23.12.2011 02:45:57 WIB
Oleh Dewa Dewi
SELAIN Koko Bae, Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) juga akan memberikan Anugerah Batanghari Sembilan kepada B. Yass atau yang lebih dikenal sebagai Baharuddin Yassin Simbolon, seorang pengarang Indonesia yang banyak melahirkan karyanya di Palembang.
“B. Yass diberikan penghargaan di bidang pembinaan seni dan budaya,” kata Muhaimin, selaku Ketua Panitia Refleksi Seni dan Anugerah Batanghari Sembilan 2011 di Palembang, Kamis (22/12/2011).
Penghargaan sendiri akan diberikan Gubernur Sumsel Alex Noerdin di Hotel Swarna Dwipa, Jalan Tasik, Palembang, Jumat (23/12/2011) malam.
Dikutip dari situs Pusat Bahasa, dituliskan di kalangan sastrawan Sumatera Selatan, B. Yass sangat disegani karena berbagai kiprahnya dalam dunia jurnalistik dan sastra sangat menonjol.
B. Yass dilahirkan pada tahun 1929, di Kampung Huta Padang, Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, dari pasangan Mohammad Yassin Simbolon dan Siti Mian Boru Manurung. Kedua orang tua B. Yass berasal dari daerah yang sama, yaitu Huta Padang, Kisaran, Sumatera Utara.
Dari usia muda, B. Yass sudah melakukan perjalanan panjang ke berbagai daerah yang akhirnya ia kembali berada di Sumatera Selatan. Ia menikahi seorang wanita yang berasal dari Sumatera Selatan. Dari perkawinannya itu, B. Yass dikarunia enam orang anak.
Pendidikan dasar dan menengah ditempuh B. Yass di tanah kelahirannya. Setelah Sekolah Rakyat Huta Padang pada tahun 1939, B. Yass melanjutkan ke Sekolah Rakyat Sambungan Tanjung Balai, Asahan, dan tamat pada tahun 1942. Ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah Jepang Nitti Go Gakko (setingkat SMP) pada tahun 1945 di Tanjung Balai, Asahan. Ia belajar di sekolah tersebut sampai kelas dua karena sekolah tersebut ditutup. Penutupan sekolah Nitti Go Gakko berkaitan dengan kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik.
Setelah keluar dari sekolah Nitti Go Gakko, B. Yass bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) hingga tahun 1950. Dalam karier kemiliterannya, B. Yass sempat mencapai pangkat terakhir Sersan Kelas I TNI dengan jabatan Wakil Kepala Siasat Perang Komando Bataliyon I Resimen III Brigade XII Komando Sumatera. Jabatan tersebut diemban B. Yass selama bertahun-tahun. Ia pun sempat bertugas di beberapa kota di Pulau Sumatera. Pada tahun 1950, B. Yass mengakhiri karier kemiliterannya.
Pada waktu aktif di TKR, B. Yass ikut berjuang bersama rakyat dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam suatu kontak senjata dengan tentara Belanda di benteng Titi Bambu, Tanjungmorawa, Medan, B. Yass terkena peluru yang melukai tangan kiri dan kepala bagian atas. Tidak lama berselang, dia berhenti dari dinas kemiliteran. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, akhirnya B. Yass merantau. Daerah tujuan perantauannya, antara lain Palembang, Sumatera Selatan. Bakat dan kemampuan menulis B. Yass membawanya terjun ke dunia jurnalistik. Ia bekerja sebagai wartawan di beberapa media di kota Pelembang. Kemampuan B. Yass dalam tulis-menulis berdampak positif pada karier kewartawanannya. Baru beberapa saat menggeluti dunia jurnalistik, B. Yass diangkat menjadi Pemimpin Redaksi Mingguan Ria Palembang (1956—1958). Selain itu, ia juga bekerja sebagai wartawan di PIA Sumatera Selatan.
Pada tahun 1966—1984, B. Yass menjadi wartawan dan Kepala Cabang Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Cabang Palembang. Ia menjadi Pemimpin Redaksi Mingguan Angkatan 45 Palembang pada tahun 1985—1990. B. Yass juga aktif ke dunia politik menjadi anggota DPRD Kotamadya Palembang.
Aktivitas menulis mulai digeluti B. Yass pada tahun 1950-an. Pada era 1950-an itu, nama B. Yass sudah mulai menghiasi khazanah sastra Indonesia. Karya B. Yass mewarnai beberapa koran dan majalah, seperti Duta Masyarakat dan Minggu Pagi. Novelnya yang berjudul Asan, Datangnya Sang Ayah, dan Diantara Suhada dimuat dalam Minggu Pagi. Di samping itu, banyak juga karya B. Yass yang dimuat dalamKisah. Salah satu cerpen B. Yass yang berjudul Harapannya di Air Laut dimuat oleh H.B. Jassin dalam antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi setelah terlebih dahulu dimuat dalam Kisah Nomor 6, 1963.
Kreativitas B. Yass semakin terlihat ketika ia bekerja sebagai wartawan di Palembang. Ia menulis beragam genre sastra, seperti cerita pendek, drama, novel, cerita sejarah, dan dongeng. Karya B. Yass banyak dimuat di berbagai media massa, antara lain Gembira, Sastra, Horison, Roman, Konco, Indonesia, Gelanggang, danGema Islam. Akan tetapi, B. Yass tidak ingat lagi berapa jumlah karya yang telah ditulisnya. Tentang hal itu, ada dua pemberitaan tentang dunia kreatif B. Yass yang dimuat dalam dua media dari dua kurun yang berbeda. Koran Minggu Pagi, edisi 7 Agustus 1966, memaparkan kreativitas B. Yass dengan menggambarkan sosok B. Yass sebagai penulis produktif. Menurut media itu, B. Yass telah menghasilkan puluhan, bahkan ratusan cerita pendek yang dimuat di media massa.
Selanjutnya, Kompas edisi Januari 1996 mengemukakan jumlah karya B. Yass lebih spesifik. Menurut Kompas, hingga penghujung tahun 1980-an, B. Yass telah menghasilkan 252 dan 5 novel yang telah dipublikasikan. Alasan kecintaan B. Yass dalam menulis adalah semata-mata karena imbauan jiwa. Bagi dia, menulis merupakan panggilan jiwa yang digelutinya dengan perasaan cinta. Akan tetapi, menulis juga dapat memberikan sesuatu pada kehidupan B. Yass.
Ruang kerja B. Yass ada di alam terbuka. Ia mampu menulis di sembarang tempat dan di segala waktu. Ia akan menulis di warung kopi, di trotoar jalan, di bangku taman kota, dan di kamar kontrakannya jika mendapat ilham di tempat tersebut. Yang menarik karena B. Yass langsung mengirimkan naskah tulisan tangannya itu ke media massa. Ia baru mengetahui naskahnya dimuat jika sudah menerima wesel dari pemuat. Honorarium yang diterimanya itu digunakan untuk membiayai hidup dan membeli alat tulis guna menghasilkan karya selanjutnya. Sampai pada penghujung tahun 1995, B. Yass sudah menerima kiriman 232 wesel dari surat kabar yang memuat karyanya.
Kiprahnya dalam dunia sastra serasa bukan menjadi ukuran karena di akhir hayatnya B. Yass lebih memilih hidup di Jakarta. Bahkan, ia menghembuskan napas terakhir di Jakarta dan dimakamkan di Palembang. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tahun 2003 dan jenazahnya dikebumikan di Palembang.
a. Cerita Pendek
1. Halimah Srikandi (1962)
2. Minah Gadis Peladang (1964)
3. Di Lereng Bukit (1994)
b. Novel Kelok Lima (Grasindo, 2002)
