Pendidikan

Sobary Kritik Kampanye Antirokok

coba

24.07.2010 14:22:48 WIB

ADA tiga hal yang memprihatinkan budayawan Muhammad Sobary terhadap gerakan antirokok di Indonesia. Pertama tidak ada sikap independensi para intelektual dalam melakukan penelitian kesehatan terhadap para pengguna rokok, kemudian organisasi keagamaan dan pemerintahan yang dikendalikan para pebisnis kesehatan. "Padahal gerakan antirokok itu bukan semata untuk kesehatan, melainkan untuk melancarkan bisnis kesehatan," kata Sobary dalam diskusi buku "Nicotine War" di kampus IAIN Raden Fatah, Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Sabtu (25/7/2010).

Jadi, kata Sobary, kampanye antirokok itu menunjukkan bahwa Indonesia tetap dikendalikan oleh kekuatan asing. "Saat ini bukan hanya SDA yang dikuasai asing, juga makanan dan termasuk gaya hidup," katanya.

"Kalau penelitian itu dilakukan secara fair, dan memang rokok menyebabkan kesehatan manusia terganggu, ya, tidak apa-apa. Tapi kalau yang diteliti orang-orang tua perokok, kan harus dipertanyakan dulu. Apa betul kematian itu akibat rokok atau penyakit lainnya," ujarnya.

Diskusi ini selain dihadiri mahasiswa, juga para aktifis NGO, akademisi, dan pekerja seni. Dua pembicara lainnya yakni peneliti Sulaimuddin Daeng dan guru besar Universitas Sriwijaya Didik Susetyo.

Komentar


Berita Terkait