Budaya

Selamat Datang dari Bawah

coba

25.07.2010 21:34:07 WIB

pertunjukan tari fitri setyaningsih

selamat datang dari bawah
30, 31 Juli - 1 Agustus 2010

Pukul 19.30 wib

di Gudang iCan (Indonesia Contemporary Art Network)

Jl. Suryodiningratan no. 39

Yogyakarta

Pertunjukan tari ini, merupakan hasil kerja koregorafi yang melebar dan menjadi genting ketika kita mempertanyakan apa tari itu sendiri. Kerja koreografi melebar dalam pertemuan antara sebagian kisah Franz Schubert (seorang komponis Australia, 1797) yang melatih jari-jari tangannya dengan batu; pandangan Zen di sekitar pikiran yang terjebak dalam balok es; serta Bodyscape dari instalasi Titarubi. Ini jadi semacam dinding luar yang dibawa ke dalam dan mendapatkan lingkungan barunya antara tubuh dan ruang. Ruang dalam arti agresi jarak dan batas antara pengertian bawah dan atas. Dan tubuh dalam arti negosiasi antara motif-motif gerak dan pemaknaan yang mungkin untuk dilakukan. Sebuah pertunjukan yang melanjutkan pandangan Fitri bahwa tari tidak semata-mata peristiwa tubuh, lebih dari itu merupakan peristiwa media yang melibatkan banyak disiplin. Ini yang akan membawa tari kepada perubahan-perubahan yang berlangsung di sekitarnya. Pertunjukan selama 3 hari dengan nomor berbeda. Dilakukan dalam ruang kecil untuk keintiman jarak penonton. Pertunjukan ini bagian dari program Empowering Women Artists 2010 Yayasan Kelola

manager produksi: johan didik h. koreografi: fitri setyaningsih. penari: jamaluddin latif, maria yullita sari, m. nur qomaruddin, rendra bagus pamungkas, retno sayekti lawu, yuni wahyuning. lighting designer: ignatius sugiarto. costum designer: rifqi sukma. komponis/musisi: dwirima prabowo. direktur artistik: titarubi. stage manager: agustinus dimas tatag. pengembangan wacana: antariksa, m. zamzam fauzanafi

dramaturgi: afrizal malna.

konsep pertunjukan

pertunjukan ini lebih merupakan instalasi tari dalam proses terjadinya mutasi-mutasi gerak dan negosiasi tubuh dengan lantai tempatnya berpijak. berangkat dari eksplorasi dengan mengarahkan naluri-naluri ke bawah, ke dasar. kita selalu berjalan di atas, naluri melakukan negosiasi hampir ke atas. kini dibawa ke bawah, eksplorasi membayangkan sesuatu di bawah lantai: dataran di bawah dataran, terus turun ke bawah. tubuh ikut turun, terus menjadi terbalik, gerak tidak mengikuti posisi anatomi lagi. anatomi jadi bagian dari lantai, tubuh hanya menjaga rasa dan aliran iramanya. Pertunjukan tari ini seperti pertunjukan hubungan mistik antara tubuh dengan dataran.
Pertunjukan hari pertama: lubang cahaya bernapas

jari-jari memainkan berat batu (pesan dari franz schubert). garis-garis pelangi yang lurus, antara batu dan jari-jari. tubuh tidak lagi dalam posisi normal di bawah kekuasaan kepala dan pikiran, melihat batas langit dan kaki menginjak bumi, merengkuh diri, perputaran, berjalan mengiris ruangan, tangan yang menggergaji udara, seperti kulit yang terkena duri, menembus diri masing-masing. kepala menjadi bola dinding, telapak kaki menyapa telapak kaki, berdiri dalam kemiringan yang terjaga. kepala masuk ke dalam lantai, dan kaki dibawa ke dalam dada. ayunan ayunan kaki di udara. tubuh tengkurap yang berjarak dengan lantai, melakukan perjalanan terus. rambut untuk menyikat wajah. cahaya udara membawanya menggeser tubuh.

pertunjukan hari kedua: dataran yang terus ke dasar

di atas tangan ada balok es. suara dari satu tangan (pesan dari zen). waktu menjadi padat dan perlahan mencair. seolah-olah tubuh dan pikiran terjebak dalam balok es. tubuh mengikuti balok es yang turun, perlahan dicium, perlahan dipeluk, perlahan dibopong, perlahan direngkuh dan perlahan ditidurkan. jari-jari mengambil butiran dari air es yang dibawa ke mata kita, naik turun, membuat jeruji imaji antara jarak mata, balok es, ruang kosong dan tubuh kita. tubuh saling bertabrakan, muka-muka seperti jemuran, siku membuat jalan, dengkul yang membawa angin saling menoleh. tubuh yang ditidurkan, tidur yang diseret dan menyeret, tarikan tangan ke atas atau ke bawah. tubuh yang berjalan miring di samping lantai. tidur miring yang me-nembus lantai, dijatuhkan. kepala dijadikan alas tubuh seperti kesetan untuk membersihkan kaki kita yang kotor.

pertunjukan hari ketiga: penyusup dalam tubuh

kentang-kentang dari dalam tanah datang ke lantai. tubuh berada di dalam. mantel mantel bernyanyi, dan bentuk-bentuk imaji di luar. seperti bungkusan bentuk kelahiran (pesan dari udara). ada stupa, batu, lubang-lubang toilet/wc, mumi, kibasan tidur, bongkahan, piramid, gelembung udara, lipatan, uwek-uwek, jemuran jatuh, klumbruk, tingil-tingil, mengecil membesar, pendek tinggi, mendekat jauh, dibalik, keringat yang menempel, sumpek, bau, telapak kaki jadi muka, tangan jadi mulut, kepala jadi pantat, pantat jadi perut, tekukan-tekukan, ketat, garis. setiap mau bergerak diam dulu, udug udug idig idig ... mati sesaat. suara-suara dari dalam. baru memulai gerak lagi. seperti membuat rumah dalam tubuh kita. gerak-gerak tidak teridentifikasi sebagai bentuk manusia alami. instalasi titarubi, body's scape membawa agresi atas-bawah terhadap tubuh dan ruang. udara yang masuk dari bawah dan dari atas atau dari mana-mana.

Komentar


Berita Terkait