Pemerintahan

Jangan Pisahkan Kami Dengan Saudara, Bangun Jalan Kami dari Sungai Keruh-Plakat

coba

20.09.2011 20:36:15 WIB

Pak Sidik, Ibu Marwiyah, Pak Latif serta Ricat Saragih pantas kesal. Sebab, apa yang sudah terjalin rapih lalu hilang, putus dan bikin susah. Keempat warga Desa Bukit Indah, Kecamataan Plakat Tinggi ini punya segudang masalah. Mereka yang mewakili masyarakat Plakat Tinggi mengadu ke Dodi Reza Alex dan Islan Hanura, pada Selasa, (20/09/2011) saat digelar kampanye dialogis di kecamatan ini.

Kata Sidik, warga Bukit Indah, Plakat Tinggi semula adalah warga asli Sungai Keruh yang ikut transmigarsi local pada tahun 1980. Awalnya tak ada masalah sebab pada masa Alex Noerdin sudah dibangunkan jalan poros antar kecamatan yang menghubungkan Kecamatan Plakat Tinggi dan Sungai Keruh. Maka hubungan kekeluargaan tetap terjalin akrab. Namun dua tahun belakangan jalan ini hancur dan tak dibenari. “Kami jadi tak bisa datang ke kondangan keluarga kami di Sungai keruh, tak dapat menengok keluarga yang sakit gara-gara jalan rusak tak dapat dilalui kendaraan. Kami ini warga Muba, ya jangan sampai hanya bikin sugih orang Sekayu tapi kami sare. Air bersih PAM tak ada. Listrik byarpet. Dan yang paling parah sampai sekedar cabe saja kami harus menunggu pasokan dari Sekayu. Nah jalan rusak begini beberapa bulan kami tak makan sambal,” terang Sidik.

Senada disampaikan oleh Marwiyah. Dia mengatakan bahwa anak sekolah masih memberatkan d=hidup warga. “Benar gratis tapi masih banyak sumbangan yang harus disetor. Seragam, topi, buku, wah pokoknya berat. Kalau Pak Dodi mau jadi Bupati Muba harus sekolah gratis sebenar-benarnya gratis. Maklum Pak kami memang tak mampu, lain dengan warga Muba lainnya yang sugih,” tuturnya.

Latif tak kalah pening. Akibat minimnya pembangunan di desanya, dia sampaai-sampaai tak tahu harus ngadu kepada siapa. “Kami orang kecil. Tahunya kerja buat makan. Sedikit dapat untuk keperluan sehari-hari. Namun jalan hancur, semua barang jadi mahal. Coba dibeneri siapa tahu kami pun dengan mudah mendapatkan kebutuhan sehari-hari sehingga hasil kerja tak hanya habis buat makan. Bisa menabung atau sedikit beli barang selain kbutuhan sehari-hari juga jadi keinginan kami,” paparnya.

Lantas, mengapa harus mengadu ke Dodi? “Saya sungguh mengerti keadaan bapak ibu sekalian dan warga di Bukit Indah ini. Secara pribadi saya telah beberapa kali lewat jalan ini. Saat itu malah sempat terhenti tak dapat melanjutkan. Maka berikutnya kami ratakan jalan secara pribadi. Sehingga dari Bukit Indah menuju Kramat jaya hingga Kerta Jaya dan Tebing Bulang tembus. Perbaikan tersebut kami lakukan secara mandiri dan darurat. Semoga bapak ibu berkenan dan setuju dengan program yang saya tawarkan dan pada tanggal 27 nanti mendukung kamai dengan mencoblos nomor satu. Kenapa? Agar pembangunan berjalan lebih baik dengan pergantian pemimpin yang lebih baik,” terang Dodi.

Lantas soal sekolah gratis dan berobat gratis Dodi pun menjawab dengan lebih cermat. Seperti telah disampaikan dalam misi dan visi serta debat public kandidat, sekolah gratis akan menyentuh hingga buku dan seragam sekolah yang gratis. “Selain itu, berobat gratis kita tingkatkana pelayanannya. Pasien miskin dan kaya tak boleh dibedakan,” tegas dia.

Soal kemandirian desa juga disinggung dan disampaikan dengan jernih oleh Islan Hanura. Menurutnya, dirinya bersama Dodi telah merancang program yang detil mengenai adanya kas desa berupa satu kebun satu desa dan satu miliar untuk satu desa. “Gunanya, kebun desa ini saat menghasilkan nanti dapat dipergunakan bagi keperluan pembangunan desa. Jadi disamping anggaran dari APBD warga tetap punya kas buat perbaikan kecil-kecil. Semuanya akan dibangun gratis oleh pemerintah. Sedangkan satu miliar satu desa bisa dipergunakan buat hal lains eperti tambahan tunjangan gaji P3N, gaji pengurus masjid dan lain-lain dengan pelaporan keuangan yang benar,” jelas Islan.

Komentar


Berita Terkait