Ekonomi

Soleh, Sang Pengangkut Pasir

coba

07.11.2009 03:21:13 WIB

Oleh A.LATIF

MESKIPUN usianya tidak muda lagi, 50 tahun, kedua tangan dan bahunya tampak kuat mengangkut dan memanggul pasir. Wajahnya terus mengumbar senyum, meskipun teriknya matahari membuat keringat bercucuran di wajah dan sekujur tubuhnya.

Ada ratusan kali dia meniti jembatan berupa sekeping kayu, yang menghubungkan kapal ponton dengan depot pasir. Bunyi ayunan pasir yang dibawa seirama injakan kakinya ke jembatan itu.

Guna melindungi dirinya, Soleh hanya mengenakan topi berwarna coklat dan sehelai ikat kepala berwarna hijau.

“Pekerjaan itu disenangi dulu, pasti terasa ringan,” kata bapak lima anak bernama Soleh ini.
Sebelum menjadi kuli atau buruh lepas pengangkut pasir di 15 Ilir, Soleh sebagai petani di kampungnya, Ogan Ilir. Tapi lantaran pendapatan kecil sebagai petani, tahun 2003, dia bersama keluarganya merantau ke Palembang sebagai buruh angkut pasir.

Bersama istri dan lima anaknya, di Kelurahan 26 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, RT 20, RW 06, Gang Rakyat No 17, Palembang.

Setiap kali mengangkut pasir Soleh dapat menghasilkan uang Rp100 ribu untuk satu kapal ponton yang berisi pasir.

Menurut Soleh dalam satu kapal ponton biaya angkutnya ke depot pasir sebesar Rp1,2 juta. Nah, satu kapal ponton yang mengangkut pasir, biasanya menggunakan 12 buruh angkut. “Tapi terkadang lebih buruh angkutnya. Ya, bagi rejeki dengan kawan-kawan,” katanya.

Pasir yang diangkutnya itu didatangkan dari Desa Pulokerto, Kecamatan Gandus, Palembang, atau daerah pinggiran kota Palembang bagian barat.

“Setiap hari seringnya satu kapal ponton pasir kami angkut, tapi terkadang dua kapal ponton,” katanya.

Komentar


Berita Terkait