31.08.2009 07:18:32 WIB
Oleh MARWAAN MACAN-MAKAR
BANGKOK (IPS) – REPUTASI Thailand sebagai negara Asia Tenggara dengan UU antirokok yang kuat menghadapi tantangan langsung dari perusahaan tembakau multinasional, yang akan menggelar kongres dan pameran di sini November nanti.
Penyelenggara acara itu, yang disebut TABINFO Asia 2009, tak memberi alasan apapun mengapa Bangkok, ibukota Thailand, dipilih sebagai tempat ”pameran tembakau” di kawasan Asia-Pasifik.
“Kawasan Asia Pasifik tak luput dari kehancuran kredit global. Tapi pasar rokoknya tetap lebih menggebu dibandingkan di tempat lain,“ demikian terbitan niaga Tobacco Reporter dalam situswebnya. “Kawasan ini tetap salah satu tempat paling menjanjikan bagi pasar rokok.”
Para peserta akan disuguhi sebuah event –akan berlangsung 11-13 November– yang akan menampilkan “The Big Issues. The Big Players,” menurut situsweb konferensi itu. “(Ia akan menawarkan) beragam penyajian dari para pemain industri ini hingga naik-turun rantai persediaan. Banyaknya peserta membuat event ini harus diikuti untuk membuka jaringan, memamerkan, menemukan, membeli dan menjual.”
Peluang pasar empat negara di kawasan ini –Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand– jadi sorotan publikasi bisnis hingga soal peningkatan pecandu rokok selama pameran di Bangkok. “Dengan penjualan 231 miliar batang rokok pada 2007, Indonesia adalah pasar terbesar di Asia Tenggara, “ tulis Tobacco Reporter. “Indonesia juga pasar yang paling menjanjikan dalam hal nilai.”
Negara berkembang dipilih sebagai tempat acara bagi perusahaan rokok multinasional. Alasannya, pasar rokok di negara-negara maju kian menurun akibat sederet kebijakan pengendalian tembakau. Di sisi lain produsen rokok besar di dunia melihat negara-negara berkembang sebagai keberuntungan mereka.
Tren ini ditunjukkan oleh tempat industri rokok menggelar pertemuan dua tahunan sebelumnya. Pameran industri rokok 2007 di Sao Paulo, Brazil; pada 2005 di Kuala Lumpur, Malaysia; dan pada 2003 di Barcelona, Spanyol yang merupakan negara maju.
“Perubahan itu menunjukkan peluang pasar masih tersedia bagi perusahaan tembakau di negara-negara berkembang,” ujar Mary Assunta, ketua Framework Convention Alliance (FCA). “Ketika TABINFO digelar di Malaysia, mereka menganggap Asia sebagai ‘pasar yang tumbuh cepat’ di dunia dan melihat Kuala Lumpur sebagai ‘pintu gerbang’ Asia.”
FCA adalah jaringan dari 200 organisasi antirokok di seluruh dunia yang mengawasi Keranga Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau (FCTC), perjanjian kesehatan publik yang pertama di dunia dan mulai berlaku pada 2005. Perjanjian itu, yang diperjuangkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), bertujuan mengurangi angka kematian dan penyakit akibat produk-produk tembakau.
Perusahaan tembakau global memilih Bangkok sebagai tempat acara tahun ini untuk mencoba mempengaruhi Thailand, ujar Mary Assunta dalam wawancara via email dari Sydney. “Sebab, pemerintah Thailand sudah melakukan dan berhasil baik dalam pengendalian tembakau. Industri tembakau global jadi tertantang untuk mengambil langkah lebih keras,“ ujar Assunta. “Mereka mungkin hendak mengirim sebuah pesan kepada komunitas internasional bahwa mereka masih kuat dan berani pergi ke lingkungan yang keras dan menegangkan otot ini.”
Tugas Thailand Tobacco Monopoly, lembaga pemerintahan yang menikmati hampir 75 persen penguasaan pasar rokok, juga diragukan. Mereka malah mendukung acara pameran November nanti.
“Nyatanya, Thailand Tobacco Monopoly mendukung aktivitas ini, yang menunjukkan bahwa mereka meletakkan pemerintah Thailand dalam posisi kompromis,” ujar Bungthon Ritthiphakdee, direktur South-east Asia Tobacco Control Alliance. “Thailand masuk dalam Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau-WHO.”
Akibatnya, di satu sisi pemerintah Thailand tak bisa membuat kebijakan untuk mengurangi konsumsi tembakau sesuai kewajiban FCTC, di sisi lain harsu membantu meningkatkan konsumsi melalui pameran semacam ini, ujar Bunghton kepada IPS. “Ini bertentangan dan melanggar Pasal 5.3 FCTC.”
Pasal itu menyebutkan perlunya kebijakan yang melindungi publik dari pengaruh industri tembakau. Kebijakan FCTC –Thailand telah menandatanganinya– meliputi pembatasan segala bentuk iklan tembakau, perdagangan, sponsorship, dan promosi. FCTC berusaha keras melindungi orang dari paparan asap rokok, dan menyerukan pemuatan gambar grafis peringatan dalam bungkus rokok serta kebijakan pajak yang tinggi.
Jumlah tempat-tempat larangan merokok kian bertambah. Bar dan restoran ber-AC, pasar terbuka, dan bangunan publik seperti kantor pemerintah, stasiun kereta, dan rumah sakit masuk dalam daftar itu. 10 juta perokok di Thailand, dari total penduduk sebesar 65,5 juta jiwa, tak bisa menghisap rokok di tempat-tempat itu.
Thailand, seperti Brazil dan Kanada, juga memimpin dalam gerakan pengendalian tembakau di wilayah lain: gambar paru-paru yang rusak menutupi separo bungkus rokok. Untuk mengontrol penjualan, mereka tak hanya melarang segala bentuk iklan tembakau, tapi juga bungkus rokok tak boleh dipajang secara terbuka di toko-toko yang menjual rokok.
Langkah semacam itu menurunkan jumlah perokok di Thailand, dibandingkan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Kamboja, Indonesia, dan Filipina. Vienam berada dalam urutan teratas, dengan 73 persen laki-laki merokok. Lalu diikuti Kamboja dengan 70 persen laki-laki merokok dan Indonesia, yang wilayahnya luas dengan penduduk 220 juta jiwa, yang 70 persen laki-lakinya merokok.
Secara global, ada 1,3 miliar perokok, dan 600 juta orang akan meninggal karena berbagai penyakit akibat tembakau, ujar WHO.
“Kami berjuang mengawasi rokok di Thailand dan konferensi yang dijadwalkan November nanti akan jadi tantangan kami,” ujar Dr Prakit Vathesatogkit, sekretaris Action on Smoking and Health Foundation for Thailand, salah satu lembaga swadaya masyarakat yang peduli soal pengendalian tembakau.
“Kami mendengar bahwa penyelenggara konferensi ingin rokok diperbolehkan dalam arena pameran, yang jelas dilarang menurut UU di Thailand,” ujarnya.*
Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
* ) Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS.
Ilustrasi: www.bebasrokok.wordpress.com
