Internasional

Bawa Kampanye Antibatubara ke Bank Dunia

coba

24.09.2011 12:20:49 WIB

Oleh Amanda Wilson


WASHINGTON (IPS) – KETIKA para pemimpin Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), dua institusi keuangan terbesar di dunia, bertemu dalam rapat tahunan Selasa lalu, delegasi aktivis dari India menyerukan agar Bank Dunia menerima usulan mereka untuk memotong secara drastis pendanaan pembangkit listrik tenaga batubara.

Selama beberapa hari berikutnya, mereka akan melakukan perjalanan dari Washington ke West Virginia. Di jantung pegunungan Appalachian itu mereka bertemu dengan anggota masyarakat lokal yang menentang pemaprasan puncak gunung (mountaintop removal) untuk tambang batubara.

Mereka juga mengunjungi Gunung Kayford, Blair, Fayette County, dan Charleston di West Virginia.

Para aktivis berharap Bank Dunia segera mengeluarkan sebuah rancangan baru mengenai kebijakan energi tahun ini yang, jika disetujui, akan memangkas secara drastis pembiayaan bagi proyek batubara. Bila Bank Dunia, yang mengeluarkan milyaran dolar untuk pendanaan proyek pembangunan batubara di masa lalu, menarik diri, langkah ini dapat berdampak besar.

Pertumbuhan di India, seperti China, mendorong permintaan terhadap energi secara “rakus”, kata Shikha Bhatnagar, wakil direktur Pusat Asia Selatan di Atlantic Council.

Atlantic Council mensponsori diskusi panel Selasa lalu, bersama Sierra Club dan Bank Information Center, kelompok pemantau Bank Dunia, untuk mendiskusikan masa depan energi di India dan tantangannya sekaligus menjawab kritikan bahwa India sangat tergantung pada batubara.

Menurut Sierra Club, tahun lalu saja India menyetujui pembangunan 150 pembangkit listrik tenaga batubara dan berencana menambah 600 persen di seluruh pembangkit listrik selama dua dekade berikutnya.

Namun Ron Somers, ketua Dewan Bisnis AS-India, berkata India tak memiliki pertambangan batubara yang efisien, memaksanya mengimpor dari Indonesia, Australia, dan Afrika Selatan. Sementara India menghadapi peningkatan permintaan energi untuk memenuhi kebutuhan penduduk 1,2 milyar –54 persennya di bawah usia 25 tahun.

Dia berkata, warga India mengkonsumsi 700 kilowatt jam (kWh) per orang setiap tahun dibandingkan rerata penduduk AS, 14.000 jiwa, namun permintaan terus meningkat, begitu pula untuk teknologi baru seperti ponsel, yakni 10 juta dijual setiap bulan di India.

“Jika Anda bisa cepat beralih dalam hal telekomunikasi, bisakah kita beralih dari tenaga listrik batubara?” kata Somers. “Pada titik tertentu pemerintah akan mengatakan bahwa ‘ini (batubara) tak dapat diperbarui’.”

Para pengkritik batubara mengatakan tambang dan proyek pembangkit batubara memakan biaya tak terkira bagi masyarakat dan ekosistem yang memikul beban dampak lingkungan –dari India hingga AS.

“Tak ada satu pun negara yang tak meningkatkan PDB-nya tanpa polusi yang begitu banyak,” kata Soumya Dutta, anggota India People Science Forum, berbasis di New Delhi.

Pada 2009, tambang batubara dengan memampras puncak gunung menghancurkan 352,000 hektar dan 135 pegunungan di West Virginia, menurut studi Appalachian Voices. Aktivis masyarakat sipil hingga masyarakat yang menghadapi dampak lingkungan akibat pertambangan batubara, di AS maupun India, menyerukan penghentian proyek-proyek yang telah menghancurkan kualitas hidup, mencemari mataair, dan lanskap secara drastis.

Vaishali Patil, anggota delegasi dan aktivis dari daerah Konkan Coast di Maharashtra, Gujarat, mengorganisasi pemuda lokal dan kelompok masyarakat di daerahnya untuk melawan proyek pengembangan batubara. Organisasinya bernama “Ankur” –dalam bahasa Hindi “benih”.

“Ada keresahan yang luar biasa,” kata Patil merujuk dampak proyek tersebut terhadap masyarakat.

Proyek di Gujarat, menurut laporan terbaru “Coal Narratives: Voices from the Front Lines of the Global Struggle”, diterbitkan Sierra Club, dibarengi dengan “serangan gencar terkait pembebasan lahan, pemindahan penduduk, korupsi, dan intimidasi.”

Patil berkata, lokasi keanekaragaman hayati, tempat dia tinggal, berada dalam tubir kehancuran ekologis karena dampak proyek energi, termasuk 56 operasi pertambangan bijih besi yang sudah disetujui, direncanakan di Gunung Western Ghatt, dan 19 pembangkit listrik tenaga batubara jenis coal thermal dan tenaga nuklir.

Patil punya harapan atas perjalanannya ke West Virginia untuk bertemu dengan aktivis-aktivis AS.

“Saya ingin tahu apa strategi advokasi aktivis di sini,” kata Patil. “Saya ingin belajar dari mereka, membagi perjuangan kami untuk hak-hak komunitas, untuk sumberdaya alam, untuk menyelamatkan tanah dan laut –kami merasa perjuangan ini adalah demi kelangsungan hidup kita.”

Pada 24 September, delegasi India dan aktivis mountaintop removal AS akan ambil bagian dalam hari “Moving Planet” –suatu perayaan internasional yang diorganisasi kelompok mayarakat sipil dan pendukung energi alternatif bahan bakar fosil, bersama-sama di West Virginia. Perayaan ini juga digelar di India.*



Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Komentar


Berita Terkait