Sastra

Proyek Antu Banyu di Sungai Musi

coba

02.02.2012 20:20:00 WIB

Cerita T.WIJAYA

ALBERT Membara menerima 17 ketua partai politik atau parpol di halaman rumah dinasnya di kawasan Tanggabuntung. Dia hanya mengenakan t-shirt warna putih, bercelana pendek warna hitam. Dia duduk di atas kursi kayu jati dengan kedua kakinya di atas meja. Lantaran celana pendeknya berukuran besar, celana dalamnya terlihat para pimpinan parpol itu.

“Pokoknya, saya harus kembali memimpin Palembang. Dua tahun lagi para investor dari Eropa dan dari benua lainnya akan menanamkan banyak modalnya buat pengembangan bisnis wisata di tepian Sungai Musi,” kata Albert.

“Nah, kira-kira apa yang menjadi hambatan kita, agar saya dapat memimpin kembali Palembang?” lanjutnya.
Ke-17 ketua partai politik itu diam. Serempak menundukkan kepala.

“Mengapa kalian menundukkan kepala? Takut dengan saya? Atau kalian tidak yakin kita akan menang?”

Mereka masih menundukkan kepala.

“Oi!” bentak Albert Membara terus menerjang meja yang ada di hadapannya.

Kepala mereka terus menunduk. Kian dalam ke arah dada.

Seorang ketua partai politik yang tubuhnya pendek, gemuk, berwajah bulat, yang suka memainkan tangannya kalau berbicara, memberanikan diri mengangkat kepalanya. Dia pun berdiri.

“Maaf, maaf, maaf nian, Pak,” kata lelaki, yang sebelum menjadi ketua partai politik Persatuan Pemuda Indonesia Makmur cabang Palembang, merupakan seorang tukang parkir di Hotel Taste Paman. Sebuah hotel melati di kawasan Sayangan, Palembang.

Albert Membara menatapnya dengan bahu dinaikkan.

“Maaf, maaf, survei kami menunjukkan popularitas Putra Sriwijaya kian naik.…”

“Putra yang calon independen itu?”

“Ya, benar, Pak.”

Albert Membara tersenyum. Matanya menunjukkan rasa jijik kepada ketua partai politik itu.

“Kalian ini dasar wong buyan. Penakut. Masak gugup dengan Putra? Apa sih kelebihan dari Putra, sehingga popularitasnya naik? Apa yang kalian lakukan sehingga popularitas Putra dapat menyaingi saya?”

“Dia didukung jutaan orang yang telah meninggal dunia,” kata si ketua partai terus mengangkat kedua telapak tangannya seperti orang berdoa.

Albert Membara melepaskan tawanya. Dua gigi berlapis emas miliknya memancarkan cahaya. Ketika ke-17 ketua parpol mengangkat kepala dan mencoba turut tertawa, Albert Membara diam. Ujung bibir mulutnya turun.

Dia mendekati satu per satu ketua parpol. Menatap wajahnya. Sebagian yang belum dilihat, buru-buru menundukkan kepala. Sangat dalam ke arah dada.

“Percuma kalian ini saya angkat jadi ketua parpol. Diberi makan, diberi perempuan, diberi rumah. Percuma! Buyan! Buyan dan penakut!”

“Tapi, maaf, kami harus…”

“Buyan! Duduk. Tentu saja kalian harus singkirkan Putra. Kalau kalian tidak mampu, kalian mundur dari ketua parpol. Kembalikan semua uang dan rumah yang saya kasih, dan tinggalkan Palembang secepatnya, atau kalian tidur di balik papan,” kata Albert, yang suaranya membuat para penjaga di pintu gerbang rumahnya turut terdiam seperti ke-17 ketua parpol itu.

Kepala ke-17 ketua parpol itu serasa ditindih sekarung batu koral. Berat dan menyakitkan kepala.

“Kalian mengerti?”

Kepala mereka mengangguk kecil, cepat, dan serempak.

PENGEMBANGAN wisata Sungai Musi merupakan tujuan utama pembangunan Palembang ke depan, yang akan dilakukan Albert Membara. Guna mendapatkan dukungan dana atau investasi, Albert berulangkali melakukan perjalanan ke luar negeri. Selain ke sejumlah negara di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Cina, dan Singapura; Albert dan timnya juga mengunjungi sejumlah negara di Eropa.

Ternyata, Albert yang didukung dan dididik seorang pengusaha Indonesia kelahiran Texas yakni Indra Wijaya, mendapatkan dukungan dari lembaga keuangan di Eropa. Mereka siap menginvestasikan milyaran dolar buat pengembangan wisata Sungai Musi.

“Kita akan mengalahkan Bangkok,” kata Albert, saat menghadiri rapat dengar pendapat dengan anggota dewan Palembang mengenai programnya itu.

Setiap memaparkan programnya kepada para anggota dewan, masyarakat Palembang, Albert berbicara soal potensi wisata sejarah, agama, dan agroindustri di Palembang. Program ini dikatakannya dapat mendukung perekonomian masyarakat Palembang, khususnya di bidang tenaga kerja dan industri kecil. Selain itu, tentu saja menambah pemasukan kas negara di sektor pajak.

“Para investor itu akan membangun apa saja di Palembang dalam menunjang program Anda tersebut?” tanya seorang anggota dewan.

“O, itu. Tentu saja mereka akan membangun sejumlah fasilitas penunjang pariwisata, seperti hotel, dermaga, dan menyediakan kapal pesiar,” kata Albert.

“Apa mungkin mereka akan meraup keuntungan dengan hanya menjual wisata sejarah atau agama di Palembang. Bukankah investasi yang mereka keluarkan jumlahnya cukup besar?” tanya anggota dewan lainnya.

“Jelas! Jelas! Jelas mereka akan untung,” suara Albert terdengar lantang.

“Kalian kan tahu, masyarakat dari dunia Barat sudah bosan berlibur ke Hawai, Bangkok, Bali, atau di kawasan Eropa selatan. Mereka ingin merasakan sesuatu yang lain, seperti di Palembang ini,” kata Albert.

“Apa betul hanya mengandalkan wisata sejarah dan sebagainya itu?” desak si anggota dewan.

Albert merasa tertekan. Dia menarik napas.

Seorang anggota dewan lainnya berdiri. “Saya kira ini bukan forum berdebat. Ini kan forum tanya-jawab. Jadi apa yang disampaikan saudara kita tadi seperti forum berdebat, mengadili Pak Walikota. Ini sudah tidak benar.”

Sambil tersenyum, Albert meminta si anggota dewan itu duduk dan diam.

“Tentu saja, ya. Tentu saja mereka mengandalkan wisata sejarah, wisata agrobisnis, dan wisata agama buat meraih keuntungan.”

Albert Membara menarik napas lagi.

“Apa kalian tidak percaya dengan program ini? Apa kalian punya konsep lain buat memakmurkan masyarakat Palembang?” kata Albert dengan suara rendah yang menekan.

Sejumlah anggota dewan mendekati anggota dewan yang terus bertanya itu. Mereka kemudian berbicara pelan dan ada yang berbisik pada si anggota dewan.

“Oke, saya mengerti Pak Walikota. Saya mengerti. Rasanya pertanyaan dari saya sudah cukup,” katanya.

SETELAH acara pemaparan program itu, Albert mengundang si anggota dewan yang bernama Kasim, bertemu di ruang kerjanya. Kasim merupakan anggota dewan dari Partai Hijau Sejahtera.

“Ini kita berbicara secara pribadi. Sebenarnya apa yang membuat Anda tampak ragu dengan program saya,” tanya Albert.

Kasim membetulkan letak peci di kepalanya.

“Setahu saya, tidak ada pusat wisata yang tidak menarik keuntungan dari perjudian dan pelacuran. Jadi, rasanya aneh apabila ada investor yang mau menanamkan modalnya di Palembang dengan nilai yang besar, tidak menarik keuntungan dari dua bisnis itu. Bangkok, seperti yang Bapak katakan tadi, jelas sekali bisnis wisatanya mengandalkan perjudian dan pelacuran,” kata Kasim.

Albert Membara tersenyum.

“Anda betul-betul cerdas. Memang itu hal yang akan mereka lakukan. Tapi, saya tidak mau mengungkapkan itu agar masyarakat tidak resah, terutama yang memiliki pemikiran sama dengan Anda.”

Kasim diam.

“Anda sudah tahu tujuan utama program saya itu. Jika Anda tidak setuju, apa yang Anda inginkan?”

Wajah Kasim menjadi pucat. “Saya, ya, saya hanya ingin mengatakan itu hal yang tidak benar, tapi, ya, sudah. Saya rasa kalau itu pilihan yang terbaik, ya, saya dukung.”

Albert menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia tersenyum.

“Bagus. Itu namanya kerjasama yang baik,” kata Albert.

Mereka terdiam sekitar 30 detik.

“Sekarang….”

“Ya, Pak, saya hanya ingin tahu apakah Bapak sudah tahu rencana dari partai kami yang akan menggelar kongres di Palembang?”

Albert tersenyum. “Kasim, Kasim, makanya jadi orang itu sabar. Tentu saja saya tahu. Tapi kan masih dua bulan lagi. Saya pasti akan bantu. Proposalnya sudah saya baca. Saya setuju, tapi memang belum ditandatangani sebab saya kan sibuk. Tapi apa parpol kalian akan mendukung saya?”

Kasim tersenyum. Dia mulai tenang. Dia kembali membetulkan letak peci di kepalanya.

“Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih. Parpol kami sangat mendukung setiap pemimpin yang ingin memakmurkan rakyat, seperti Bapak. Kalau kerjasama ini berjalan baik, tentu saja kami dukung.”

“Baguslah. Memang seharusnya kita saling mendukung. Saya juga mengucapkan terima kasih.”

“Nah, sebentar lagi saya ada rapat di fraksi. Jadi, terima kasih atas undangan ini. Saya permisi dulu.”

Tak beberapa lama setelah Kasim berada di lift, Albert memanggil Temi, ajudannya.

“Saya minta jangan ada lagi anggota dewan seperti itu, ya. Tolong awak beresi semua anggota dewan. Buat mereka tenang. Penuhi semua keinginan mereka, tapi awak harus buat mereka jangan macam-macam. Beri sedikit ancaman.”

“Ya, Pak.”

“Ya, sudah.”

“Maaf, Pak. Apa nanti malam acara di café kita jadi?”

Albert mengangguk.

ALBERT Membara menyalakan rokoknya. Wajah-wajah yang hadir dalam rapat di Café Terapung Dayang Merindu tampak tegang menunggu penjelasan si walikota. Termasuk pula, utusan Indra Wijaya.

“Saudara-saudara sekalian. Semua anggota dewan di kota ini sudah setuju dengan program kita. Beberapa anggota dewan memang sempat kritis dengan program kita, tapi ternyata saya lupa memperhatikan kebutuhan partai politiknya. Sekarang sudah selesai. Sudah beres,” katanya.

“Tapi mengapa masih ada sejumlah pemberitaan dan artikel yang mengkritisi program kita?” tanya Aming, perwakilan Normand Bank di Indonesia. Sebuah bank yang kantor pusatnya di London, Inggris.

“Ya, saya juga membaca berita negatif mengenai program kita, yang isinya kira-kira menilai program kita hanya memberikan dampak kerusakan moral masyarakat Palembang,” timpal Frans Hartawijaya, perwakilan Green Money, sebuah lembaga investasi wisata dan budaya yang berkantor pusat di Den Haag, Belanda.

“Ya, saya juga tahu,” kata Albert, yang kemudian berdiri. Dia berjalan membelakangi peserta rapat yang duduk melingkar.

“Mereka itu merupakan kelompok moralis. Konservatif. Mereka itu merupakan orang-orang yang menamakan dirinya para santri dan ulama. Kekuatan mereka itu dipimpin oleh para seniman. Seniman yang bermimpi tentang keindahan masa lalu. Salah satu pemimpinnya Putra Sriwijaya. Jelasnya mereka ini orang-orang pengkhayal, tidak realitis, dan sok moralis.”

“Tapi, mereka mampu membangun opini negatif terhadap program kita,” kata Aming.

Albert menghentikan langkahnya. Wajahnya memerah.

“Saya kira, tidak. Saya menjamin mereka akan menghentikan semua perlawanan opini terhadap kita. Saya jamin tiga bulan ke depan mereka tidak akan dapat bersuara lagi. Percayalah.”

“Siapa itu Putra Sriwijaya?”

“Ya, seniman. Seniman yang suka menulis puisi, melukis, main drama, dan semua hal yang cocok dilakoni perempuan. Anehnya mereka ini mengaku dan diakui para pendukungnya, mendapat bantuan dari orang-orang yang sudah meninggal dunia. Sungguh tak masuk akal. Mereka kumpulan orang tidak waras.”

Peserta rapat tertawa.

“Apa yang akan kau lakukan terhadap mereka, khususnya teruntuk orang seperti Putra Sriwijaya itu?”

“Saya akan berbuat baik dulu. Saya akan tawari mereka dengan sejumlah uang. Jika tidak mampu, mereka ini diteror. Seandainya juga masih kuat, ya, terpaksa mereka dikirim ke balik papan,” jelas Albert dengan nada menekan.

Peserta rapat bertepuk tangan.

PROGRAM pengembangan wisata Sungai Musi yang akan dijalankan pemerintahan Albert Membara, sebenarnya bertujuan mengembangkan Sungai Musi sebagai pusat perjudian internasional. Pusat perjudian internasional ini tentu saja didukung oleh bisnis pendukungnya, seperti perhotelan, pelacuran, serta tempat-tempat wisata.

Namun, saat mengampanyekan program tersebut, Albert hanya menjelaskan program itu sebatas pengembangan wisata di sepanjang Sungai Musi. Tidak mengungkapkan tujuannya sebagai pusat perjudian internasional.

Jika Palembang menjadi pusat perjudian internasional, ungkap Albert, akan menjadi tempat teraman bagi para penjudi. Sebab, Palembang merupakan daerah yang aman dari berbagai bencana, seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, yang mengancam dan melanda sejumlah kawasan perjudian internasional di tempat lain di dunia.

Lokasi perjudian tersebut akan dipusatkan di atas kapal pesiar yang mengapung di Sungai Musi. Jumlah kapal pesiar ini tergantung dari para investor. Sementara perhotelan dan tempat hiburan akan dibangun di sepanjang Sungai Musi, terutama yang berada di Kota Palembang.

Guna melancarkan program tersebut, Albert Membara merangkul sejumlah akademisi, politisi, lembaga swadaya masyarakat, organisasi massa, sejumlah aparat keamanan dan pertahanan, tokoh masyarakat, serta para preman. Bagi Albert, mencegah lebih baik daripada mengatasi.

“Saya tahu program ini akan mendapat penentangan dari kelompok moralis. Tapi terus-terang, saya tidak menyangka atau memperhitungkan kelompok seniman. Setahu saya, seniman itu juga brengsek, munafik. Mereka kan juga suka mengonsumsi narkoba, seks bebas, tapi sering bicara soal nilai-nilai moral. Pikir saya, manusia seperti ini tidak akan dipercaya kelompok moralis itu. Saya salah perhitungan mengenai mereka,” kata Albert saat berdiskusi dengan Frans, seusai rapat di Café Terapung Dayang Merindu.

“Saya pikir, Pak Albert, ini satu pilihan cerdas yang dilakukan kelompok moralis. Mereka tahu para seniman ini memiliki kemampuan dalam menjalankan sebuah kampanye. Jadi, mereka memanfaatkan kelebihan para seniman. Ini kan sama saja seperti strategi organisasi-organisasi moralis yang merangkul para aktivis prodemokrasi, atau kelompok teroris yang merangkul anak-anak muda yang nakal atau frustrasi terhadap kehidupannya yang miskin,” ujar Frans.

“Para seniman ini saya percaya mengalami pencucian otak. Sebelum dirangkul, mereka ditekan dengan beban dosa-dosa sebagai seorang manusia. Mereka ditakuti dengan ancaman masuk neraka atas dosa-dosa tersebut. Selanjutnya, diberi berbagai cara buat menembus dosa-dosa itu, termasuk langkah-langkah pintas biar dapat masuk surga,” sambung Frans.
Albert menarik napas mendengar penjelasan Frans itu.

“Jadi?”

“Saya pikir, mereka tidak akan dapat ditaklukkan dengan uang atau benda-benda mewah. Mereka ini sudah termasuk kelompok garis keras. Satu-satunya cara cepat, yakni dengan membunuh mereka. Atau guna memperlemah dukungan terhadap mereka seperti adanya perlawanan dari bawah, kita menghidupkan kelompok-kelompok liberal seperti kita ini. Tapi, mereka ini jangan mengaku berhaluan liberal, sebut saja mereka sebagai pejuang demokrasi atau pejuang hak-hak dasar manusia. HAM. Mungkin langkah kedua ini jauh lebih aman. Kalau kita membunuh mereka, itu memang lebih bagus, tapi risikonya kemungkinan kita akan menghadapi opini negatif lainnya, seperti kasus kematian Munir, yang membuat pemerintahan di Jakarta terus disoroti pihak internasional.”

Albert tersenyum senang mendengar pemikiran Frans tersebut.

“Anda benar-benar cerdas. Terima kasih.”

“Tapi ingat, ya. Isu yang harus dimainkan juga harus sama. Jangan, misalnya, soal kebebasan seksual. Itu jelas akan medapat perlawanan dari masyarakat. Masyarakat Indonesia kan munafik. Mereka banyak berbuat dosa berdasarkan standar moral yang mereka yakini, tapi juga tidak setuju jika perbuatan dosa itu dilegalkan. Maka, isu yang menarik mungkin mengenai kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi atau karya seni. Cari saja kelompok agama lain yang bertentangan dengan mereka, termasuk para seniman yang berbeda selera dan pemikiran dengan mereka.”

“Mantap. Sungguh luar biasa. Semua saran Anda masuk akal. Saya akan menjalankannya,” kata Albert.

Frans Hartawijaya merupakan seorang dosen ekonomi di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Dia menyelesaikan pendidikan tingginya di Ohio dan London. Dia mendapat beasiswa dari dua perguruan tinggi di sana.

Sebelum pulang ke Indonesia, dia pernah bekerja di World Bank. Setelah bekerja selama 10 tahun di World Bank, dia kemudian dirangkul Green Money. Dia ditunjuk sebagai perwakilan atau pimpinan Green Money di Indonesia. Namun, identitasnya sebagai pemimpin perwakilan Green Money di Indonesia tidak boleh diketahui publik secara meluas. Green Money pun menunjuk pemimpin bonekanya di Indonesia. Bagi masyarakat Indonesia, Frans dikenal sebagai dosen, narasumber dalam berbagai seminar ekonomi, serta sebagai penulis lepas di sejumlah media massa. (*)

Komentar


Berita Terkait