22.05.2011 16:29:20 WIB
Oleh Taufik Wijaya
DUA kali PSSI menggelar kongres, dan dua kali mengalami kegagalan. Apa yang salah? Seorang kawan mengatakan itu disebabkan panitia pelaksananya salah membaca doa atau berniat. Niat mereka terlalu mulia dan penuh kebaikan. Lo?
Seharusnya para panitia pelaksana itu berniat jelek. Misalnya menjadikan sepakbola sebagai alat para pemodal asing buat menguasai semua sumber daya manusia dan alam Indonesia. Selanjutnya menjadikan masyarakat sepakbola Indonesia sebagai ladang empuk bagi perjudian sepakbola. Atau, menjadikan PSSI sebagai pelindung klub-klub tempat pencucian uang dari pengusaha hitam asing dan Indonesia.
Sementara panitia pelaksana dua kali kongres PSSI itu, diyakini niatnya terlalu baik, misalnya menjadikan sepakbola sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia, dan sebagai sumber pendapatan rakyat miskin Indonesia.
Penilaian kawan saya itu cukup beralasan. Sebab jika kita simak perkembangan sepakbola di masa kekinian, sebenarnya sepakbola bertentangan dengan ajaran moral bangsa Indonesia. Sebab meskipun dinilai dapat melahirkan rasa nasionalisme, kerja tim, lapangan pekerjaan, pada kenyataannya sepakbola melahirkan beberapa fakta negatif. Misalnya setiap kali digelar pertandingan sepakbola di Indonesia, pasti akan ada perjudian, perkelahian, saling ejek, pencurian, mengonsumsi narkoba atau minuman keras. Selain itu, buat di beberapa daerah, pemerintahnya lebih banyak mengeluarkan biaya buat sepakbola dibandingkan membantu rakyat miskin. Contohnya di Sumatra Selatan, yang harus menyumbangkan dana Rp20 miliar buat Sriwijaya FC. Jika dana tersebut diberikan kepada para guru, dengan rata-rata bergaji Rp25 juta per tahun, maka 800 guru yang dihidupi selama setahun!
Jadi tak heran, misalnya para peserta Kongres PSSI pada 20 Mei 2011 kemarin, perilakunya tidak mencerminkan orang Indonesia yang dikenal santun. Atas nama demokrasi, para peserta ibarat sekumpulan manusia yang selama bertahun-tahun mulutnya diplester. Bahkan, meskipun mendapatkan kritik, mereka tetap bersikukuh dengan perilaku tersebut, dan tidak sedikit pun merasa bersalah atau malu.
Indonesia Bebas Sepakbola?
Beranjak dari pemikiran sederhana di atas, ada baiknya pemerintah maupun rakyat Indonesia harus membebaskan diri dari olahraga sepakbola. Alangkah mulianya, segala energi dan dana yang ada lebih baik digunakan buat membiayai proyek-proyek yang lebih mencerdaskan, seperti membiayai banyak penelitian dan publikasi produk budaya, yang jelas mendatangkan kepercayaan diri bangsa Indonesia.
Proyek lainnya yakni memberikan beasiswa kepada ribuan anak Indonesia yang cerdas. Yang mana mereka memiliki biaya guna memburu banyak ilmu pengetahuan ke berbagai negara asing, tanpa harus memberikan laporan ke pihak asing yang selama ini banyak membiayai manusia cerdas Indonesia. Atau, masih banyak lagi proyek-proyek yang lebih penting buat dibiayai dibandingkan sepakbola.
Mungkin, sepakbola baru akan berarti di Indonesia, setelah ekonomi rakyat Indonesia membaik, seperti halnya sepakbola di Inggris, Jerman, Spanyol, atau Italia.
Hari ini, mohon maaf, tampaknya Indonesia sebaiknya bebas dari sepakbola. *
*) Penulis pekerja seni dan jurnalis
