28.01.2012 02:33:22 WIB
Oleh T. Wijaya
Pekerja seni
PALEMBANG merupakan kota tertua di Indonesia, sehingga Palembang memiliki sejarah kebudayaan yang panjang. Meskipun begitu, berdasarkan catatan sejarah yang direproduksi di Indonesia, Palembang tidak memiliki peranan penting dalam perkembangan sastra di Nusantara.
Indikatornya, baik di era perjuangan kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, serta era Reformasi, sedikit sekali aktor sastra dari Palembang yang tercatat, apalagi pembahasan yang mendalam terhadap karya-karyanya.
Saya heran dengan fakta ini. Saya merasa kondisi ini merupakan bagian dari upaya marginalisasi tradisi intelektual di Palembang yang sudah dilakukan bangsa Eropa di masa kolonialisasi.
Upaya marginalisasi itu seperti tercermin dari catatan Van Sevenhoven, seorang penguasa Belanda di Palembang pada masa itu. Seperti yang dituliskan Taufik Abdullah (1987: 202-203), “Van Sevenhoten sempat memuji keterampilan pribumi Palembang dalam kerajinan dan ketertiban memegang catatan perdagangan. Hanya dalam bidang sastra mereka terbelakang. Tidak ada orang yang seperti di Jawa yang dapat disebut terpelajar atau sastrawan.”
Catatan Van Sevenhoven itu diperkuat Thomas W. Arnold (1979: 324), yang menulis, “Islam masuk ke Palembang kira-kira tahun 1440, tetapi pengaruh Hinduisme tampaknya lebih berakar, hingga ikut menghambat gerakan penyebaran Islam. Sampai abad ke-19 umat Islam Palembang hanya sedikit yang memiliki pengetahuan keagamaannya, terbatas pada kulitnya, kecuali mereka yang orang-orang kota yang setiap hari dapat berhubungan dengan orang-orang Arab.”
Mengapa orang Eropa berupaya memarginalkan sejarah sastra di Palembang?
Pertama, asumsi saya, mereka ingin memadamkan spirit Raden Fatah—seorang pemimpin kerajaan Islam Demak di Jawa—yang memiliki pengaruh yang besar dalam perjuangan rakyat Nusantara melawan penjajah. Raden Fatah merupakan sosok yang cerdas, pemberani, dan memiliki pengetahuan agama yang luas, yang dilahirkan dan masa remajanya di Palembang.
Selanjutnya, Belanda ingin menutupi fakta jika Panglima Cheng Ho—seorang panglima muslim dari Tiongkok—menginjakkan kakinya beberapa kali di Palembang. Artinnya sangatlah mungkin para ulama atau intelektual muslim Tiongkok berdiam di Palembang, dan mengembangkan pemikirannya melalui karya sastra.
Jauh ke belakang, mencoba menutupi fakta bahwa penguasa Sriwijaya di Palembang sudah memiliki hubungan dengan para pemimpin Islam di Timur Tengah. Contohnya sebuah surat dari raja Sriwijaya bernama Sri Indrawarman kepada Kalifah Umar bin Abdul Azis dari kekhalifahan Ummayyah. pada tahun 100 Hijriyah (718 Masehi).
Isinya; "Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang isterinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari dua sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga 12 mil. Kepada Raja Arab yang tidak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku."
Nah, dengan upaya penghapusan fakta sejarah itu, diharapkan generasi baru di Palembang tidak tertarik pada dunia sastra atau intelektual, khususnya ilmu pengetahuan Islam.
Mulai Terbuka
Setelah reformasi, tabir sejarah sastra di Palembang, mulai terbuka. Para pekerja seni dan budaya, mulai melakukan berbagai penelitian di Palembang maupun di wilayah lain di Sumatera Selatan.
Penelitian terhadap sejumlah prasasti Sriwijaya, membuktikan bahwa seni sastra sangat mengakar di Palembang. Misalnya Prasasti Talangtuwo, sebuah prasasti yang berangka tahun 606 Saka atau 684 Masehi. Prasasti ini isinya tentang pembangunan sebuah taman yang luas, Srisetra, Bukit Siguntang oleh Raja Sriwijaya yakni Dapunta Hyang untuk rakyatnya.
Inilah sebagian isinya:
-svasti çrï çakavarsâtïta 606 dim dvitïya çuklapaksa vulan caitra sana tatkâlânya parlak çrïksetra ini niparvuat parvâ n dapunta hiyang çrï jayanâça mi pranidhânâm dapunta hiyang sava?yak?ya yang ditánam di sini ?yiyur pinang hanâu o ru mviya dngan samiçrânya yang kâyu nimâkan vuah?ya tathâpi haur vuluh pattung ityevamadi punarapi yang parlak vukan ((Svasti! Pada tahun Saka 606, pada hari ke-2 di bulan purnama caitra, inilah waktu Taman Sriksetra dibuat. Yang diberikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa sebagai suatu pemberian dengan pesan untuk menanam sebanyak mungkin pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan sebagainya dimana buahnya dapat dimakan, termasuk aur, buluh, betung, dan tanaman sejenisnya).
Beranjak dari teori budayawan Palembang Erwan Suryanegara bahwa Kerajaan Sriwijaya terbentuk atau lahir dari masyarakat Tradisi Megalitik Bukitbarisan Pasemah, bukan oleh para pendatang, maka pengenalan karya seni sastra di Palembang berlangsung sekitar 2.000 tahun Sebelum Masehi. Sebab menurut Sutrisman Dinah, seorang jurnalis dan pekerja budaya, yang melakukan beberapa kali ekspedisi budaya di Sumatera Selatan, begitu banyak simbol bahasa (sastra) yang tercermin dari bukti-bukti peninggalan Tradisi Megalitik Bukitbarisan Pasemah.
Selain itu Balai Bahasa Sumatera Selatan juga membuktikan begitu banyak karya sastra di Sumatera Selatan, yang masih bertahan di masyarakat Sumatera Selatan, baik dituturkan maupun ditulis.
Syair Perang Menteng
Selama Belanda bermitra bisnis dengan Kesultanan Palembang Darussalam, sebenarnya para sultan Palembang merupakan intelektual yang pandai menulis.
Menurut Prof. Dr. Jalaluddin dari IAIN Raden Fatah Palembang dalam tulisannya (2011), menyebutkan Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) adalah seorang sastrawan dan intelektual yang banyak menulis karya seni sastra. Dia memiliki sebuah perpustakaan yang besar dan lengkap. Karyanya antara lain Syair Nuri, Pantun Pelipur Lara, Nasib Seorang Kesatria Siqnor Kastro, serta Sejarah Raja Martalaya. Mengutip R.H. M. Akib, karya SMB II yang meninggal dunia dalam pengasingan di Ternate, tersebar hingga ke Malaysia dan Singapura.
Salah satu karya SMB II cukup terkenal yakni Syair Perang Menteng. Syair ini diperkirakan dibuat selama proses peperangan Kesultanan Palembang Darussalam melawan Belanda pada tahun 1819, yang mana kemenangan diraih Kesultanan Palembang Darussalam.
Pada masa itu ulama besar Palembang Abdul al-Samad al-Palimbani juga banyak menulis karya sastra, khususnya terkait tarekat Samaniah. Karyanya pun menyebar ke berbagai daerah, termasuk di Thailand dan Malaysia.
Adik kandung SMB II yakni Pangeran Bupati Panembahan Hamim, selain dikenal sebagai seorang perwira perang, juga seorang penulis karya sastra. Menurut seorang keturunannya, R.M. Nawawi, karya terkenal Panembahan Hamim yakni Patut Delapan. Isinya tentang perlawanan terhadap orang-orang kafir.
Kebangkitan Sastra Palembang?
Menurut Vebri Al-Lintani, sekretaris Dewan Kesenian Palembang, fakta sejarah sastra itu mulai diketahui para pekerja sastra di Palembang. Tak heran, saat ini begitu banyak karya sastra yang dilahirkan di Palembang yang isinya menggali nilai-nilai tradisi dan budaya Palembang yang selama ini termarginalkan. “Sayang ini tidak menarik perhatian pemerintah, media massa maupun penerbit nasional, yang mungkin masih berpikir seperti di era Orde Baru, yang tidak sadar dipengaruhi pemikiran kolonialisasi,” katanya.
Sejarawan Palembang Kemas Ari menjelaskan perkembangan sastra di Palembang akan mengalami kejayaan seperti di masa lalu. Menurut dia, jika semua kekayaan intelektual Palembang terungkap di masa kini, maka dia akan menjadi “spirit” kebangkitan kebudayaan Nusantara, bukan hanya seni sastra.
Sebagai penutup, saya kutipkan Syair Perang Menteng karya SMB II, yang naskahnya merupakan koleksi dari Kemas Andi Syarifuddin:
Jenderal kafir yang laknat
Meriam diisi peluru gurnat
Disangkanya benteng hancur dan lumat
Pelurunya jatuh tidak selamat. [*] [MEDIA INDONESIA, 28 Januari 2012]
