SEA Games 2011

Belajar dari Kekurangan Menuju Asian Games XVIII

coba

24.11.2011 00:37:48 WIB

Oleh Taufik Wijaya
Jurnalis dan pekerja seni

TAK ada gading yang tak retak. Begitu pula kesuksesan penyelenggaraan SEA Games XXVI di Jakabaring Sport City (JSC), Jakabaring, Palembang, pada 11-22 November 2011 lalu. Namun, di balik berbagai kekurangan itu, sebenarnya fasilitas yang ada di JSC maupun yang ada di Palembang, sangat berpotensi dijadikan sarana buat penyelenggaraan pesta olahraga negara-negara Asia atau Asian Games.

Tetapi, sebelum kita membicarakan potensi Palembang menjadi kota penyelenggara Asian Games, ada baiknya kita mengevaluasi pelaksanaan SEA Games XXVI.

Yang pertama persoalan transportasi. Beberapa media asing, seperti di Malaysia, Thailand, Singapura, maupun Filipina, sangat menyoroti persoalan transportasi selama penyelenggaraan SEA Games XXVI di Palembang. Keluhannya, mereka mengalami kesulitan mengakses kendaraan di JSC, seperti becak, angkot, sepeda, atau lainnya. Termasuk mereka mengalami kesulitan saat mau keluar dari JSC.

Inti dari kritikan mereka, panitia pelaksana—termasuk para pendukungnya—terkesan tidak mengutamakan kepentingan para atlet dan officialnya. Tak heran, banyak atlet yang harus bersaing dengan penumpang lainnya saat mau naik angkot, becak, atau sepeda yang diperuntukkan para atlet, terlihat banyak digunakan bukan para atlet.

Selain itu, terjadi kemacetan luar biasa pada jalan menuju Jakabaring, khususnya JSC.

Beranjak dari fakta dan kritikan di atas, tampaknya ke depan harus ada kendaraan yang efisien dan ramah lingkungan di JSC. Ada baiknya pemerintah membangun atau menyediakan kereta listrik, yang
menghubungkan atau melalui setiap venue di JSC.

Sementara guna memperlancar akses jalan menuju Jakabaring, pembangunan Jembatan Mus III tampaknya tidak dapat ditunda lagi.

Yang kedua tentang akomodasi. Para tamu SEA Games XXVI mengeluhkan tentang penginapan. Misalnya soal jauhnya penginapan dengan lokasi JSC, serta tingginya harga sewa hotel di Palembang. Khusus mengenai tarif atau harga sewa kamar, mereka mengaku terkejut dengan perubahan harga yang begitu jauh, dari hasil survei beberapa bulan sebelum pelaksanaan, dan pada saat pelaksanaan. Bahkan ada kamar hotel yang sudah dibooking jauh-jauh hari oleh tamu SEA Games XXVI, memberikan pilihan kepada calon konsumen tersebut dengan cara kamar hotel disewakan asal menambah harga sewa, atau batal dengan uang dikembalikan.

Beranjak dari fakta ini, ada baiknya ke depan, investasi hotel lebih difokuskan ke kawasan Jakabaring. Selain dekat dengan JSC, juga memperlebar sebaran para tamu. Sementara para pengelola penginapan, hendaknya menimbang antara kepentingan bisnis dan kemampuan ekonomi para tamu asing, yang tidak sedikit kondisi ekonominya tidak lebih baik dari Indonesia.

Yang ketiga persoalan sumber daya manusia (SDM) para pendamping tamu, serta pendukung SEA Games XXVI. Terus-terang, sejumlah atlet, jurnalis, maupun official dari negara asing yang mengikuti SEA Games XXVI, merasa tidak mendapatkan informasi yang lengkap mengenai Palembang. Mereka mengaku hanya diberi tahu tentang hal-hal yang umum.

Keinginan mereka tentang hal-hal yang unik maupun khas di Palembang sulit mereka dapatkan. Selain itu, para pendukung penyelenggaraan SEA Games XXVI pun mereka nilai tidak membantu. Selain sulit berkomunikasi, juga keberadaan mereka terkesan sebagai turis, bukan tamu yang harus dllayani.

Bahkan, ada sejumlah jurnalis asing justru merasa nyaman dengan para sopir yang membawa mobil yang mereka sewa. “Mereka (sopir) justru lebih banyak tahu tentang Palembang, yang ingin kami ketahui dibandingkan mereka yang membantu pelaksanaan SEA Games XXVI,” kata Zainal A Jamari, wartawan dari Berita Harian, Singapura.

Maka, ke depan, harus ada pelatihan khusus atau setidaknya perguruan tinggi di Palembang, memberikan pengetahuan luas tentang Palembang, khususnya Sumatera Selatan, terhadap para mahasiswa, sehingga mereka digunakan sebagai pendukung event international berfungsi dengan baik dan optimal. Bukan hanya terfokus pada pendidikan Bahasa Inggris, juga pengetahuan sosial dan budaya mengenai Sumatera Selatan. Terkhusus, pemahaman mereka terhadap peta sosial-budaya kota Palembang.

Peluang Asian Games XVIII
Peluang Palembang sebagai kota penyelenggara Asian Games cukuplah terbuka. Setelah Asia Games XVII yang akan digelar di Incheon, Korea Selatan, pada 19 September-4 Oktober 2014, kemungkinan besar Asian Games XVIII akan digelar pada tahun 2019. Sebab menurut Ketua Umum KONI/KOI Rita Subowo, akan ada perubahan tahun penyelenggaraan Asian Games, yang sebelumnya pada tahun genap akan diubah menjadi tahun ganjil. Maka, jika itu terjadi maka Palembang memiliki waktu yang
panjang buat menyiapkan diri sebelum menggelar Asian Games.

Modal utama buat menggelar Asian Games XVIII itu tentu saja keberadaan Jakabaring Sport City (JSC), meskipun ada beberapa venue yang harus diperbaiki bangunan akibat pembangunan yang terburu-buru beberapa waktu lalu.

Potensi lainnya, kota Palembang juga dikenal oleh bangsa-bangsa Asia, selain Jakarta dan Bali. Bahkan, di perguruan tinggi, yang memperlajari sejarah dan budaya, kota Palembang sangat dikenal oleh bangsa-bangsa Asia. Baik terkait dengan sejarah Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang, maupun Palembang menjadi pusat bisnis di abad pertengahan hingga awal abad ke-20.

Artinya, Palembang memiliki daya tarik ekonomi dan budaya, yang selama pelaksanaan SEA Games XXVI yang lalu, terasa belum dioptimalkan.

Terakhir, saat ini dan di masa mendatang, apa pun yang akan dilaksanakan di Palembang sangat memungkinkan. Persoalannya, bagaimana kita mempersiapkan diri, baik sebagai penyelenggara maupun sebagai tuan rumah yang baik. Hal yang harus dilakoni pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Semangat. [*]

Komentar


Berita Terkait