Sastra

Mati atau Hidup Sebagai Anak Ibu

coba

25.01.2012 04:02:08 WIB

Cerita T.WIJAYA

Malam itu, 22 April 2012, dia menjadi orang yang paling terkenal di seluruh dunia. Saat pulang ke rumah dia bukan hanya seorang pengamen, yang sering dilihat banyak orang di setiap bus kota. Dia telah mendapatkan mimpi yang dipupuknya sejak kecil.

“Ibu, aku telah merobohkan Jembatan Ampera,” katanya.

Sang ibu tersenyum. Dielus kepala anak keduanya itu.

“Jika dia masih hidup, bapakmu pasti sangat bangga.”

Dia tersenyum bangga. Lampu neon 25 watt yang tergantung di kamar ibunya berkedip. Dia terus tersenyum di hadapan sang ibu yang sudah sepuluh tahun terbaring di dipan. Kedua tangan dan kakinya lumpuh.

Di luar rumah, seribuan orang menunggunya. Mereka membawa beragam senjata tajam.

Tahun 1960 hingga 1962, bapaknya memimpin rakyat Palembang menolak pembangunan Jembatan Ampera. Mereka menolak pembangunan jembatan tersebut, sebab pembiayaan pembangunan jembatan yang dikatakan hasil sumbangan pemerintah Jepang, tidaklah benar. Pemerintah Jepang hanya membantu dengan mendatangkan para tenaga ahli dan peralatan dalam pembangunan jembatan tersebut. Mereka yakin dananya hasil dari penjualan benda-benda berharga, peninggalan Kerajaan Palembang, yang ditemukan saat pembongkaran dan penggalian di Kuto Gawang, buat lokasi PT Pupuk Sriwidjaja.

Dana hasil penjualan benda-benda purba itu, seperti arca emas, keris emas, serta benda berharga lainnya, yang dilangsungkan di London, selain buat pembangunan Jembatan Ampera juga pembangunan Monumen Nasional (Monas) dan Stadion Istora Senayan di Jakarta.

Bapaknya menolak dana dari penjualan benda-benda purbakala tersebut hanya digunakan buat membangun sejumlah proyek mercusuar-nya Bung Karno. “Rakyat Palembang kelaparan. Rakyat Indonesia kelaparan. Kenapa dana sebanyak itu tidak dibagikan kepada rakyat, agar mereka memiliki modal buat memperbaiki hidup,” kata bapaknya.

Setelah melakukan sejumlah aksi di Palembang, bapaknya bersama teman-temannya melakukan aksi ke Istana Negara di Jakarta. Tak ada bentrokan dengan aparat keamanan saat mereka melakukan aksi. Namun dalam perjalanan pulang ke Palembang, bapaknya terjatuh dari kapal saat menyeberangi Selat Sunda. Tak ada saksi bagaimana bapaknya terjatuh. Yang jelas, ketika teman-temannya tengah makan di kantin, dia pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, mereka mendapatkan kabar ada seorang lelaki terjatuh dari kapal.

“Nang, sekali lagi ibu sangat bangga padamu.”

Orang-orang di luar rumah sudah tidak sabar menunggunya keluar. Mereka berteriak sambil mengacungkan parang, tombak, dan pedang.

“Bagaimana kau merobohkan Jembatan Ampera?”

Dia menceritakan. Setiap kali pulang dari mengamen. Dia membeli sebungkus cuka para dengan temannya yang bekerja di toko kimia di kawasan Pasar Cinde. Cuka para ini kemudian dia siramkan di setiap sudut Jembatan Ampera, terutama di dekat kaki jembatan. Penyiraman cuka para itu dilakukannya selama tiga tahun. Selanjutnya selama lima tahun dia membuka setiap baut di jembatan tersebut.

“Tidak selalu lancar saat membuka baut. Terkadang satu baut harus dibuka selama sebulan, karena berkarat atau menghindar dari penglihatan orang,” katanya.

Agar tidak dicurigai, sehabis mengamen, dia pun menjadi seorang pengemis yang mangkal di tangga naik Jembatan Ampera. Saat jembatan terlihat sepi, dia pun melakukan aksi membuka baut.

“Kapan robohnya?”

“Dua hari lalu. Sekitar pukul 03.00 dini hari. Hanya beberapa orang yang mati. Itu pun sebagian para banci yang mau pulang ke rumah. Hari ini aku jumpa pers, mengakui kalau robohnya jembatan itu karena perbuatanku.”

“Bagus.”

“Ya, Bu. Aku tidak mau orang yang tidak bersalah akan ditahan polisi. Aku pun tidak mau para teroris yang mendapatkan nama.”

Ibunya kembali tersenyum.

Orang-orang terus berteriak. Kini mereka melempari kaca rumah.

“Cepat temui mereka. Mati atau hidup sebagai anak ibu. Percayalah, tidak ada benda yang abadi di dunia ini, yang abadi itu hanya keyakinan.”

Dia pun meninggalkan ibunya di kamar. Baru selangkah keluar dari pintu rumahnya, ratusan orang langsung menyerang dengan berbagai senjata tajam. Membacok dan menusuk tubuhnya. Dia tersenyum.

SETELAH kematiannya, seperti biasanya, dia membangunkan malam. Katanya, akulah pembelah langit dan menjadikan pagi harimu semacam ketakutan yang tak mampu dijawab dengan kesombongan dan mimpimu menjadi yang terbaik dan terkuat di tanahku, di lautku, di langitku.

Seseorang terdiam. Seseorang yang hina, kalah, yang terombang-ambing dalam kisah masa lalunya di tepi Sungai Musi, merayap menemui perahu. Perahu dibakarnya. Berharap ada cahaya di tengah malam.

Orang-orang terbangun. Mereka menari meskipun tak ada lagi Jembatan Ampera. Mereka menyambut cahaya dengan bulan yang sembunyi.

Ada yang muncul dari dalam air. Dia memadamkan api yang membakar perahu. Dia pun berdiri di atas air. Katanya, seseorang yang merasa dirinya ada, sesungguhnya tidak ada. Sebab ada tidak dapat dimiliki oleh seseorang. Seseorang hanya menutupi kekurangannya, yang setiap napasnya akan melahirkan sejuta kekurangan. Makanya, seseorang disebut manusia.

Orang-orang terdiam. Kembali ke rumah masing-masing. Hanya sebagian memiliki rumah batu. Lainnya memburu kasur di petak-petak kamar di kolong rumah panggung kayu. Tak ada seseorang. (*)

Komentar


Berita Terkait