Internasional

Kerjasama India-Uni Eropa Ancam Akses Obat Generik

coba

21.12.2010 12:17:25 WIB

Oleh Irwin Loy

PHNOM PENH (IPS) – SETIAP hari, dua kali sehari, selama tujuh tahun terakhir Men Thol menelan sejumlah butir pil yang memberinya kekuatan untuk menjalani hidup normal.

Pria berusia 39 tahun ini postif HIV pada pertengahan 1990-an. Mulanya, dia bergantung pada obat-obatan tradisional –biasanya memakai ramuan akar pohon yang dicampur sayuran dan direbus dalam kaldu ayam.

”Tak pernah membantu,” katanya. ”Malah buruk sekali. Saya selalu membutuhkan seseorang untuk membantu saya melakukan sesuatu.”

Kesehatannya kian memburuk. Dalam setahun, ruam bermunculan di sekujur kulitnya dan dia bertambah lemah. Akhirnya pada 2003, Men mendapat resep dokter berupa obat antiretroviral (ARV), yang dipakai guna mengendalikan HIV. Kondisinya stabil dan sejak itu dia mendapatkan pekerjaan tetap dan hidup mandiri.

”Kehidupan saya lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya. ”Saya memiliki energi dan kesehatan saya membaik. Sekarang saya dapat menolong keluarga saya, bukan sebaliknya.”

Men ialah satu dari sekira 40.000 orang yang hidup dengan HIV di Kamboja yang hidupnya terselamatkan oleh pengobatan ARV.

Namun, kelompok advokasi kesehatan kini mewanti-wanti kesepakatan kerjasama yang tertunda antara Uni Eropa dan India –pemasok utama ARV ke negara berkembang– bisa berdampak buruk bagi orang-orang yang paling membutuhkan obat-obatan tersebut.

Uni Eropa dan India sedang menegosiasikan kerjasama perdagangan bebas. Namun para aktivis kuatir bahwa perjanjian itu akan memasukkan pembatasan atas hak kekayaan intelektual yang, jika diberlakukan, akan membatasi akses terhadap obat-obatan HIV karena membuatnya lebih sulit dan lebih mahal bagi perusahaan-perusahaan India untuk memproduksi obat generik.

Ini bukanlah isu kecil di Kamboja, negara dengan lebih dari 90 persen penggunaan ARV yang diproduksi di India, menurut Heng Phin, manajer program dari Cambodian People Living with HIV/AIDS Network, sebuah kelompok advokasi.

”Ini akan berdampak besar bagi orang yang hidup dengan HIV di Kamboja,” ujar Heng. ”Di Kamboja, kita tak dapat memproduksi obat ARV. Kita bergantung pada komunitas global dan negara-negara maju.”

Data statistik menunjukkan, Kamboja telah mengambil langkah-langkah signifikan dalam mengurangi tingkat penyebaran HIV dan mendorong penggunaan ARV dalam 10 tahun terakhir.

Tingkat penyebaran untuk penduduk dewasa telah menyusut dari puncaknya pada 1998 sebesar 2 persen menjadi sekira 0,7 persen tahun ini, menurut laporan National Aids Authority (NAA).

Jumlah orang yang menerima pengobatan ARV meledak dalam periode yang sama. Hanya ada 71 pasien yang dirawat pada 2001, menurut NAA. Angka ini melampaui 40.000 pada pertengahan 2010, yang mencakup sekira 86 persen penduduk yang membutuhkan akses terhadap pengobatan tersebut.

Para aktivis mengatakan, bukan kebetulan selama kurun itu, harga ARV turun berkat obat generik yang diproduksi di India.

”Pada 2000, harganya 10.000 dolar AS per orang untuk pengobatan ARV selama setahun. Tapi sekarang telah turun drastis menjadi 80 dolar per orang,” kata Heng.

”Jika Anda berpikir banyak warga di Kamboja berpenghasilan kurang dari satu dolar per hari, Anda bisa menilai mengapa kami bergantung pada obat generik dari India. Jika harganya terlalu mahal, pemerintah tak bisa membelinya,” dia menambahkan.

Kamboja hanyalah satu dari banyak negara yang prihatin atas perundingan perdagangan bebas.

Kelompok Médecins sans Frontières (MSF) mengatakan mereka bergantung pada obat generik murah guna merawat pasien di 60 negara dan 80 persen obat-obatan HIV yang mereka gunakan berasal dari India.

Sebuah laporan yang dirilis Oktober lalu oleh Oxfam International dan Health Action International menuduh Uni Eropa menerapkan “standar ganda” dengan berjuang memotong harga obat bagi warga Eropa, tapi melakukan sebaliknya bagi orang yang hidup dengan HIV di negara-negara berkembang.

”Uni Eropa menolak sejumlah kebijakan (kekayaan intelektual) yang akan mendukung kepentingan bisnis industri farmasi, sementara merusak kesempatan untuk inovasi dan akses obat-obatan di negara-negara berkembang,” tulis laporan tersebut.

Tapi, Uni Eropa menyatakan, perjanjian perdagangan bebas takkan ditujukan untuk mempengaruhi kemampuan India mengekspor obat-obatan yang menyelamatkan jiwa.

Dalam sebuah surat kepada MSF pada 2010, Karel De Gucht, komisaris urusan perdagangan Uni Eropa, mengatakan bahwa Komisi Eropa “berkomitmen penuh untuk memastikan penduduk di negara-negara termiskin di dunia dapat mengakses obat-obatan yang layak.”

Dia berkata, rincian mengenai hak dan data paten secara eksklusif masih dalam negosiasi, tapi Komisi Eropa “siap menunjukkan fleksibiltas yang diperlukan” selama pembahasan. “Saya ingin mengatakan dengan sangat jelas bahwa tak ada dalam perjanjian ini yang akan menghalangi India dari penggunaan lisensi wajib untuk memproduksi dan mengekspor obat-obatan yang menyelamatkan jiwa ke negara-negara berkembang yang membutuhkan,” tulis De Gucht.

Namun dalam sebuah pernyataan bulan Desember, Anand Grover, pelapor khusus PBB urusan hak-hak kesehatan, memperingatkan kemungkinan kerjasama perdagangan itu “mengancam” produksi obat-obatan yang menyelamatkan jiwa.

Kesepakatan perdagangan bebas dalam bentuk sekarang –Grover mengacu “teks yang bocor” dari sebuah draft perdagangan bebas– akan memastikan produksi obat generik di India akan “sangat terganggu”, ujarnya.

”Jutaan penduduk di negara berkembang bergantung pada India untuk obat generik dengan harga terjangkau,” ujar Grover. ”Pembatasan produksi obat generik di India akan berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia dan berdampak merugikan bagi hak-hak kesehatan jutaan pasien.”

Para pejabat Komisi Eropa dan India mengatakan, mereka berharap dapat menyelesaikan perjanjian ini pada musim semi 2011.

Pada waktu bersamaan, orang macam Heng Phin di Kamboja kuatir terhadap efek domino dari apapun hasil kesepakatan yang tertunda ini.

Dia juga positif HIV. Dan dia ingat bagaimana pengobatan ARV mengubah hidupnya dalam beberapa tahun lalu.

“Saya sangat susah,” ujar Heng, mengenang. ”Saya benar-benar hidup dalam kondisi susah. Kesehatan saya sangat buruk. Namun sesudah saya mendapat ARV, kesehatan saya mulai membaik. Saya dapat bekerja lagi.”

Heng berujar: ”ARV ialah obat mujarab. Ia seperti dewa penolong yang membantu orang seperti saya. ARV menyerang virus hingga kesehatan saya membaik. Sekarang saya makan dengan baik. Saya dapat melakukan apapun.” *



Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS

Foto: grain.org

Komentar


Berita Terkait