06.11.2011 22:37:57 WIB
Oleh Taufik Wijaya
Jurnalis dan pekerja budaya
DUA tahun lalu, sebagian wong Palembang yang mengunjungi Jakarta, pasti mengeluhkan kotornya udara akibat pembuangan karbon dari kendaraan yang macet. Tapi hari ini, wong Palembang yang baru beberapa meter keluar rumah, akan merasakan hal yang sama. Jangan heran, sebab hampir semua kota besar di dunia, seperti halnya Palembang, dipenuhi karbon.
Maka percayalah, masa depan Bumi sungguh mengerikan. Dengan jumlah manusia sekitar tujuh miliar, bukan hanya krisis pangan yang mengancam. Kebutuhan manusia akan energi juga terus meningkat. Tak heran, sepanjang hari kita menyaksikan ribuan truk mengangkut jutaan ton batubara dari pedalaman. Begitu pun ribuan kilometer pipa bergelora membawa minyak bumi dan gas, ke berbagai kota besar yang sepanjang hari menyala.
Menurut IETA (International Emissions Trading Association), produksi karbon yang dihasilkan dari penggunaan energi mengalami peningkatan sekitar 3,6 miliar ton! Ini setara dengan 71 miliar dolar. Miliaran ton karbon itu membuat langit Bumi bolong-bolong, sehingga matahari begitu gampangnya menjadikan banjir dan kekeringan bagi kita.
Dengan fakta tersebut, tampaknya manusia sangat pantas menenggelamkan mobil, motor, serta pabrik yang memproduksi kebutuhan gaya hidup manusia, ke dasar Bumi, sehingga masa depan Bumi kembali menjanjikan. Tapi keinginan itu tidaklah mungkin. Sebab mereka yang tengah sakit gigi pun, akan tampak gembira jika diberi sebuah mobil.
Ironinya, guna melawan ancaman karbon itu pemerintah dan para pakar kesehatan lebih fokus mengkampanyekan agar manusia jangan merokok, menanam pohon, dan jangan membakar sampah atau hutan. Kampanye ini seakan ingin menegaskan bahwa masyarakat perokok dan suka membakar hutan buat kebutuhan pertanian, sebagai penyebab tingginya produksi karbon atau kerusakan udara.
Sebab pada saat bersamaan, pemerintah terus membuka dan menyedot sumur minyak bumi dan gas, menggali ribuan hektare ladang batubara, serta meliberalkan setiap rakyatnya memiliki kendaraan dalam jumlah tak terbatas.
Kebijakan ini ibarat mencegah seseorang merokok dan membakar tumpukan sampah di dalam kamar yang dipenuhi asap dari knalpot kendaraan dan pabrik, yang setiap hari terus meningkat.
Jelas sekali kebijakan tersebut bukan menyelamatkan Bumi. Itu hanya kebijakan yang menunda kematian seorang manusia.
Artinya, sudah saatnya pemerintah, baik pusat maupun daerah, berpikir agar kebutuhan energi tidak lagi bergantung dari energi fosil, serta membatasi kepemilikan kendaraan bermotor, dan membatasi pembangunan pabrik yang memproduksi kebutuhan skunder atau lux manusia.
Memang, dengan besarnya ketergantungan pemerintah pada industri penghasil kendaraan bermotor, energi fosil, dan lainnya, sangat sulit pemerintah menerapkan kebijakan yang berfokus pada penyelamatan Bumi.
Energi Bersih
Koelnmesse, sebuah perusahaan penyelenggara pameran industri dari Jerman, merasakan kesulitan pemerintah tersebut, khususnya yang berada di Asia. Maka, bersama Sustainable Energy Asocaiation of Singapore (SEAS) mereka menggelar Clean Energy Expo di Suntec International Covention & Exhibition Centre, Singapura, 1-3 November 2011 lalu.
Kegiatan yang diikuti sekitar 1.000 utusan dari 50 negara itu, selain menggelar pameran industri energi bersih, juga menggelar diskusi dengan ratusan pakar energi, lingkungan, dan ekonomi, dari berbagai negara.
Intinya, mereka ingin menjawab dilema manusia terhadap masa depan Bumi. Yang mana manusia tetap hidup normal seperti hari ini, tapi udara Bumi menjadi lebih baik atau produksi karbonnya rendah.
Salah satu cara buat melakukannya, sejak Protokol Kyoto diluncurkan beberapa tahun lalu, yakni menggali sumber energi alternatif dengan menciptakan berbagai teknologi yang menggunakan energi bersih atau tidak bergantung dengan energi fosil.
Tampaknya, setelah saya mengikuti beberapa diskusi tentang energi bersih, hampir semua energi terbarukan yang bersih seperti energi angin, energi matahari, energi limbah sawit, dan energi pasang surut, cocok digunakan di Indonesia.
Dan, pikiran saya pun meloncat, jika energi bersih itu sudah lama diterapkan di Sumatera Selatan, maka penyelenggaraan SEA Games XXVI di Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, benar-benar bebas dari karbon. Bukan hanya bebas dari asap rokok dan karbon dari knalpot kendaraan menggunakan premium atau solar, juga bebas dari aliran listrik dari teknologi yang menghasilkan ribuan kilogram karbon setiap harinya, atau pemenuhan lainnya yang tetap menghasilkan karbon, yang kebetulan tidak di wilayah Jakabaring.
Dalam acara itu, pakar yang membahas energi dari teknologi tenaga angin antara lain Horst Kruse dari SCHOTT Solar AG, Dr. Jiang Fan, Manager of Technology Centre of Energy, Conservation Singapore Polytechnic, School of Electrical & Electronic Engineering.
Kemudian pembahas teknologi energi matahari antara lain Ramon Terrones, direktur Gamesa untuk wilayah Asia Pasifik dan Oceania, Alex Tancock, General Manajer Wind Prospect Asia-Pacific, serta Soeren Loenholdt Jacobsen dari Vesta Wind Technology Asia Pacific.
Pembahasan lebih mendalam mengenai peluang bisnis teknologi energi matahari dan angin di Asia dan Pasifik juga dilakukan. Pakar yang membahasnya antara lain Peter Jurgen Husnik dari Solid Asia, Nathaniel Bullard dari Bloomberg New Energy Finance, Robert Gleitz dari Alstom Power, serta Alexander Lenz dari Conergy, serta Dr. Chris Morris dari Wind Prospect Group, Ramon Terrones dari Gamesa, serta Soren Karkov dari Energy DNV.
Selain itu, juga dibahas teknologi energi bersih lainnya, seperti gelombang laut, panas bumi, dan hydro.
Peluang di Indonesia
Bagaimana dengan peluang di Indonesia? Sebagai wilayah tropis, Indonesia sangat kaya dengan sinar matahari, sebagai wilayah kepulauan Indonesia berpotensi mengembangkan teknologi energi pasang surut, energi angin, serta banyaknya perkebunan sawit memungkinkan Indonesia mengembangkan energi yang memanfaatkan limbah kelapa sawit.
Energi angin, misalnya, meskipun kecepatan angin di Indonesia maksimal 5,9 meter per detik, tapi listrik yang dihasilkan dari energi ini dapat dikembangkan lagi. Saat ini Indonesia, baru memiliki lima kincir angin pembangkit listrik dengan kapasitas 80 kilowatt (kW), dan akan dikembangkan tujuh unit di Pulau Selayar sebanyak tiga unit, Sulawesi Utara dua unit, kemudian satu unit di Nusa Penida, Bali, dan di Bangka-Belitung.
Bukan hanya listrik yang dapat dimanfaatkan dari energi angin ini, juga dapat digunakan buat menggerakan pompa air seperti yang dilakukan oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat di Indramayu, Jawa Barat.
Selanjutnya, energi pasang surut. Sebagai negara kepulauan di daerah katulistiwa yang dikelilingi sejumlah samudera, potensi energi pasang surut cukup besar. Energi ini sangat ramah lingkungan. Memang dalam mengembangkan energi pasang surut, sangat dibutuhkan dana yang besar buat membangun waduk dan teknologi.
Tapi, seperti yang diungkapkan Alexander Lenz, Presiden Conergy untuk Asia Tenggara dan Timur Tengah, dengan saya di sela-sela kegiatan Clean Anergy Expo, pemerintah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, ada baiknya mengalihkan dana subsidi bahan bakar minyak (BBM) dari energi fosil, menjadi investasi terhadap pengembangan energi baru.
Thailand, Malaysia, Filipina, telah melakukan hal itu dalam mengembangkan teknologi energi matahari.
Di Thailand, misalnya, pemerintah Thailand bekerjasama dengan Conergy, telah mengembangkan taman surya di Ayutthaya, sekitar 70 kilometer utara Bangkok. Taman ini terdiri dari 40.000 modul surya. Taman surya ini menyuplai listrik bagi 1.530 rumah dengan potensi produksi sampai 4.471 megawatt per jam setiap tahun, disamping menghemat 1.970 ton emisi karbon per tahunnya.
Peluang di Sumsel
Salah satu peluang pengembangan energi baru yang bersih, yakni pemanfaatan limbah kelapa sawit. Sayang dari ratusan perusahaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di Sumatera Selatan, saya baru mendapatkan informasi baru satu perusahaan yang memanfaatkan limbah kelapa sawit yakni PT Pinago Utama yang berada di Desa Sugih Waras, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin.
Meskipun hanya menghasilkan sekitar 6 megawatt listrik, tapi setidaknya teknologi ini mampu mengurangi ketergantungan pada energi fosil, sehingga mampu mengurangi produksi karbon bagi Bumi.
Potensi pengembangan energi limbah kelapa sawit cukup besar, sebab saat ini sudah dicanangkan sekitar 1,4 juta hektare lahan di Sumatera Selatan yang sudah diberikan izin buat pengembangan perkebunan kelapa sawit.
Pemerintah juga tidak begitu banyak mengeluarkan biaya buat menciptakan teknologi energi limbah sawit, yakni cukup mendorong para pelaku perkebunan dan pengolahan kelapa sawit mendirikan teknologi listrik memanfaatkan limbah sawit di lokasi pabriknya. Minimal listrik yang dihasilkan dapat dimanfaatkan di lingkungan pabrik, perkebunan, serta pemukiman di sekitar.
Saya percaya, pengembangan teknologi energi ini akan didukung oleh pihak international, termasuk sejumlah perusahaan teknologi international yang saat ini mulai berorientasi pada pengembangan teknologi bersih lingkungan.
Namun, seperti yang diungkapkan Matteo Vezzosi, dari EuroCham (European Chamber of
Commerce)-Singapore, saat jumpa pers, di hari terakhir Clean Energy Expo, guna mendatangkan para investor teknologi bersih, pemerintah di Asia Pasifik, termasuk di Indonesia, ada beberapa hal yang harus dilakukan.
Dukungan penuh dari pemerintah, agar para produsen teknologi bersih mempromosikan produk-produknya. Selanjutnya, pemerintah mengupayakan peningkatan kesadaran tentang energi efisien dan bersih terhadap para pengguna atau masyarakat. Adanya lembaga standard energi efisien yang difasilitasi pemerintah, sehingga para produsen energi efisien akan bekerja secara profesional dalam menciptakan produknya. Serta, pemerintah di Asia Tenggara harus menghapuskan subsidi terhadap para pengguna energi.
Kini, tinggal kita yang menentukan masa depan Bumi. Apakah akan terus mengeksploitasi sumber energi fosil, yang artinya terus memproduksi karbon sehingga iklim global menjadi hancur, atau mulai bergerak cepat menciptakan berbagai sumber energi yang baru, yang lebih bersih terhadap lingkungan. [*]
