutaran Half Face.
”Saya akan merindukan teman-teman baru ini, yang menghabiskan dua minggu terbaik dalam hidup saya,” ujar Javaya.
Berbekal kamera, para perempuan itu mengelilingi kota Karachi dan menangkap bermacam pandangan laki-laki dan perempuan, termasuk pengacara di pengadilan, tentang kekerasan dalam rumahtangga. Dokumenter ini juga memasukkan lelaki memukul istrinya yang diam karena beberapa alasan.
”Ini adalah apa yang ingin mereka tunjukkan dan entah bagaimana mereka berhasil mendapatkannya,” ujar Spencer.
Proses pembuatannya melibatkan kerangka cerita –melalui ilustrasi, karena sebagian besar perempuan itu tak bisa menulis– lalu dilanjutkan dengan tugas meletihkan untuk memilah dan mengedit rekaman video.
”Saya tak begitu apakah ini bisa berhasil. Tak satu pun dari mereka tahu bahasa Inggris, mereka tak menikmati pendidikan yang layak, dan bahkan tak bisa membaca dan menulis,” kata Saleha Athar dari Network for Women’s Rights (NWR) yang bantu mengatur proyek tersebut.
Ketika mulai, mereka tertutup dan pemalu, Spencer mengenang. Beberapa bahkan tak melakukan kontak mata dengannya. Namun hanya butuh dua hari untuk mereka mengatasi hambatan itu –sebuah perubahan yang membuat Athar tercengang.
Agar para perempuan itu bisa membuat pelatihan, WISE menyumbang tiga kamera dan komputer sehingga mereka dapat melakukannya di Karachi, Hyderabad, dan Rahimyar Khan.
Aktivis HAM Rehana Chahchar berencana memakai medium film untuk membuat isu perempuan lebih bertenaga. ”Ini suatu bentuk (kegiatan) yang tak ternilai dan punya dampak lebih besar daripada aksi unjuk rasa yang kami lakukan,” ujar Chahchar, anggota lembaga nonpemerintah Women’s Action Forum.
”Dengan demonstrasi kami bisa mengumpulkan ratusan orang, tapi melalui film ribuan orang termobilisasi dalam waktu singkat,” ujar Mehtab Noor, aktivis dari Karachi.
”Orang tak percaya bahwa kekerasan terjadi di rumah tapi jika difilmkan dan ditampilkan, maka akan ada bukti tak terbantahkan,” kata Sanam Mallah, salah satu dari sembilan perempuan dalam lokakarya itu, janda berusia 16 tahun dari desa dekat Hyderbad. Yang lain mengangguk setuju.
Harapannya, film semacam ini akan memberikan “katalisator untuk diskusi” dalam masyarakat, ujar Spencer.
Kepala NWR Majida Rizvi percaya pendidikan adalah kuncinya. ”Tanpa pendidikan, kekerasan terhadap perempuan takkan hilang dalam masyarakat,” ujar pensiunan hakim ini. ”Perempuan harus memahami hak-haknya dan laki-laki juga memahaminya.”
”Seringkali perempuan yang melakukan diskriminasi. Sebagai ibu, mereka memberikan pilihan sekolah bagi anak-anak lelakinya tapi membiarkan anak perempuan di rumah membantu pekerjaan rumahtangga,” ujar Rizvi. ”Mereka perlu mendidik anak-anak lelaki mereka untuk menunjukkan rasa hormat kepada istri dan perempuan pada umumnya.” *
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
Foto: qwickstep.com
